Broken

Di tengah angin yang membawa kerinduan diam-diam, dia memandang sosok itu. Seorang gadis dengan rambut sehitam jelaga yang membingkai indah wajahnya.

Termenung, dia menelusuri lekuk-lekuk wajah manis penuh asa itu. Gadis mungil yang manis, adalah kesan pertama yang dia tangkap saat dia melihat gadis itu, beberapa tahun silam. Namun dia tahu, ada lebih dari kemanisan indah yang dikandung sosok itu.

“Ga, Yoga.”

Suara itu memanggilnya, membuatnya menoleh ke arah gadis yang sedari tadi mencuri perhatiannya dari dunia. Sepasang mata coklat bagai batang pohon itu berkilau dalam harapan yang nyaris mati; terselubung dalam asap tipis sarat nikotin yang berhembus dari bibir penuh godaan padanya.

“Hmm?” Tanyanya dalam gumaman waktu. Menatap dalam kepada jiwa yang meronta pada diri gadis itu. Dilihatnya gadis itu tersenyum simpul, bercahaya di bawah sorotan senja dengan mega-mega keunguan membayang di langit. Tanpa sadar, mulutnya sendiri berkedut meminta kecapan manis.

“Kenapa ke sini?” Tanya gadis itu polos. Suatu kesan menipu yang selalu gadis itu keluarkan. Takkan ada yang sadar, bahwa di hadapannya tengah berdiri seseorang yang setahun lebih tua dibanding dirinya sendiri. Kepolosan mematikan yang menyelubungi gadis itu telah membutakan sebagian besar orang, kecuali dirinya, akan kenyataan betapa kejam sesungguhnya gadis itu. Tapi, dia menyukainya, kekejaman tak terperi yang lahir dari langkah terseok setiap asa itu.

“Menurutmu kenapa?” Balasnya santai, mengalihkan pandangannya dari gadis itu menuju hamparan lautan jernih dengan debur ombak serta bau asin yang terhanyut oleh angin. Dia menyukai laut dan semakin menyukainya saat dia tahu gadis itu juga menyukai laut. Gadis itu. Gadisnya.

Dilihatnya gadis itu mengendikkan bahu, “kalau tahu aku enggak nanya kamu,” sahut gadis itu; membuatnya terkekeh pelan. Tanpa bisa dia cegah, tangannya telah bergerak terlebih dahulu ke arah gadis itu; merangkul tubuh mungil itu; menarik gadis itu dalam dekapannya. Hembusan nafas kaget dari gadis itu menyapa lehernya.

Dia mendekatkan bibirnya pada puncak kepala gadis itu; mengecup gadis itu ringan sepenuh perasaan. “Nikmati saja, lah.” ucapnya lembut. Dirasakannya gadis itu bergerak; semakin dalam pada dekapannya; dengan sepasang tangan mungil melingkari tubuhnya. Dia tersenyum.

“Kamu mau bajumu kebakar rokok, Ga?” ucap gadis itu setelah membiarkan keheningan menggantung di antara mereka beberapa saat lamanya. Refleks, dia menjauhkan gadis itu kemudian memeriksa bajunya sendiri. Tapi saat didengarnya suara tawa tertahan yang tak asing, dia seketika melirik gadis itu, yang terkikik sembunyi-sembunyi, dengan sebatang rokok di tangannya.

“Kamu ngerjain,” gerutunya diiringi tawa gadis itu yang seketika pecah. “Sini kamu!” serunya geram, menjulurkan tangan untuk menangkap gadis itu; yang refleks lari menjauh sembari terbahak.

“Parah kamu~!” Gadis itu berteriak penuh kemenangan sembari tertawa-tawa, sembari sesekali menoleh untuk menjulurkan lidah penuh celaan padanya. Membuatnya menambah kecepatan larinya. Membuat mereka berlari menyusuri pantai mengiringi senja yang semakin mati.

broken

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s