Eksistensi

Why do I act like this, agreeing when I really disagree, letting people force me to do things I don’t want to do?

Haruki Murakami, The Strange Library

Kehilangan diri sendiri.

 

Engkau hidup namun kehidupan telah memaksamu untuk menjadi seseorang yang amat berbeda dengan keinginanmu. Engkau terus terhimpit dalam kepentingan-kepentingan dunia, sehingga lama-kelamaan engkau diam, mengikuti arus agar tidak ada masalah yang lebih menghimpitmu lebih jauh.
Engkau jalani hari demi hari seperti itu. Tidak lagi hidup, namun hanya bertahan hidup. Hingga suatu hari engkau terbangun, siap menjalani hari, lalu tak sengaja matamu bersirobok dengan bayangan pada cermin.
Lalu pupil matamu membulat.

Siapa kamu? 



Suara batinmu bertanya pada bayangan yang terpantul di cermin. Tanganmu terangkat, jemarimu menyentuh permukaan kulit yang menutupi tengkorakmu. Pandanganmu menghampa bersamaan dengan kekosongan yang menyergap sanubari.

Engkau tak lagi mengenal dirimu sendiri.
*
Banyak orang yang berlaku seperti ini, bukan? Menyetujui sesuatu karena lingkungan menginginkan hal itu, membiarkan orang-orang memaksanya melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan dan diam saja serta mengabaikan jeritan hati nurani.
Lalu tiba-tiba mereka sadar, mereka tak lagi mengenal dirinya sendiri. Di tengah kehampaan itu, mereka pun hanya bisa terus bertahan hidup. Menjalani hari sama seperti sebelumnya, namun kali ini, rasa sakit telah bersemayam dalam hati.
Berapa banyak orang yang memenuhi permukaan bumi, bergerak hanya karena tuntutan sosial dunia. Untuk sukses. Untuk membentuk keluarga bahagia. Untuk memiliki anak yang berprestasi. Untuk memiliki rejeki berlimpah.
Terus dan terus tuntutan yang diberikan sosial, yang dimaksud sebagai pemicu, memusnahkan impian serta kehendak bebas tiap manusia. Dengan paksaan, manusia yang memasuki lingkaran sosial dimasukkan dalam pengotakan-pengotakan berlabel sebagai definisi diri. Perendahan diri paling hakiki serta sistem paling kejam di dunia ini.
Yang saya lihat, butuh rasa muak yang teramat besar hingga seseorang kembali mempertanyakan dirinya serta kehidupannya. Seolah baru terbangun dari mimpi yang panjang, mereka mengerjap dan mengeluarkan pertanyaan bertubi-tubi tentang hakekat tindakannya sendiri.
Paragraf ini kembali mengingatkan saya untuk mempertanyakan diri sendiri, untuk terus terjaga dan menyadari hakekat eksistensi tiap manusia.

Iklan

3 tanggapan untuk “Eksistensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s