Devotion

Di tengah deru kipas angin yang berputar tanpa kenal lelah, dia dapat mendengar hentakan nafas lirih yang tertahan itu.

Dia menoleh, mendapati gadis itu tercenung menatap layar ponselnya yang menyala terang. Bola matanya tampak lebih coklat dari biasanya, membulat penuh keterkejutan sembari bergerak berusaha memahami isi apapun yang tertampil di sana. Dia mengamati gadis itu dalam bisu sarat arti, menerka-nerka apa yang tengah gadis itu hadapi saat ini.

“Kamu kenapa?” tanyanya kemudian saat tak tahan lagi. Penasaran setengah mati atas hal yang tengah dihadapi gadis itu. Namun gadis itu hanya menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, membuatnya semakin penasaran. Hingga akhirnya dia mengalihkan perhatiannya kembali pada layar televisi. Menunggu gadis itu bercerita sendiri.

Detak kehidupan jarum jam terus terdengar membahana dalam kediaman keduanya yang membisu. Dia yang sibuk dengan layar televisi dan gadis itu dengan layar ponselnya. Membisu tanpa arti yang kentara, sampai gadis itu meletakkan ponselnya dalan diam. Membuatnya melirik sekilas pada layar yang kini hitam pekat. Tanpa arti. Tanpa kehidupan.

Gadis itu menghembuskan nafas, tampak begitu lelah dan semakin membuatnya penasaran. Dia beringsut mendekat, mengamati wajah kelelahan yang kini menyunggingkan senyum tipis ke arahnya. “Kenapa, eh?” tanyanya lagi, kali ini lebih medesak. Namun gadis itu tetap menyiratkan kelelahan dengan gelengannya, serta senyum tipis yang masih tersungging di sana.

Dia memanyunkan bibirnya, sebal. Membuat gadis itu tak tahan untuk tidak tertawa. “Baiklah, gitu sih,” rajuknya sembari mencibir. “Jahat eh kamu.”

“Ga,” panggil gadis itu sembari tertawa kecil. “Siapa yang jahat?”

Dia menyeringai senang melihat tawa gadis itu telah kembali. “Kamu,” balasnya sembari menoyor pelan kepala gadis itu dengan rasa penasaran tak kentara. “Kamu jahat sih, nggak mau ngasih tahu tadi itu apaan.”

Tawa gadis itu berkumandang dalam kamar kosnya yang kecil. “Ngapain juga? Nggak penting ini.” balas gadis itu sembari membakar rokok yang sedaritadi berada di antara jemari lentiknya. Dia berdiam, mengamati gadis itu yang kini tengah menghisap nikotin dengan ekspresi terganggu.

“Ya bilang aja dari siapa sih. Penasaran nih,” sahutnya, beringsut mendekati gadis itu untuk menerima pandangan manis penuh tanda tanya. “Minta.” pintanya singkat. Gadis itu memberikan batang rokoknya pada dia, yang menghisap benda itu sembari membiarkan pikirannya mengecap manis lain yang terlebih dahulu berada di sana.

“Nggak penting, kok. Cuma dari si Agni.”

Sontak dia memandang lekat ke arah gadis itu. Dia kenal nama siapa yang baru saja disebutkan oleh gadis itu. Pemuda yang sempat menjadi kekasih gadis ini di masa lalu.

Pelan, dia menghembuskan asap sarat nikotin itu dalam hening. Mengingat sosok pemuda bernama Agni yang sempat mendominasi kehidupan gadis di hadapannya. Gadis ini. Gadisnya. “Ngomong apa, dia? Ngajak ketemu?” tanyanya seringan biasa. Gadis itu hanya mengangguk disertai ekspresi malas. “Ya kalo kamu mau main sama dia enggak apa-apa. Aku di kos aja kok.”

“Malas ah,” jawab gadis itu sembari berdecak pelan. “Dia juga ngajak ketemu di angkringan dia, cuma biar angkringannya laku. Buat apa aku ke sana? Abis makan juga sama kamu tadi.”

Dalam hening, dia memandang layar ponselnya. Menyadari ada sebuah pesan singkat yang membisu di sana. Pesan singkat dari mantannya, entah apa. Dia tidak benar-benar peduli sebelumnya, hanya nama Agni membuatnya tiba-tiba tertarik untuk membuka pesan singkat itu. Tanpa berkomentar lebih lanjut, dia meraih ponselnya, membuka pesan singkat yang sudah mematikan asa di sana hanya untuk memandangi beberapa patah kata sapaan putus asa.

“Ga?” Suara gadisnya mengalihkan perhatian dia dari ponselnya. Dia menoleh, melihat raut kebingungan di sana. “Kamu kenapa?”

“…” Dia mencoba menampilkan wajah bingungnya, “aku nggak kenapa-kenapa kok. Kamu beneran nggak mau ketemu orang itu? Jarang-jarang kan dipanggil sama dia.”

Gadis itu memutar bola matanya, “macem kayak cewek panggilan aja.” Sahutnya sebal. Gadis itu berdiri, kemudian menghempaskan diri pada kasur tipis yang berada di sudut ruangan. “Malas ah. Ngapain juga.”

“Baiklah.” Ujar dia dengan nada yang khas. Dia mundur, ikut menghempaskan diri ke samping gadis itu. Dalam beberapa detik yang penuh keheningan oleh kata-kata yang kehilangan suaranya, mereka bertukar pandang. Gadis itu tersenyum kecil, memandang lekat pada dia yang ikut tersenyum. “Di sini aja, nggak usah ke mana-mana.”

Lagi, detak jarum jam membahan dalam diam yang merajut asa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s