Hakekat Cinta dan Obsesi

Arthur Schopenhauer berujar bahwa cinta adalah penipuan diri yang dipraktekkan oleh alam; bahwa ‘tidak ada perkawinan yang mendatangkan petaka kecuali perkawinan karena cinta’. Alasan yang dia kemukakan adalah ‘bahwa tujuan perkawinan adalah perpanjangan spesies dan bukan kesenangan individu’ karena bereproduksi adalah naluri paling kuat dan tujuan utama dari setiap organisme, termasuk manusia.

 

Saya merenungi kata-kata itu dan menemukan jawaban yang sama sekali lain. Mungkin karena perbedaan masa dan kultur yang sudah begitu besar antara saya dan sang filsuf, yang menyebabkan saya berpikir seperti berikut ini:

 

“Tidak ada perkawinan yang mendatangkan petaka kecuali perkawinan tanpa cinta.”

 

Bagi saya, susah untuk mengabaikan suatu perasaan hampa yang mengusik hati tat kala saya membayangkan jika suatu hari saya terbangun dan seluruh dunia menyetujui bahwa cinta itu tidak ada. Suatu hal yang mustahil, memang, karena rasa cinta adalah bagian terdekat dengan identitas seseorang. Jika seseorang tidak mencintai kehidupan, maka harapan, kesedihan, pembelajaran serta pendewasaan diri tidak akan menghampirinya.

 

Setelah saya telaah lagi, Arthur Schopenhauer mengintip cinta melalui rasa obsesi. Katakan saya salah, tetapi saya berpendapat bahwa esensi patah hati sang filsuf, yang membuatnya dan sederet filsuf lain menilik sisi kelam cinta, sesungguhnya berpusar pada obsesi.

 

Jika saya mencintai dunia ini dan saya ingin memilikinya seorang diri, apakah itu cinta ataukah itu obsesi? Dalam definisi cinta sang filsuf, yang dapat saya rasakan adalah obsesinya karena cinta itu berujung dan meruncing oleh nafsu.

 

Dan bagi saya, sekedar nafsu tidak memenuhi kriteria cinta.

 

Mungkin pernyataan saya ini terlalu didasari oleh filsafat optimisme, tetapi bagi saya sendiri, jika seseorang dapat mengapresiasi kehendak bebas orang lain tanpa memaksakan kehendak bebasnya sendiri, maka itu adalah cinta. Cinta itu ibarat gravitasi, yang menarik harapan semua orang untuk memiliki hidup yang baik, untuk berlaku baik kepada sesama.

 

Bagi saya, hakekat cinta tidak akan pernah menjadi buruk. Cinta tidak akan menyebabkan suatu hal yang buruk. Sayangnya, manusia tidak hanya menjadi sarang  bagi perasaan bernama cinta.

 

Dan dalam keangkuhan manusia kepada alam yang terinjak dan mengaduh di bawah kaki, obsesi menjadi nomor satu-lah yang mengaburkan hakekat cinta.

Iklan

4 tanggapan untuk “Hakekat Cinta dan Obsesi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s