Dreamer

Gadis itu ada di sini, duduk diam dalam bayang-bayang irasionalitas.

Cahaya perak sang dewi malam menjatuhi serpihan kaca yang berserakan di atas butiran pasir tak ternoda; butiran pasir coklat muda yang tampak bersih. Sepasang mata hitam gadis itu menatap nyalang pada rembulan yang berada jauh di atasnya. Rambut merahnya berjatuhan indah di pundaknya; di punggungnya; bagaikan rajutan benang api yang terjalin rapi di kepalanya.

Gadis itu tampak amat cantik.

Sinar bulan menjatuhi wajahnya yang tirus dengan tulang pipi tinggi; membuat bibir sewarna apelnya bersinar temaram dalam kelembutan yang begitu fana. Bibir yang sedikit terbuka itu tampak begitu mengundang, dengan kulit sehalus sutra yang berwarna putih merona. Jemari lentiknya menggenggam erat gaun tipis tanpa lengan yang tengah ia kenakan.

Perlahan, dia menurunkan pandangannya. Menelusuri serpihan kaca yang bergelimang cahaya sebelum terpaku pada sebuah beda seukuran tal lebih dari telapak tangan yang berdiri kokoh di antara kekacauan hakiki di hadapannya.

Sebuah jam pasir unik.

Rangka luar jam pasir itu terbuat dari kayu mahogani dengan ukiran-ukiran indah. Namun saat seseorang mencoba melihat ukiran itu dengan lebih seksama, dia akan melihat wajah-wajah manusia dengan beragam ekspresi terpahat di sana. Bayang-bayang malam telah membuat pahatan mungil itu terlihat lebih hidup, seolah pahatan itu akan mulai mengeluarkan suara mereka kapan saja.

Namun bukan hal itu yang membuat ekspresi seram melintas di wajah gadis itu.

Tetes demi tetes air mata mengalir dari pelupuknya dengan cepat. “Tidak,” bisiknya lemah dengan suara parau penuh putus asa. Dia berusaha beringsut menjauh namun punggungnya yang terbuka seolah menabrak dinding tak kasat mata. Dia memandang berkeliling, mencari-cari entah apa dengan mata hitamnya yang kini seolah meredup.

“Tidak!” Jeritnya dengan suara melengking. Asap tipis keluar dari sekujur tubuhnya, mengerutkan kulit cantiknya; menorehkan garis-garis usia di seluruh wajahnya. Dia menoleh panik, namun tak dapat berbuat apa-apa. Nafasnya tersengal, seolah dia kini berada di dalam kotak kaca yang tertutup rapat.

Manik hitam itu berkilat sesaat sebelum cahayanya benar-benar mati.

“Kini, kamu tak berbeda dari boneka porselen, sayangku.”

Suara seorang lelaki menyebrangi ruangan luas dengan langit-langit tinggi. Lelaki itu terdengar puas, amat puas; terlebih saat sesuatu bergerak di tengah ruangan. Sesuatu yang terbungkus oleh selimut satin tipis berwarna putih.

Cekikik lembut terdengar dari balik selimut itu, “ini semua karenamu, sayang. Aku harus berterima kasih padamu, entah untuk kali keberapa.” Ujar sosok di balik selimut dengan suara wanita merdu bernada ringan, nyaris ceria. “Walau, aku harus mengakui, aku tak menyangka kau akan mengorbankan istrimu sendiri, Tuan.”

Lelaki itu menyebrangi ruangan; lelaki bertubuh tinggi tegap dengan wajah tampan dan ekspresi lembut. Mata birunya memancarkan rasa sayang tak terhingga saat dia, dengan perlahan, menyibakkan selimut satin itu. Lelaki itu bersiul pelan, “sungguh indah dirimu.” Pujanya saat melihat sosok di balik selimut itu.

Wajah cantik dengan tulang pipi tinggi; bibir penuh berwarna merah delima; rambut hitam berombak yang jatuh hingga sepinggang; tubuh sintal dengan kulit halus yang terlapisi sehelai kain tipis.

Wanita itu melempar senyumnya yang menggoda, “terima kasih atas pujiannya, Tuan.” Dia mendekatkan bibirnya pada wajah lelaki itu, membiarkan nafasnya yang halus membelai tiap inci kulit lelaki itu. “-sekarang, tidakkah Tuan ingin mencicipinya meski hanya sedikit?”

Lelaki itu menelan ludah, memandangi jemarinya sendiri yang mulai bermain di leher jenjang wanita itu; membiarkan buku-buku jemarinya meraup kelembutan sekaligus kehangatan wanita itu; hingga nafasnya mulai menderu saat tangannya bergeser turun. Dia dapat mendengar desahan halus dari kejauhan saat kedua tangannya menyentuh dada wanita itu dengan lembut.

Pandangannya menggelap.

Hingga kegelapan membungkusnya.

“Iblis.”

