Grievance

Layaknya sepasang manusia lainnya, mereka duduk berdua. Berhadap-hadapan dalam hening yang membuncah.

Ramai dengung percakapan telah mematikan kata-kata mereka. Dentum lagu yang berkumandang melalui speaker kafe itu menuntun mereka untuk menyelami dunia masing-masing. Berbekal ponselnya yang berdaya penuh, dia mengarungi alam liar fantasi yang kini terpampang di layar menjadi baris-baris kata. Mengacuhkan pemuda di hadapannya yang juga tengah tenggelam dalam layar laptop 14 inchi milik pemuda itu.

Sesekali dia menghela nafas. Meski tengah mengarungi alam liar milik pembuat bacaan yang tengah dia baca, pikirannya tak dapat berhenti berselancar menuju topik yang sama sekali berbeda. Tentang hidup ini, tentang dia, tentang pemuda dengan siapa dia berbagi hidup beberapa bulan belakangan, tentang mereka, hidup mereka masing-masing.

Tak ayal dia juga membayangkan hal yang lebih, sesuatu yang setiap perempuan impikan demi masa depan mereka. Meski dia tidak merasa sebagai perempuan seutuhnya, dia tetap memikirkan hal itu. Bagaimanapun, dia masih memiliki fisik perempuan.

“Rin, kenapa?”

Dia mengangkat pandangannya, untuk melihat ke arah pemuda yang kini menelitinya dengan seksama. Pelan, dia menggeleng. Tak tahu apa yang harus dia ungkapkan pada pemuda itu. Bagaimanapun, itu hanyalah secuil khayalan yang umum ditemukan pada pikiran siapa saja. Maka dia mengalihkan perhatian pemuda itu darinya. “Kamu lagi buka apa?”

Namun pemuda itu bergeming, dengan sebuah senyum simpul di wajah tampannya. Dalam hati, dia menghela nafas. Susah untuk membuat perhatian pemuda ini beralih dari apa yang tengah memenuhi pikirannya, sama susahnya dengan membuat batu berbicara.

“Rina,” panggil pemuda itu dengan nada yang amat lembut. Namun kelembutan nada suara bariton itu entah bagaimana, membuat bulu kuduknya seketika berdiri. Dia memincingkan mata ke arah pemuda itu. Curiga setengah mati pada raut wajah penuh kasih yang kini terpampang di hadapannya. Pemuda itu tidak akan menggunakan ekspresi ini seingin apapun dia melihatnya, dan jika ekspresi ini muncul itu berarti dia tengah berhadapan dengan sebuah gunung berapi yang berstatus siaga satu.

“Apa?” tanyanya defensif sembari beringsut menjauh. Kemantapan senyum penuh kasih bagai senyum orang suci membuatnya semakin merasa mantap dengan keputusannya. “Ga, kau membuatku takut.”

Halus, tatapan penuh cinta itu berubah menjadi penuh keisengan. Pemuda itu menyeringai jahil kepadanya. “Kamu kenapa, lho? Jadi orang kok curigaan.”

Dia mendelik sebal pada pemuda itu. “Kau tuh, kenapa. Serem tahu.” gerutunya.

Pemuda itu terkekeh bahagia mendengar gerutuannya. Tampak seolah dunia ini mendadak menjadi lebih indah dengan protesnya. “Salah siapa, nggak mau bilang.” balas pemuda itu ringan, kemudian memamerkan deretan gigi putih bagai iklan-iklan produk pasta gigi yang sering tayang pada jeda komersial. “Oh iya,” tambah pemuda itu sembari menepuk jidatnya. “Mama kamu kapan ke sini, eh? Aku belum ketemu, nih.”

Dia melirik pemuda itu sesaat sebelum membuang pandangannya semari mengendikkan bahu tak acuh. “Kenapa emang?” tanyanya seringan mungkin, berusaha mengabaikan dentam jantung yang menghantam dadanya.

“Ya kan, mama kamu belum ketemu aku, toh?” sahut pemuda itu sembari menyandarkan punggung pada sandaran kursi kayu sederhana yang pemuda itu duduki. “Masa, aku nggak ngenalin diri? Nggak enak, lah.”

Hening. Dia menatap kosong pada apapun yang ada dihadapannya. Berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang baru dia dengar itu adalah pernyataan yang solid.

Pemuda itu menjentikkan jari di hadapannya. Mengira dia melamun tanpa sadar kemelut yang berkecamuk dalam dirinya. Dia mengarahkan perhatiannya kembali kepada pemuda itu, berusaha menyembunyikan ketidakpercayaannya yang begitu hebat membanjiri setiap sel di otaknya. “–Nanti aku tanya mama, kalo gitu.” ujarnya semantap mungkin.

Dilihatnya pemuda itu menyeringai senang, dan perasaan kacau balau yang sejenak dia rasakan seketika menghilang. Dia hanya tersentak sesaat karena tidak percaya apa yang dia tengah pikirkan seketika terwujud begitu saja. Tanpa paksaan. Tanpa rencana. Tanpa dibuat-buat. Mengalir dengan alami seolah memang begitulah seharunya.

Dan sebuah senyum tipis namun manis mengembang di wajahnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s