Kerinduan

‘Mati segan, hidup tak mau’.

Atau ‘hidup segan, mati tak mau’?

Apa pun itu, yang jelas, aku bertahan hidup hingga sekarang semata karena aku segan untuk mengambil pisau dan menggorok leherku sendiri. Jika malaikat maut dapat terlihat dengan mata telanjang, aku mungkin sudah mencari dan mengejarnya lalu bersujud. Memohon agar jiwa ini dicabut saja.

Entah bagaimana awal mulanya, yang pasti, saat kesadaran sudah merasukiku hal pertama yang kurindukan adalah kematian.

Kerinduan akan kematian, bukankah tak ada hal yang lebih menyakitkan daripada itu?

 

Mencoba bertemu berbagai macam manusia dengan dalih observasi, mengagung-agungkan logika untuk melarikan diri dari tendensi utama. Kepengecutanku akan pisau telah membawaku hingga ke detik ini, serta detik-detik sesudahnya karena aku masih takut untuk mengarahkan mata pisau ke leherku sendiri.

 

Aku mempelajari filosofi hanya agar aku merasa bahwa kehidupanku mempunyai makna. Mengoceh panjang lebar tentang Nietzsche dan Schopenhauer padahal yang bercokol dalam pikiranku hanyalah kematian. Melarikan diri dari kenyataan bahwa hidupku tak bermakna, kusinggahi hidup orang-orang untuk melihat makna duniawi mereka.

 

 

Jika diibaratkan, dunia ini begitu penuh warna. Hanya aku yang monokrom. 

 

 

Kadang, aku iri dengan orang-orang. Iri dengan warna ciptaan mereka melalui perjuangan keras. Jangankan berjuang, aku tidak lagi hidup; hanya bertahan hingga ajal mau menjemputku.

 
Pernah suatu ketika aku merenung, mencari-cari alasan mengapa aku merindukan kematian. Tetapi, tak secuil pun kalimat yang kupikirkan mampu menjawab pertanyaan itu. Hingga kusadari, bahwa rindu itu adalah bagian dari cinta; dan cinta sama sekali tidak membutuhkan alasan.

 

Jika menilik ke belakang, kusadari bahwa aku sudah berjalan sangat jauh. Terkadang, aku ingin mencoba berjuang. Ingin mencoba benar-benar hidup seperti orang lain. Namun, lagi-lagi kerinduan itu menguasaiku. Mencabik-cabik keinginanku untuk berjuang lalu dilempar serampangan ke dalam tong sampah.

 

Sering aku mempertanyakan eksistensi diri sendiri. Mengapa aku di sini? Mengapa aku hidup?

 

Sesuai dugaanmu, aku tak mendapatkan jawaban apa-apa.

 

Lalu, kudapatkan sebuah kesimpulan. Aku bertahan untuk mencari jawaban dari pertanyaan itu. Ya. Aku hidup untuk menemukan jawaban dari eksistensi diriku sendiri. Sebuah perang tanpa akhir yang kujalani dengan sukarela.

Iklan

3 tanggapan untuk “Kerinduan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s