A Scene

Ditolak.

Kata itu berkelebat di dalam benakku secara terus-menerus. Bagaikan mantra, yang sangat efektif untuk membuatku dikategorikan sebagai orang masokis. Bukannya hiperbolis, tapi kenyataan takkan bisa diubah, kecuali opini dimasukkan ke dalamnya. Rasa sakit yang sesungguhnya ringan itu terus kuhujamkan ke dalam diri, membunuh jiwa sendiri secara tahapan sistematis.

Ditolak.

Sebenarnya ini bukan proses yang baru pertama kali kualami. Maksudku, sebelum ini sudah ada sekitar… lima orang yang menolakku. Entah kenapa. Tampaknya, aku bukan tipe perempuan yang akan dipandang sebagai perempuan pacar-able oleh lelaki baik-baik. Sebaliknya, aku seakan daging mentah yang pasrah-pasrah saja dilahap oleh para ‘serigala’—bukan berarti aku akan pasrah, karena aku pasti melawan balik.

Tapi, yah, kenyataan takkan bisa diubah. Atau begitulah yang terlintas dalam pikiranku sembari memandang layar ponsel dengan sinar menyakitkan mata. Ironis, hanya sedikit kaum adam yang benar-benar kupandang sebagai kaum adam, tetapi mereka yang sedikit itu tak memandangku sebagai ‘kaum hawa’. Sedangkan orang yang menolakku hanya berjarak tiga langkah kaki di belakang sana.

Menguatkan diri, aku mulai bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Tak apa, ini biasa. Bukan hal yang kelewat baru bagiku, yang menghabiskan lebih dari dua puluh tahun dengan gaya hidup seperti ini. Saat kesadaran itu menyapaku, rasa jijik seketika meledak. Aku begitu palsu. Menyedihkan. Pantas saja mereka yang kuanggap lelaki tak pernah menyukaiku sebagai perempuan. Aku pun, jika menjadi laki-laki, takkan mau dengan perempuan seperti ‘aku’.

Absurdnya lagi, tiba-tiba teman dari orang yang baru saja kutembak, menembakku. Hanya jeda beberapa menit. Membuatku tertawa hambar. Tuhan memang kadang memiliki selera lelucon yang buruk. Amat buruk. Dan aku akan bersikap biasa saja—jelas, kutampik perasaan suka yang dinyatakan tiba-tiba seperti itu. Apa-apaan, orang yang hanya kukenal sekilas, meminta rasa suka dariku. Absurd.

Kujalani hari-hari seperti biasanya. Datang lagi ke tempat ini. Duduk sendirian seperti biasa. Memesan yang biasanya. Menghadapi laptop seperti biasa ditemani lantunan lagu dari earphone.

Lalu dia datang. Orang yang kutembak. Memandangiku seolah hendak berbicara. Kontan kulepas earphoneku. Memberinya pandangan bertanya karena kalimatnya tak kunjung keluar.

Dan dia tertawa, “Kamu ngapain lepas earphone, orang aku belum ngomong.”

Hambar tawaku. Tapi kadar cerianya tetap seperti biasa, “Nggak, kayaknya kamu mau ngomong aja.”

“Nggak ada aku mau ngomong. Hemat bicara, jangan cuman listrik aja yang dihemat.”

“Bicara juga?” sahutku, tertawa pelan karena memang dia tidak pernah tidak membuatku terbahak-bahak dengan tingkahnya, atau celetukannya.

“Iya, lah. Eh, ‘sodara kembar’mu kapan pulang?” tanyanya, mengalihkan topik.

Kukerutkan dahiku, “nggak tau, kenapa tanya aku?”

“Katanya ‘saudara kembar’! Gimana sih?” tukasnya geli sembari mulai melangkah pergi.

Mau ke mana? Kutelan pertanyaan itu bulat-bulat. Jangan bodoh, makiku dalam hati, tentunya pada diriku sendiri. “Dia nggak ada bilang sama aku,” balasku, setengah berseru.

Lalu dia menyeringai, “dia bilang, dong, sama aku.”

Mendecih pelan, tertawa lagi, aku kembali menjawab, “cie mesra. Sama cowok.”

Dia tertawa, pergi, tapi kembali lagi, “kami kan emang mesra. Apa?” tambahnya, sewaktu melihatku mencebik terang-terangan. “Kalau mau mesra-mesraan, bilang aja, jangan dipendam.”

Sialan. Umpatanku kontan keluar, tapi dia tertawa puas lalu menghilang. Kali ini benar-benar pergi.

Iklan

2 tanggapan untuk “A Scene

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s