Tears

Dalam ketiadaan semu, dia berada. Menggapai asa yang takkan pernah lagi menghampiri dirinya.

Berdiri sendirian pada pinggir jalan yang ramai, dia hanya diam; menghembuskan asap tipis sarat nikotin yang telah terlalu lama terpenjara dalam tenggorokannya; yang sudah menyesap terlalu jauh ke dalam sel abu-abunya, mengganggunya, mengenyahkan kestabilan dunia dalam dirinya. Hingga dia tak lagi mengerti definisi yang pas untuk dirinya, untuk dunia dari sorot matanya.

“Rin, Rina.”

Seseorang memanggil namanya sembari mengguncang bahunya pelan. Dia menoleh, mendapati seorang pemuda yang berada di penghujung usia remaja; dengan sebuah bando hitam yang menyibakkan poni panjangnya; dengan sebuah rokok hitam terselip di antara bibir penuhnya. Mata hitam pemuda itu menatapnya penuh binar yang tak pernah tidak dia sukai; begitu penuh dengan antusiasme akan kehidupan, membuat semangatnya akan hidup yang nyaris mati, perlahan-lahan bangkit.

Dia menyunggingkan senyum terbaiknya, membiarkan anak rambut hitam yang tak terkuncir, dipermainkan oleh angin. “Ga,” sebutnya pelan. “Kukira kamu nggak bakal dateng.”

Pemuda itu tersenyum mendengar namanya disebut dengan nada asing yang selalu dia suka. “Aku udah pernah bilang, kan? Aku nggak akan pergi.” sahut pemuda itu, merangkulkan lengannya melalui punggung kecil milik dia; menggenggam erat bahu mungil yang menyangga banyak beban kehidupan tak terbanyangkan. “Ayolah, kamu ngapain juga nunggu aku di sini. Kan aku udah bilang bakal datengin kamu nanti.”

Dia memutar matanya, “kamu tahu lah, kenapa.”

Pemuda itu tersenyum kecil, “aku tahu,” ujarnya sembari mengulurkan sebuah helm pada dia. “Ayo, kamu kayak orang hilang di sini.” ujarnya sembari terkekeh kecil; mengawasi dia yang tengah berkutat untuk mengenakan helm dengan sempurna meski kedua tangannya penuh dengan ponsel serta kabel earphone. “Bisa enggak?”

“Bisa,” sahut dia dengan ceria setelah berhasil memasang helmnya. “Mau ke mana?” tanyanya lagi, menghampiri pemuda itu yang kini sudah duduk santai di atas motornya — yang ternyata terparkir tak jauh dari sana.

“Ikut aja lah,” ujar pemuda itu, mengawasi jalanan di hadapannya yang ramai oleh kendaraan baik bermotor maupun tidak. “Aku tahu kamu lagi bosen, Rin. Makanya percaya sama aku aja.”

Dia tersenyum kecil. “Baiklah,” ujarnya sembari memejamkan mata; menghirup harum after shave pemuda itu yang begitu maskulin; begitu melindungi ketenangan dirinya. Hangat tubuh pemuda itu tersalur padanya saat dia melingkarkan lengan mengelilingi tubuh pemuda itu, yang kini dengan cekatan melajukan motornya menembus keremangan senja pada suatu sore di bulan Agustus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s