Shelter

Dalam gelap.

Menanti kabar yang sesungguhnya tak ada. Diam seribu bahasa oleh nestapa yang tak kunjung usai. Merelakan sesuatu yang sungguh bukan milikku. Hahaha, tawa hambar dalam benak yang membeku, menggelegar tanpa batasan.

Hanya ada satu harapan. Dalam mimpi yang fana, semua terurai. Menaburkan cairan asam pada luka yang menganga. Mengecap rasa hasil dari halusinasi bertahun-tahun yang sudah akrab oleh lidah.

Dan saat terbangun, realita tak lagi terasa menyakitkan.

Tak menyakitkan, memang.

Tapi itu hanya membuktikan, setelah segala hal yang terjadi, setelah sekian lama hal itu telah usai, bahkan setelah pengakuan bahwa aku rela; semua itu sama sekali tak mempengaruhi hal ini.

Detakan jantung yang menjadi lebih cepat hingga menyakitkan. Rasa gugup teramat sangat hingga keringat dingin menitik. Gelenyar aliran darah dalam nadi yang menjadi kencang.

Sebuah petunjuk, dari rasa yang takkan pernah usai.

 

 

“Halo!”

Dia mendongakkan kepalanya, lelaki itu; sebuah senyum lebar serta merta terbentuk di wajahnya saat mengenali siapa orang yang datang. Lelaki itu tertawa santai, menyapa balik orang yang datang. “Weh, halo!” dia berkata pada seorang perempuan, yang berdiri di samping kursi panjang.

Perempuan itu balas tersenyum ke arahnya. Seluruh wajah perempuan itu bersinar oleh bahagia tak terperi. Duduk di samping lelaki yang selalu berada dalam pikirannya, perempuan itu tersenyum gugup dan mencoba mencari pembahasan – apapun, asal dia bisa mengobrol dengan lelaki di sampingnya. Tapi yang keluar malah pertanyaan yang berusaha dia pendam rapat-rapat. “Kenapa kamu ngajak aku ketemu?”

Lelaki itu menoleh ke arahnya, sedikit terkejut namun kemudian tertawa karena raut wajah perempuan itu kacau balau, “aku nggak boleh ketemuan sama mantanku sendiri?”

Gugup luar biasa, perempuan itu tertawa hambar di atas luka yang kembali menganga. “Bukan, bukan itu maksudku,” dia mengibaskan tangannya di udara dengan asal saja. “setelah sekian lama, kenapa sekarang?”

Lelaki itu tertawa, “datang-datang, kamu langsung bertanya hal yang rumit.”

Perempuan itu memutar matanya, namun dapat merasakan dorongan tertawa yang benar-benar merupakan tawa karena, entah bagaimana, sakit hatinya tiba-tiba berkurang. “Salah, ya?”

“Santai aja,” lelaki itu mengendikkan bahunya tak acuh sembari menyesap rokok menyala yang sedari tadi berada di asbak. “Oh, ya, selama ini kerjaanmu ngapain aja?”

Perempuan itu berdeham, “biasa. Sibuk melarikan diri dari kehidupan.”

Lelaki itu lagi-lagi tertawa, “nggak berubah, ya. Belum nemu shelter yang tepat?”

“Begitulah.”

“Kalau aku bagaimana?”

Perempuan itu kontan menoleh dengan terkejut. Pupil matanya membesar, mulutnya menganga. “Hah?”

Lelaki itu menyunggingkan senyum miringnya yang pertama untuk hari ini, “jadian lagi sama aku.”

Iklan

2 tanggapan untuk “Shelter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s