Abstruse Her, Abstruse Me 2

Dia datang lagi.

Kali ini, dia sendirian.

Awalnya, aku tidak menghiraukan keanehan itu. Toh, pada akhirnya, akan selalu ada orang yang datang dan menemaninya. Bahkan, beberapa pelanggan yang mendatangi kafe ini, kuperhatikan, selalu mencuri-curi pandang ke arahnya, laki-laki, terutama. Tak mengherankan, sudah kukatakan bahwa dia memiliki wajah yang menarik. Tambahan lagi, kebiasaannya yang sudah terprediksi itu.

Tapi, sampai enam jam berlalu, dia masih duduk sendirian di sana. Gelas-gelas kopi kosong berdiam diri di sekeliling laptopnya sementara dia sibuk, tenggelam dalam sesuatu yang entah apa, sembari merokok dengan gerakan mekanis.

Dan akhirnya dia merapikan barang-barangnya, berdiri, dan menuju ke arahku untuk membayar apa-apa saja pesanannya. Sewaktu berhadapan denganku, sorot matanya menunjukkan keletihan, sementara senyumnya tampak terpaksa, lebih dari biasanya. Ada apa? Pertanyaan yang tak mungkin kuucapkan. Siapa dia, siapa aku?

Ya, siapa aku?

“Semuanya dua puluh empat ribu, mbak,” ucapku dengan nada menyemangati, walau tak bermaksud begitu. Refleks saja, karena mukanya seperti sangat lelah. Maksudku, benar-benar lelah. Sejenis orang yang dirundung duka mendalam, dan sedang menikmati duka itu.

Tak kusangka, dia tertawa mendengar ucapanku. “Emangnya saya semelas itu, ya?” tanyanya geli. Ringkas. Padat. Tepat sasaran. Lucu juga perempuan ini. Mau tak mau aku ikut meringis sementara dia mengeluarkan uang lembaran bernominal dua puluh ribu dan lima ribu. “Ini, mas.”

“Kembaliannya, mbak,” balasku sembari menunjukkan deretan gigi padanya, yang dia balas dengan hal serupa. Dia lalu pergi, setelah memberi anggukan kecil. Langkahnya tegas-tegas. Badannya tegap. Seperti orang yang siap berperang. Lucu.

Lintang, yang lagi-lagi satu shift denganku, mendekat lalu menepuk pundakku. “Cie, inget lu udah ada istri di kosan.”

Umpatanku meluncur begitu saja, disertai tawa sebelum aku kembali ke kesibukanku: bermain game tak jelas. Apa lagi, yang bisa kulakukan untuk menghabiskan waktu, memangnya?

“Itu jatahnya Dani.”

Seruan Lintang membuatku tertawa kencang, “ini orang apa gaji yang kita omongin?” Kugelengkan kepalaku pelan, mengusir bayangan kelelahan yang kutangkap dari perempuan itu. Susah. Kelelahannya begitu mengusikku, mungkin karena tampak mengganjal dan tidak wajar. Entah apanya, tapi kelelahan itu tidak tampak natural. Seperti melihat aksi panggung seorang aktris di layar kaca pada sinetron murahan tak bermutu.

Gawatnya lagi, ketidakwajaran itu menggangguku sampai tiga hari kemudian. Sampai dia lagi-lagi datang. Lagi-lagi sendirian. Lagi-lagi tampak letih. Seperti mesin yang mulai usang dan berkarat, berfungsi ala kadarnya saja dengan energi yang tersisa.

Di kesempatan ini, Lintang mulai mendekatinya.

Bersyukurlah temanku itu, kafe sedang dalam kondisi sepi. Kalau tidak, sudah kusambit kepalanya dengan nampan. Tanpa tedeng aling-aling, dia duduk di hadapan perempuan itu, mengajaknya bercakap-cakap tanpa arah dan tujuan yang jelas. Dasar modus.

Parahnya lagi, perempuan itu memberikan respon positif. Tertawa karena lelucon Lintang yang garing, mendengarkan dengan serius, membalas dengan tak kalah seriusnya. Kugelengkan kepalaku, tambah lagi satu calon orang yang akan membusuk di kafe ini bersama kami. Perempuan, pula.

Sorenya, selepas shift, aku mendatangi kontrakan Dani, dan melaporkan hal itu. Dengan cara positif, tentunya. Memberi petunjuk-petunjuk salah kaprah kepada asumsi bahwa Lintang sedang berupaya mendekatkan mereka berdua.

Payah, kedua mata Dani berbinar penuh semangat. Sungguh-sungguh seperti pucuk dicinta, ulam pun tiba. Dan waktu Lintang datang karena janjinya kemarin sore, teman masa kecilku itu segera memberondong Lintang dengan segudang pertanyaan.