Wanita itu tersenyum tipis. Dipandangnya lelaki yang telah mengorbankan nyaris seribu nyawa wanita untuknya itu; lelaki yang kini tengah tergeletak menelungkup tak jauh darinya dengan cairan merah mengalir dari perutnya.

Lelaki itu tersedak cairan darah yang dia muntahkan, “iblis.” Ulangnya lagi dengan susah payah.

“Harus kuakui,” ujar wanita itu dengan suaranya yang kini terdengar lebih melengking. “Aku kecewa. Kukira suami seorang shaman akan lebih cepat tanggap dibandingkan lelaki lain, tapi kenyataan berkata lain.” Wanita itu tertawa. Tawa bernada tinggi yang membuat bulu kuduk berdiri. “Terima kasih atas bantuanmu, Tuan. Yang Mulia dapat segera menguasai dimensi ini dengan mudah sepeninggal wanita penjaga dimensi itu.”

Lelaki itu kejang sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

“Cukup berkhayalnya!”

Gadis itu tersentak karena suara sahabatnya yang berat. Dipandangnya pemuda, yang telah dia kenal sejak kecil itu dengan wajah kesal. “Nggak ada salahnya berkhayal, kan!” Balasnya sengit.

“Dengar ya, Rey. Apapun, itu hanya ada di kepalamu saja!”ujar pemuda itu sembari mengetuk pelipis kepala dengan jari telunjuknya. Pemuda itu mendesah lelah saat gadis itu hanya mencibir pelan. Sampai kapanpun, sahabat perepuannya ini takkan bisa melihat dunia nyata jika dia selalu berkutat dalam alam mimpinya.

Mimpi, itu semua hanya mimpi. Tak lebih dan tak kurang. Takkan pernah menjadi nyata, sekuat apapun seseorang berdoa.

Gadis itu mendesah pelan teringat kata-kata sahabatnya beberapa hari yang lalu. Dia tahu, dia tidak seharusnya menggabungkan kenyataan dengan khayalan karena itu adalah dua hal yang amat berbeda.

Tapi, apa yang harus dia lakukan jika semua sudah seperti ini?

Saat kedua tangan, kedua kaki serta batang lehernya terikat oleh rantai? Saat sahabatnya juga sama-sama terikat sepertinya? Saat dihadapan mereka terdapar seekor harimau mutan yang siap menerkam siapapun.

“Makanya, sudah kubilang, itu semua hanya ada di kepalamu!” Terdengar suara sahabatnya lagi, namun pemuda itu terdengar sedikit ketakutan? Ketakutan akan apa? Akan harimau mutan itu? Aah, dia bisa mengerti itu. Dia juga merasakan ketakutan yang sama, karena itu dia melarikan diri dalam khayalannya. Diliriknya wajah pemuda itu dan mendapati sepasang mata hitam yang menatapnya ketakutan.

Mata yang sama dengan wanita shaman itu.

Dia teringat akan wanita shaman itu, yang menjemput ajalnya dengan asap keluar dari tiap pori-porinya. Dia bahkan dapat membayangkan dengan jelas bau daging yang terbakar dari dalam.

“Hentikan!” Sahabatnya berseru dengan panik. “Hentikan, Rey!”

Dia kebingungan. Apa yang sahabatnya minta untuk hentikan? Khayalannya? Tidak, tidak bisa. Dia teringat betapa amis bau yang menguar di udara saat shaman itu terbakar; begitu jelas hingga dia mengira hal itu sungguh-sungguh terjadi. Atau memang terjadi?

Sahabatnya seharusnya tidak menjadi sahabatnya. Dengan begitu pemuda itu takkan memiliki sahabat yang suka berkhayal mengenai bagaimana rasanya saat tetesan hangat darah segar terciprat pada tubuhnya. Pasti rasanya tak terbayangkan. Dan dia tenggelam begitu dalam pada khayalannya tanpa menyadari sahabatnya yang tak lagi bersuara.

“Sungguh menjijikkan, bahkan kau membunuh pemuda itu. Ini tak ubahnya seperti kejadian tiga abad yang lalu.”

Suara seseorang membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Berdiri dihadapannya, seseorang yang terbalut dalam mantel coklat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Suaranya halus namun rendah, membuatnya tak bisa dibedakan apakah orang itu pria atau wanita. “Apa maksudmu?” Tanya gadis itu tak mengerti.

Sosok itu berguncang menahan tawa. “Kau lupa, iblis? Kau porak-porandakan dimensi ini dengan tenggelam dalam alam pikiranmu. Kau atur hidup-mati seseorang; kejadian yang menimpa mereka, seenaknya sesuai dengan pikiranmu sendiri.”

Gadis itu mengerutkan alis bingung, “aku tak mengerti.” Ujarnya lamat-lamat.

“Kurasa kau tak perlu mengerti.” Ujar sosok itu tanpa emosi.

Kegelapan menenangkan seketika membungkus gadis itu.

Iklan

3 tanggapan untuk “Dreamer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s