A Remind of Cinderella

Kamu memandangnya lekat, lalu tertawa.

Rambutmu yang sepanjang pundak menari sewaktu angin berhembus lumayan kencang. Di antara debu pasir yang menghambur di pelataran parkir ini, kamu berdiri tenang, berhadapan dengannya yang juga tengah tersenyum ke arahmu. Seringaimu lebar, menikmati candaan sarkasme yang hanya dimengerti oleh kalian berdua.
Kalian tampak cocok bersama, bersanding seperti itu, memandang satu sama lain sembari melupakan orang-orang lain di dunia ini. Rokokmu yang sudah terbakar setengah kamu hisap pelan, sementara membiarkan dia membalas ucapan sinismu yang sebelumnya. Lagi-lagi tawamu berkumandang di pelataran parkir ini, melupakan petugas parkir serta penjaga kampus yang ikut duduk-duduk tak jauh dari tempat kalian berdua berdiri.
Lebih tepatnya, kamu mengabaikan mereka semua. Perhatianmu sungguh-sungguh teralih kepada dia, yang memang begitu memukau. Dengan akrabnya kalian saling bertukar senyum, bersitatap seolah tak pernah puas, bercanda dan tertawa bersama. Kamu terlihat begitu bahagia, begitu lepas sampai-sampai kamu melupakan ‘topeng’ yang biasanya kamu gunakan.

Candaan kalian seolah tak pernah habis. Kamu terus-terusan tertawa, mengejeknya dengan sarkasme yang begitu rapi tanpa celah hingga dia hanya bisa memaki sembari tertawa pelan. Lagi, kamu membuang puntung rokokmu yang sudah habis dan menyalakan yang baru; gerakanmu begitu sistematis seolah kamu tak lagi menyukai kegiatan itu, hanya melakukannya seperti kewajiban.

Dirimu yang belum pernah dilihat oleh siapapun di kampus ini, kini terbuka begitu saja sejak kedatangannya yang tidak sengaja itu. Kamu yang tadinya begitu periang namun tertutup, kini menyuarakan segala aspek dalam hidupmu dengan cara yang tak pernah sanggup dibayangkan. Seluruh stok candaanmu, kamu keluarkan kepadanya.

Beginilah kamu yang sebenarnya. Kamu sungguh-sungguh seperti kepiting, terlihat tapi tak sanggup didekati oleh siapa pun. Jika ada satu saja dari orang, yang tak kamu inginkan, melewati batas yang sudah kamu tentukan, kamu akan mencapitnya tanpa ampun. Siapapun itu, tak peduli jenis kelamin, umur dan ras.

Dia tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeans, lalu merangkul pundakmu. “Say cheese!” serunya dengan ceria. Kamu tersenyum miring dan membiarkan dia mengabadikan momen pertemuan kalian setelah berbulan-bulan lamanya terpisah.

Lagi, kalian tertawa gembira saat melihat hasil foto itu. Lagi, kamu tertawa kencang sembari mengomentari wajahnya di foto itu. Kalian saling sikut penuh keramahan, saling ejek dengan santai, saling memaki dengan bahagia.

“…Kakak kayak bencong, sih!” suaramu yang rendah itu membahana di pelataran parkir kampus ini, bersama tawamu yang benar-benar menunjukkan kebahagiaan, lain dari yang biasanya kamu perdengarkan pada orang-orang di kampus ini. Raut wajahmu terang oleh rasa senang tak terbendung, memandangi lawan bicaramu yang kini memukul pelan kepalamu dengan kepalan tangannya. “Ya udah, House of Scherz aja, lah, yuk!” ajakmu dengan riang gembira.

Sambutannya membuatmu menyeringai. Dia mengacungkan jempolnya tanda setuju, membuatmu tertawa kencang. Lalu kamu memberinya tanda menunggu dan berjalan ke arah bangku beton tempat kamu menaruh tasmu yang sedari tadi sudah tergeletak begitu saja, terlupakan sejak kedatangannya yang membuatmu sibuk dengan segala macam candaan gila kalian berdua.

Dan dia memanggilmu. Membuatmu, yang sedang sibuk merapikan barang bawa, seketika menoleh ke arahnya. “Kamu ngingetin aku sama cerita Cinderella, dek,” dia berujar sembari memandangi ponselnya yang, sepertinya, masih menampilkan foto kalian berdua.

Kamu mengerutkan kening, jelas-jelas menunjukkan kebingunganmu. “Kok bisa?” tanyamu balik, masih setengah menoleh ke arahnya.

Dia meringis, menunjukkan deretan giginya yang sempurna seperti dalam iklan-iklan komersial pasta gigi di televisi. “Kalo jam udah berdentang duabelas kali, apa aku bisa nemu pemilik ‘sepatu kaca’nya, ya?” balasnya sembari memandangmu lekat.

Kamu mendengus geli, menggelengkan kepalamu pelan, mengerti bahwa dia merujuk ke kebiasaanmu yang sering begitu saja pergi menghilang saat sudah berjauhan dengan orang yang menganggapmu penting. “Itu terserah kamu, kak,” balasmu dengan suara yang cukup kencang untuk terdengar olehnya.

Kali ini, dia mengerutkan kening. Sungguh-sungguh tak mengerti dengan jawaban yang kamu berikan. “Maksudnya?” dia bertanya, menatapmu yang kini sudah menyandingkan tas di salah satu bahumu lalu berbalik ke arahnya.

Kamu bergeming di tempatmu berdiri, menyunggingkan senyum miringmu yang khas. “Terserah kamu, kak,” lanjutmu dengan suara rendah yang mantap sekaligus sedikit menggoda. Lagi-lagi, dirimu yang sebenarnya terkuak di hadapan seluruh penjaga pelataran parkir kampus ini. Kamu bersitatap dengannya, diam beberapa saat untuk membiarkan dia menatapmu sembari meresapi senyummu yang begitu menantang. “Toh, pada dasarnya, Cinderella nggak pakai sepatu kaca; dia pakai sepatu kayu.”

Hening sejenak.

Desau angin mengiringi tawa kalian yang meledak bersamaan. Kamu tertawa, berjalan ke arahnya dengan langkah tegas lalu bertanya, “House of Scherz?”

Dia mengangguk lalu berjalan menuju motornya sendiri, sementara kamu menaiki motormu sendiri. Derum motor kalian meraung bersamaan, sekaligus dengan keberadaan kalian yang lenyap begitu saja bersamaan dengan hamburan pasir serta debu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s