Jawaban Lintang, anehnya, standar-standar saja. Aneh, dia kan penggali informasi ulung, tajam menangkap kelemahan orang dan memanfaatkan hal itu untuk menggali informasi yang dibutuhkan. Kutatap temanku dengan curiga, jangan-jangan dia memang tidak berniat menggali apa-apa dari perempuan itu, atau memang perempuan itu yang terlalu tebal dinding perlindungannya?

Mungkin ini saatnya aku terjun langsung. Tanpa sadar, perjodohan Dani dan perempuan itu, yang kulakukan separuh bercanda, sudah berubah menjadi tujuan pasti.

Dan waktu perempuan itu datang besoknya, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

“Akhir-akhir ini jadi sering kelihatan, mbak,” sapaanku padanya, hanya berbuah cengiran.

“Belom ada larangan tertulis, kan?”

Hm, aku bergumam dalam hati, susah.

Mengantarkan kopinya, menjadi kesempatanku selanjutnya. “Ini mbak,” ucapku dengan senyum. Dia menggumamkan terima kasih, lalu memandangku aneh. Mungkin karena aku tetap berdiri di situ selama beberapa saat.

“…duduk, mas?” Tawarnya, agak ragu.

Menyeringai, aku duduk di seberangnya. Dia menurunkan layar laptopnya hingga setengah, lalu menatapku dengan tatapan menunggu. “Sibuk apaan, mbak?” Tanyaku, sesantai mungkin. Pertanyaan ringan. Uji coba, sejauh mana dia membatasiku.

“Kerja, mas,” sahutnya santai.

“Kerja apa, mbak?”

“Cuma kerjaan yang biasa aja, mas, nge-translate dari bahasa Indo ke bahasa Inggris.”

Oh. Pantas. “Kerja di lembaga apa?”

Freelancer, mas.”

Lagi-lagi, aku ber-oh dalam hati. Ada jeda sejenak sebelum dia melemparkan senyum lucu ke arahku.

“Sori, mas, namanya…?”

Oh, iya. “Galang. Mbaknya?”

“Nola.”

Namanya benar-benar Nola? Kupandangi dia dengan sangsi. Celakanya, dia paham pandanganku. “Aneh, ya?” tawanya pecah. Jenis tawa yang beda, lebih pelan dan hati-hati, seolah dia belum memutuskan apakah aku akan jadi musuhnya atau kawannya. Susah. Susah sekali. Lalu dia melanjutkan, “itu akte salah ketik. Aslinya Nora, jadi Nola. Gantinya repot.”

Oh, begitu. Aku hanya bisa memandanginya dengan tatapan paham tapi masih ganjil karena namanya, juga alasan di balik nama itu. “Terus, sekarang berarti lagi kerja, ya” tanyaku, merujuk ke laptopnya yang teranggurkan.

“Sedikit, lagi nggak mood juga.”

Jadi dia tipe yang kerja sesuai suasana hati, suka kopi hitam, merokok tanpa alasan kuat, dan pikirannya bisa pecah dengan mudah. Bagaimana aku tahu yang terakhir? Gampang, dia selalu mengecek ponselnya sewaktu benda itu bergetar. Atau bisa jadi, dia menunggu kabar penting. Yang mana pun, menunjukkan dia multi-tasker. Antara bagus, dan tidak terlalu.

Dan sekarang dia diam, memandangku dengan tatapan menunggu yang sama.

“Rokok, mas?” Tawarnya. Aku serta-merta menolak. Rokoknya menthol, nggak baik untuk kaum Adam. Lalu dia mulai merokok lagi, di depanku. Natural, sih, tapi tidak cocok untuknya. Kuutarakan pikiran itu, dan dia tertawa. “Kenapa, karena tampang saya nggak cocok buat jadi tampang perokok aktif?”

“Iya,” sahutku. Dan dia tertawa. Kali ini, tawanya lepas.

“Ya udah, mbak, saya balik dulu.”

“Nola.”

Aku kembali menolehkan wajahku ke arahnya.

“Panggil Nola saja,” dia menjelaskan sembari tersenyum miring. Wah, aku baru tau ada perempuan yang bisa tersenyum miring dengan gaya congkak begitu. Menarik. Kuberi dia anggukan, lalu berlalu.

“Nola,” gumamku pelan. Nama yang aneh.

Dani senang-senang saja waktu kuberi kabar mengenai perempuan itu. “Lain kali, aku ajakin ngobrol sama dia.”

“Iya, iya,” sahutku geli.

Aku tidak sadar, bahwa ada potensi berbahaya yang mengintip di detik itu juga.

(to be continued)

Iklan

2 tanggapan untuk “Abstruse Her, Abstruse Me 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s