Penipu

Penipu.

 

Kata itu kerap terlintas di benaknya saat dia teringat sosok seorang anak laki-laki yang dahulu memenuhi benaknya. Anak laki-laki berseragam putih biru, dengan sepatu kets hitam dan tas hitam tersanding di bahu. Dasi biru tua jatuh horizontal di dadanya, topi putih biru dengan lambang resmi pendidikan berada di kepalanya.

 

Saat anak lelaki dalam benaknya itu tersenyum, geram mengambil alih. Memusnahkan kenangan manis khas anak Sekolah Menengah Pertama yang sedang bermain-main dengan sebayanya.

 

Dia murid pindahan di sekolah itu. Tak mengenal siapa-siapa. Tak dapat mempercayai siapa-siapa.

 

Mengapa?

 

Mereka semua penjahat.

 

Tertawa di hadapannya seolah ikut bergembira. Menangis di hadapannya seolah turut bersedih. Saat neneknya meninggal setelah satu tahun dia bersekolah di sana, mereka datang ke rumahnya bersama wali kelas; seakan-akan turut berduka. Termasuk anak laki-laki itu, yang memberikan senyum simpatik kepadanya.
Saat rasa senang menggeliat dalam hatinya, saat itu pula dunianya runtuh.

 

Mereka memergokinya tengah memandangi anak laki-laki itu di waktu istirahat. Salah seorang dari mereka bertanya.

 

“Lu suka sama Nanda, ya?”

 

Suka? Dia tidak mengerti definisi kata itu. Maka, dia menggeleng dan hanya menggumamkan bahwa dia tertarik dengan bagaimana anak laki-laki itu tersenyum. Bagaimana sudut bibir kanannya naik sedetik lebih cepat daripada sudut kiri. Bagaimana kedua matanya mengejap sesaat sebelum senyum melukis diri di wajah itu. Bagaimana senyum itu sanggup menenangkan hatinya. Senyum itu. Senyum itu. Senyum itu. Senyum anak laki-laki itu.

 

Mereka tersenyum untuknya, atau setidaknya begitu yang tertanam dalam pikirannya hingga keesokan hari.

 

Dia tercenung. Meja kayunya penuh dengan coretan. Kayu terkelupas membentuk tulisan. Macam-macam hinaan tertera di sana.

 

Sombong. Kecakepan. Sadar diri! Jelek.

 

Tetapi, bukan itu yang membuatnya terperangah.

 

Novi suka sama Nanda.

 

Mereka datang. Mereka mengerubungi mejanya. Mereka menarik napas panjang, tapi dia menyadari jika hal itu terlalu dibuat-buat. Dia menoleh ke salah satu dari mereka dan menangkap senyum yang terkulum. Salah seorang dari mereka berteriak pada teman-teman sekelas yang baru datang. Menyuruh mereka melihat mejanya.

 

Dan dunianya runtuh.

 

Sejak saat itu, ke mana pun dia pergi, celaan mengikutinya. Ejekan. Hinaan. Adalah sebuah peraturan tak tertulis dalam sekolah itu untuk tidak menyukai anak-anak populer, atau bintang sekolah, kata mereka. Siapa yang berani melakukan itu harus menanggung malu.

 

Dia ingin menutup mata.

 

Biarkan dia menutup mata dan berpikir kalau ini semua hanya mimpi buruk.

 

Tak sengaja, tatapannya bersirobok dengan anak laki-laki itu.

 

Anak laki-laki itu tersenyum. Tetapi, kali ini kedua sudut bibirnya naik secara bersamaan. Sebuah senyuman mencemooh terlukis di sana.

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Penipu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s