TCT #1 Keping Keabadian

Seribu bulan terbit di malam tanpa bintang. Kemilau cahayanya bagaikan pelangi, menyinari tanah suci yang dihuni oleh ratusan juta–tidak, miliyaran penduduk dari berbagai ras. Keheningan malam mencipta di antara dekut etofa serta desau angin tiada henti. Bagaikan sedap malam yang berkembang di saat kesenyapan lahir, tanah suci itu berpendar kemerah-merahan akibat genangan pekat sekaligus anyir yang membanjiri permukaan tanah.

Perang besar tengah terjadi.

Untuk kesekian kalinya, semesta Astrola digempur oleh perang. Tanah suci yang berada di dekat inti kehidupan tersebut memang selalu menjadi mangsa empuk bagi semesta-semesta lain. Dan itu adalah hal biasa baginya, Ravine Eire, Erst Chevalien dari semesta Astrola. Tetapi, bayaran dari perang kali ini terlalu mahal.

Kekasihnya mati.

Dirundung kesedihan selama 600 tahun setelahnya, yang berada di pikiran Ravine hanyalah kematian. Dia ingin terlepas dari tangan-tangan keabadian. Namun, keinginannya itu terpaksa kandas ketika sepucuk surat hadir dari hadapannya. Surat dari kekasihnya yang seharusnya sudah tiada. Geram, perempuan itu pun mencari pengirim surat celaka itu, hanya untuk dihadapkan dengan kenyataan yang tidak pernah dia ketahui.

Fragmen Pertama: Dia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s