Jika

“Jika aku membencimu, maka ada kah ‘aku’?”

 

Kamu bertanya. Mempertanyakan eksistensimu entah pada siapa. Ucapanmu yang kamu utarakan kencang-kencang itu menghilang tersapu angin. Lembut rerumputan bergemerisik, menyapa alam dalam keheningannya yang tak terperi. Terang matahari bersinar, begitu terang hingga nyaris membuatmu buta. Kamu halangi sinar matahari dengan kedua tanganmu dan menyapa pekat yang menggantikannya.

 

Cengkraman kesendirian yang kamu kira sudah menghilang, kembali menampakkan diri sewaktu kamu meresap kelam. Sepi kah? Tanyamu dalam hati, ragu untuk melontarkannya keras-keras entah kepada siapa. Keberadaanmu melebur dalam pilu tak terbendung, menyayat-nyayat hari sedangkan kamu terpana sewaktu sensasi lain datang. Tikaman hasrat yang begitu intens, hingga sanggup membuat napasmu terputus-putus; seperti sekarang. Bercak merah yang mengotori pakaianmu, terlihat bagai hiasan indah namun memilukan.

 

Kamu pun menyingkirkan tanganmu dari wajah dan mendapati arak-arakan awan telah menutupi matahari. Kamu mendesah lega, lalu kembali menikmati banjir hasrat yang begitu menggelitik. Bahkan setelah lima tahun tenggelam dalam sensasi, kamu tetap tidak merasa sanggup untuk menjabarkan rasa itu. Kamu kembali bertanya entah kepada siapa. Suaramu bergetar oleh kuatnya perasaan yang menggebu-gebu, menggelak bagai lava panas di dalam bumi.

 

“Aku menyata, maka ada kah ‘aku’? Aku membenci, maka ada kah ‘aku’? Aku merasa, maka ada kah ‘aku’?”

 

Kamu mengarahkan pandanganmu kepada seonggok potongan tubuh manusia yang tak lagi berbentuk di dekatmu. Anyir darah yang pekat di udara membuat jantungmu berdebar kencang oleh hasrat yang sama. Kamu memejamkan mata sejenak, melayangkan pikiran kepada bentuk sempurna dari potongan tubuh itu. Seorang gadis yang terkenal dengan kecantikan serta kemolekan tubuhnya. Lekuk yang begitu kamu hafal karena lidahmu sering menelusurinya. Bibir yang ranum karena kamu sering memanggutnya. Mata yang mempesona karena kamu sering memandanginya.

 

Dan kamu teringat kali terakhir kamu menemuinya. Mata itu, bibir itu, lekuk itu; semuanya bukan lagi milikmu. Bahkan jalinan sel abu-abu di dalam rongga kepala yang telah kamu cicipi tak lagi penuh oleh sosokmu. Kerlingan mata menggoda yang tak lagi diperuntukkan kepadamu seorang. Kecupan nektar keabadian yang tak lagi dipersembahkan untukmu. Gerakan menggoda yang tak lagi disuguhkan untukmu.

 

Tapi kamu mengakui, bahwa godaan itu lebih nyata setelah kamu mencicipi organ dalamnya secara nyata. Tiap tetes darah kamu coba sedot dengan rakusnya, sebagaimana kamu menyedot cairan cinta yang selalu dia keluarkan saat dia bersamamu dahulu kala. Nikmat yang begitu menggiurkan dan tak sanggup kamu tolak, sampai-sampai kamu melahap organ pencernaannya dengan rakus, seakan tak pernah makan selama bertahun-tahun.

 

Ini nikmat yang selalu kamu damba-dambakan, dan kamu sadari detik ini. Berpadu dengan rasa sepi tak terperi yang merajam hingga ke sumsum tulang, kamu menitikkan air mata kebahagiaan sembari tertawa berderai-derai. Nikmat yang lebih nikmat daripada sekedar intimnya sentuhan fisik di sudut gelap. Kamu mengendarai gelombang hasrat luar biasa yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya, tak pernah kamu tahu betapa kebahagiaan bisa begitu memuaskan seperti ini.

 

Lalu kamu kembali memandang ke arah onggokan daging manusia yang berlapis lalat-lalat menjijikkan. Senyummu mengembang lebar-lebar, suaramu bergetar sewaktu kamu membisikkan kalimat terakhirmu hari itu sementara jemarimu mencengkram gagang pisau yang selalu kamu bawa ke mana-mana.

 

Kamu hunuskan pisau itu ke tenggorokanmu, dan meluncurlah kalimat terakhirmu:

 

“Kamu mencinta, maka ada kah ‘kamu’?”

 

Iklan

4 tanggapan untuk “Jika

  1. Liat judulnya langsung teringat lagu Jika.

    ‘Jika teringat tentang dikau…’ xD

    Saya bisa icip sastra dan filosofi di sini. Keren e

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s