Somber

Dalam hening semu mereka berada, singgah dalam penantian dengan bahu yang saling beradu.

Berdua terduduk di lantai pada kamar kos yang pintunya terbuka, mereka tengah sibuk dalam dunianya masing-masing. Punggung keduanya beradu, menghantarkan kehangatan asa yang tertatih untuk terus melaju. Temaram bohlam sepuluh watt menerangi kamar yang tirainya tertutup itu. Malam telah menyapa wilayah bumi sebelah timur, membangkitkan pilu yang tertidur dan menepis ceria jauh-jauh.

Seruan demi seruan penyemangat membahana dari televisi yang tengah menampilkan acara kesukaan pemuda itu, yang kini menatap layar dengan asik sembari menautkan jemari mereka berdua. Dia hanya sanggup menggeleng kecil, maklum dengan kelakuan pemuda itu yang terkadang tampak kekanakan di saat yang tepat.

“Duh, bentar ya,” ujar pemuda itu sembari melepaskan genggaman mereka; buru-buru bangkit dan melangkah menuju koridor yang akan membawanya ke kamar mandi. Dia hanya tergelak, paham betul apa penyebabnya. Sembari mengalihkan kembali tatapannya pada ponsel miliknya sendiri yang tengah berkedip, dia terkikik dalam kilasan memori yang begitu saja menyeruak. Tentang sore ajaib yang baru saja mereka bangun.

Namun perhatiannya teralih saat ponsel milik pemuda itu bernyanyi. Tampak sebuah pesan menyeruak masuk. Dia tidak peduli, dan takkan mengamati ponsel itu dengan bibir terbuka serta otot rahang menegang jika saja dia tidak mengenali nama pengirim pesan itu.

Diam, dan dengan amat perlahan, dia mengacuhkan ponsel milik pemuda itu. Menenggelamkan dirinya pada layar ponselnya sendiri, pada angannya sendiri yang kini tengah meliuk liar dalam hampa. Dia membisu, dengan kedua rahang beradu keras. Dia tidak marah, tidak sama sekali.

Hanya cemburu, serta penasaran. Tapi siapa dia? Bukan siapa-siapa dan tak ada hak apa-apa atas hal itu. Maka dia berdiam diri, bahkan saat langkah kaki itu terdengar. Hanya menoleh pelan saat berat tubuh pemuda itu perlahan membebaninya. Memberi senyum sekilas pada pemuda yang menyeringai lebar itu, sebelum mereka berdua kembali tenggelam dalam dunia mereka masing-masing.

“Rin, Rina.”

Dia menoleh. Mimik mukanya tak lagi tegang, perasaannya tak lagi berat. Maka dia menoleh dengan senyum biasanya terukir di wajah itu. “Apa?” tanyanya pelan, sembari tangannya meraih bungkus rokok yang nyaris kosong. Pemuda itu menyeringai jahil padanya, mengedipkan sebelah mata padanya sebelum merebut sebatang yang sudah dia ambil dari bungkus. Dia tergelak, merebut kembali benda itu dengan kesigapan namun sama sekali tak menyangka apa yang akan dilakukan pemuda itu selanjutnya.

Basah. Itu hal yang pertama dia rasakan saat pemuda itu mempertemukan bibir mereka berdua dengan lincah serta liciknya. Tangan pemuda itu melingkar di pinggangnya, kokoh tanpa paksaan. Jemari pemuda itu menari di tengkuknya. Membawanya lebih jauh ke dalam diri pemuda itu. Membuatnya tanpa sadar membuka diri dan membiarkan pemuda itu menjelajah lebih dalam. Hingga akhirnya semua itu berakhir dengan kelembutan tak terperi.

Dia menunduk, mengatur pita suaranya yang seakan menolak untuk digunakan. “Ada sms,” ucapnya seringan mungkin.

“Biarin,” balas pemuda itu santai kemudan meraih dagunya lagi, dan kembali memanggutnya. Kali ini lebih penuh perasaan yang tak mungkin tak dia kenali. Segala hal dalam ciuman ini amat mempresentasikan pemuda itu; posesifnya, agresifnya, kekuatannya, rasa percaya dirinya, kekanakannya, kenakalannya. Dia, yang menyadari hal itu, tak sanggup menahan tawanya.

Pemuda itu seketika melepaskan panggutannya. Bingung. “Kamu tuh kenapa ketawa?” tanyanya dengan kedua alis yang bertaut. Melihat hal itu, dia hanya tertawa lebih keras. Mengacuhkan kebingungan pemuda yang duduk dihadapannya.

Dengan jemarinya yang lentik, dia menjitak pelan dahi pemuda itu. “Bego,” ucapnya diiringi seringai kepuasan. Puas mengetahui jawaban dari kegelisahannya. Puas melihat kebingungan menggelikan yang tumbuh dalam diri pemuda itu. Dan itu karena dirinya. Bukan siapa yang tadi mengirim pesan singkat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s