Sang Kekasih?

Hampa.

Kehampaan tengah menjalariku.

Memandang fotonya, aku kembali merasakan tendangan kehampaan yang sudah menjadi temanku selama beberapa bulan terakhir. Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi, keluar dari kamarku yang suram dan hanya diterangi oleh cahaya lampu jalan, yang menerobos dari kerai jendelaku.

Mengenakan pakaian terbaik, kupandangi bayanganku di kaca sembari memulas diri. Terbayang lagi wajahnya yang tengah tersenyum padaku. Tatapan matanya yang terarah padaku, yang selalu membangkitkan gadis kecil dalam sanubari untuk berteriak gemas.

Kuusir bayangannya dari benak dan mencoba melangkahi dunia untuk menghancurkan kehampaan dalam diri. Ramainya manusia di permukaan dunia menghardikku dan rasa kosong yang meledak-ledak. Kujalankan sepeda motor menembus dinginnya malam, menambah kecepatan untuk meninggalkan kegelisahan yang telah menggerogoti diri sejak berbulan-bulan lalu.

Namun, otakku memberontak. Dengan kurang ajarnya menghadirkan bayangan ia dalam pikiran. Hingga air mataku tak lagi terbendung. Mengalir deras membasahi permukaan wajah di tengah terpaan angin malam yang menggigit hingga ke sumsum tulang. Ingin menjerit, namun ego masih menghalangi.

Kecepatan motor kembali kunaikkan.

Bagai peluru aku melesat, menembus kegelapan. Memacu kecepatan agar dapat mengenyahkan gelisah yang menjerit-jerit di dalam kepala. Semenjak hari itu.

Dia telah berbohong padaku.

Dia berbohong padaku.

Dia berbohong.

Dusta terucap dari bibirnya. Mendustaiku demi perempuan lain. Luka yang dia torehkan kepada hatiku, kini telah berubah menjadi tetes racun abadi bagi kehidupanku. Tiap hari kujalani sembari menelan racun, yang menyebar ke tiap pori-poriku; membuatku menjadi gumpalan dendam kesumat yang berjalan-jalan di atas permukaan bumi.

Hingga detik ini, masih dapat kuingat dengan jelas. Pesan singkat dalam ruang obrolan yang dia kirimkan kepadaku. Tiap kata terpatri dalam otakku, berputar tanpa memberi kesempatan untuk beristirahat. Bahkan buga tidurku pun dihiasi olehnya; dustanya.

Kasih sayangku terlindas oleh nestapa. Aku tidak membanggakan diri telah berkorban baginya. Tidak, tetapi, kusadari bahwa aku tidak pantas menerima perlakuan seperti itu. Jika memang itu hanya teman, mengapa dia memberi atensi lebih kepada teman perempuannya dibanding kepadaku, yang notabene adalah kekasihnya?

Jika memang dia telah memilihku sebagai kekasih, mengapa saat kami bertemu dan setuju untuk menemani teman perempuannya, aku dikeluarkan dari bahan obrolan mereka? Seakan, tanpa kehadiranku, pembicaraan mereka akan lebih lancar.

Hingga akhirnya aku tidak tahan lagi.

Racun-racun di dalam diriku aku muntahkan kepadanya.

Namun dia menampikku, dengan segenap perasaanku. Berkata aku salah, bahwa aku memandang dari sudut yang salah. Bahwa aku, persepsiku, serta duniaku, adalah sebuah kesalahan.

Semenjak detik itu, aku sadar aku telah kehilangan dia. Kekasihku yang kini bukan lagi seperti kekasihku.

Iklan

2 tanggapan untuk “Sang Kekasih?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s