Abstruse Her, Abstruse Me

Dia datang lagi.

Aku baru saja saling bertukar sapa dengan rekan sejawatku di kafe ini dan menggantikan shift kasir saat dia datang, perempuan itu; dengan wajah serius yang sama. Senyum sopan. Tatapan mata sekilas, dan keluarlah pesanannya yang biasa: segelas kopi. Hitam, tanpa gula. Kemudian dia berlalu begitu saja.

Kuteriakkan pesanan perempuan itu kepada rekan sejawatku, lalu menyalakan sebatang rokok dan kembali tenggelam ke dunia maya yang terpampang pada layar laptop di meja kasir. Hari panjang lainnya yang harus kujalani.

Baru saja aku menenggelamkan diri, tak sampai lima menit, kopi pesanan perempuan itu sudah terhidang. Teman sekerjaku yang bekerja di bagian dapur, Lintang, menyerukan permintaan kepadaku untuk mengantarkan gelas kopi kecil itu, dan kusambut dengan helaan napas pelan sebelum beranjak dari kursi.

“Ini, mbak.”

“Makasih, mas,” dia menyahuti ucapanku, memberikan senyum tipis sebelum kembali berkutat dengan ponselnya. Belum aku beranjak pergi dari meja perempuan itu, seorang perempuan lain datang dan seketika duduk di hadapan perempuan yang tak kutahu namanya. Perempuan kedua segera melontarkan pesanannya kepadaku; es jeruk dengan es batu yang banyak. Kenapa perempuan-perempuan ini memesan dengan ketentuan khusus begitu? Kembali kuteriakkan pesanan yang kuterima kepada Lintang sembari aku berjalan ke meja kasir untuk melanjutkan acara penenggelaman diri ke dunia maya.

Untungnya, kali ini Lintang tidak meminta bantuanku hingga kesenanganku tidak terinterupsi lagi.

Tiga jam sudah berlalu. Entah sudah berapa banyak pelanggan yang datang dan pergi karena lelah, tapi kedua perempuan itu masih ada sewaktu aku melongokkan kepala untuk melayani pelanggan yang hendak membayar dan memesan. Betah sekali mereka di sini.

Tentu saja, mereka kan pelanggan tetap. Mereka sudah sering berada di kafe tempat aku dan kawan-kawanku bekerja semenjak tahun lalu; terutama perempuan yang selalu memesan kopi hitam tanpa gula itu. Dia datang dengan waktu tak menentu, kadang bisa sepanjang hari sampai rekan-rekan sejawatku mulai penasaran dengannya.

Dia, perempuan itu, menjadi terkenal di kalangan karyawan karena pesanannya yang selalu sama. Mengherankan bagi kami, para laki-laki karyawan kafe ini, untuk mendapati seorang perempuan yang selalu memesan kopi hitam tanpa gula, lalu sibuk dengan dunia maya sembari mengepulkan asap rokok.

Lagipula, wajahnya jenis wajah yang mudah untuk diingat. Walau dia tidak cantik ataupun manis, secara pribadi akan kuakui bahwa wajahnya menarik untuk dipandang. Tipe wajah yang tidak membuat bosan karena banyaknya ekspresi di sana. Tak heran, saat dia datang dengan seorang lelaki beberapa kali, lelaki itu tak melepaskan pandangan darinya.

Dan entah sejak kapan, pemandangan dia di kafe ini menjadi hal lumrah dalam keseharianku. Sebegitu lumrahnya, sampai aku bisa mengerutkan kening sewaktu mengetahui beberapa hari belakangan, dia absen dari kafe ini. Bukannya aku ingin bertemu dengannya, tapi kelumrahan itu jenis yang sama dengan rokok, kalau aku tidak merokok sehari rasanya aneh.

Aku tidak sendirian dalam perasaan itu, ada sekitar dua teman sekerjaku yang merasakan hal sama. Satu, jelas, Lintang. Bisa dibilang, Lintanglah satu-satunya yang bisa mengakrabkan diri dengan perempuan itu – tapi hanya sekedar bertukar sapa, saling pandang sesaat lalu tersenyum saja. Sedang yang satunya lagi adalah rekan sekerjaku, manajer kafe ini yang juga adalah teman masa kecilku.

Lintang yang pertama kali membicarakan perempuan itu sewaktu kami bertiga berkumpul di kamar kosnya.

“Eh, cewek itu udah lama banget nggak dateng.”

“Siapa?” tanyaku tak acuh, juga tak tahu siapa yang dia maksud. Perhatianku sebagian besar tertuju pada game ponsel yang tengah kumainkan saat ini. Sedikit lagi, aku menang. Hanya tinggal satu langkah epic.

“Itu, yang biasanya pesen kopi tanpa gula.”

Teman masa kecilku, Dani, menoleh ke arah Lintang dengan perhatian penuh. Membuatku tertawa, dan mendadak ingin usil. ‘Menjual’ perempuan itu kepada Dani, yang baru saja putus dari pacarnya. “Dan, kamu sama dia aja.” Tawaku tanpa suara, disambut dengan gelengan kepala kuat serta semburat merah di kedua pipi Dani. Membuatku terpingkal-pingkal.

“Oh, lu demen sama cewek itu, Dan?” Lintang bertanya geli.

“Nggak, nggak, nggak,” sergah Dani dengan wajah yang sudah memerah. Aku dan Lintang bertukar pandang lalu terpingkal-pingkal bersamaan. Dani memang cemen, padahal dia lebih tua daripada aku dan Lintang, tetapi kedewasaannya tidak terasa sama sekali. Sementara kami terpingkal, dia malah mencebik bagai gadis perawan. Membangkitkan rasa jahilku lebih jauh lagi.

“Kamu kayak cewek, lah, Dan! Gitu doang malu.”

“Ah, berisik, Lang!”

“Hadeh, hadeh, lu suka ya bilang aja,” kali ini, Lintang angkat suara, ingin ikut dalam keseruan mengerjai Dani.

Aku menganggukkan kepala setuju sembari menyeringai lebar, “nggak ada yang ngelarang.”

Merasa terpojok, temanku itu memutuskan untuk memainkan ponselnya. Mengabaikan konspirasi kami yang hampir menjadi-jadi, mengabaikanku yang sudah mulai memikirkan perempuan itu, Nola; serta ketidakhadirannya di kafe tempat kami bertiga bekerja, selama seminggu penuh. Aneh? Tidak juga. Hal seperti ini wajar terjadi, mungkin dia memilliki kesibukan, atau malah sudah menemukan kafe lain yang lebih asik.

Baru saja berpikir seperti itu, esoknya perempuan itu datang lagi.

Kali ini, dia sendirian.

 (to be continued)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s