Anxiety

Dia, terduduk di atas motornya yang kini terparkir pada pelataran sebuah rumah.

Hening menyapanya lembut namun kali ini dia sama sekali tidak dapat menghargai keheningan itu. Tidak jika jantungnya masih berdegup kencang hingga menggetarkan gendang telinga.Tidak juga, jika dirinya saat ini tengah dilanda kegelisahan yang membuatnya ingin lari sembari berteriak keras-keras.

Tapi itu bukan pilihannya. Bukan untuk saat ini.

Sesaat dia menghirup nafas dalam-dalam. Mencoba menenangkan jiwanya yang seolah jumpalitan tidak karuan entah ke mana. Menari dalam gerakan bercampur antara salsa dan salto.

Semakin lama dia berdiri di sana, semakin dia merasa seakan menghilang. Terserap sepenuhnya pada eksistensi halus perasaan-perasaan yang telah lama tertanam di tiap sudut rumah itu. Pada pelatarannya yang luas dan terasa kosong. Pada terasnya yang rapi namun terasa seolah telah ditinggalkan bertahun-tahun.

Dia tak lagi takjub mendapati kesan kesendirian yang kuat dari rumah ini. Dia telah terlalu terbiasa. Namun kesan itu masih senantiasa mengganggunya dalam tiap kesempatan yang ada. Bahkan saat dia telah menjauh dari rumah ini, kesan kesendirian itu masih terus menghantuinya.

Mungkin, itu semua karena gadisnya-lah pemilik rumah itu.

Dan bersamaan dengan pemikiran itu, dia dapat menangkap sosok gadis itu. Melangkah keluar dari pintu depan dengan balutan kaos serta celana denim hitam panjang. Rambut gadis itu masih tampak basah, seolah gadis itu sengaja membersihkan rambutnya demi momen ini.

Gadis itu meringis ke arahnya. “Hai, Ga.”

Dia balas cengiran gadisnya meski gugupnya tak menghilang, “hai. Mamamu mana?”

“Di dalem,” sahut gadis itu sembari mengendikkan kepala mungil miliknya ke arah rumah. Dia mengikuti gadis itu berjalan pelan menuju rumah dengan degup jantung yang semakin terpacu. Tangannya menggapai lemah pada kelembutan akrab yang telah lama dia kecap, berusaha mencari kekuatan dari sana. Dilihatnya gadis itu tersenyum lembut, menenangkannya sampai dia sanggup tersenyum tanpa beban.

“Tunggu di sini, ya.”

Dia mengangguk gugup sembari terduduk secara perlahan pada kursi kayu yang ditempatkan di ruang tamu. Temaram cahaya lampu duabelas watt menyinari ruang tamu di hari yang nyaris petang. Harum masakan mencapai indra penciumannya, soto, tebaknya seketika.

“–Ini, di ruang tamu.”

Tubuhnya seketika terasa kaku. Seketika pandangannya jatuh pada bayangannya sendiri yang terpantung pada sebuah cermin lebar di hadapannya. Kontan dia menyisir rambut ikalnya yang dirasa berantakan, sembari menunggu, dengan jantung berdebar, kedatangan seorang wanita yang akan menjatuhkan hukuman jelas baginya.

“Eeh, mas.”

Seketika seluruh tubuhnya menjadi lebih tegang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s