Buta

Dia melenguh. Melenguh di antara jeritan serta isak tangis. Nikmat membanjiri tubuhnya sementara dia terus berpacu dengan nestapa di bawah rengkuhannya. Tubuh itu bergetar karena pedih, tapi apa pedulinya? Dia terus memacu, hingga mencapai puncak.

 

Seselesainya, dia membenahi sabuk jeans compang-camping itu. Mengeluarkan belati dari balik ikatan pada pergelangan kaki, “Diam!” bentaknya geram, menjulurkan tangan untuk memotong bebatan tali pada pergelangan tangan yang terikat. Tapi bentakannya membangunkan seringai yang terkubur dalam-dalam.

 

Ash, oh, Ash-ku yang malang….

 

Dia menggeram. Suara itu datang lagi. Membekuk benaknya dengan nestapa. Menghamba padanya dengan pilu tak berakhir. Suara orang yang mengasihinya dahulu kala. Mengasihi lalu meninggalkannya. Mengucap dusta berlapis janji setia. Pengkhianat.

 

Sembari menyeringai lebar, dia meninggalkan gang kumuh itu. Menyambut dunia luar yang tak ada bedanya.

 

Reruntuhan bangunan berserakan, menebar debu pada udara yang tak lagi bersih. Asap hitam pekat menggantikan arak-arakan awan, melapisi bumi. Dengan bau karat yang tak lagi asing di udara. Kubangan air membentuk lumpur kotor, bekas-bekas dari hujan asam yang tak lagi mampu menyokong kehidupan manusia. Jamur tumbuh di sudut-sudut gelap dengan subur, seakan mengejek ras manusia yang gagal mempertahankan spesiesnya.

 

Ash berjalan pelan-pelan di antara besi-besi rusak dan bangkai-bangkai hewan busuk. Bau yang kini sudah menjadi bagian dari hidupnya. Kerikil beradu satu sama lain sewaktu terinjak oleh sol sepatu tentaranya. Mengeluarkan masker dari saku mantel kotornya, Ash memakai benda itu dan menyesap udara yang sedikit lebih nikmat.

 

Dunia sudah rusak.

 

Ash tidak tahu sejak kapan dunia ini sudah mulai rusak. Yang dia tahu, dunia memang sudah seperti ini sejak kesadaran lahir dalam dirinya, tiga puluh tahun yang lalu. Dia lahir dari rahim seorang perempuan tidak bertanggung jawab, dilahirkan di antara lumpur dan kerikil, dengan asap tebal yang mencekik pernapasannya.

 

Perut Ash bergemuruh. Lelaki itu tersenyum. Saatnya mencari santapan siang yang layak, pikirnya, lalu mulai mencari tanda-tanda di kaki langit. Tak sengaja matanya terarah pada sebaris zeppelin yang mengarak di udara. Zeppelin raksasa dengan warna emas yang mencolok.

 

Geram timbul dalam diri Ash. Itu adalah zeppelin milik orang-orang kaya yang sanggup membayar ratusan triliyun untuk membeli kehidupan layak dan udara bersih. Orang-orang kaya yang mementingkan diri mereka sendiri, yang menutup mata atas penderitaan orang-orang kurang mampu di atas permukaan bumi.

 

Hanya sesekali orang-orang kalangan atas turun ke bumi. Biasanya mereka adalah peneliti, dalam jubah putih panjang dan tanpa noda. Turun berbondong-bondong dikelilingi pengawal besi mereka, robot-robot yang diberi kode MSV dan ASV—istilah yang tak dipahami oleh Ash, sesuatu yang bukan urusannya.

 

Yang jelas, peneliti-peneliti itu akan turun dan berpencar ke bumi, mengambil sampel tanah atau sesuatu dengan alasan untuk mencari cara memperbaiki dunia—lagu klasik. Dan itu saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Ash dan orang-orang yang senasib dengannya. Mereka akan bersembunyi di antara reruntuhan, membawa pistol maupun pisau sebagai senjata mereka dan beberaa kerikil untuk mengalahkan pengawal besi. Lalu mereka akan menyerang peneliti-peneliti itu.

 

Kalau beruntung, Ash akan mendapatkan sasaran empuk. Peneliti wanita yang sanggup memuaskan hasrat tertahannya, juga segepok uang kertas atau makanan. Kalau tidak beruntung, dia harus melawan peneliti laki-laki, lalu menyerahkannya pada perkumpulan bandit wanita. Ash bergidik sewaktu membayangkan kali terakhir dia menyerahkan peneliti laki-laki. Korbannya itu dijadikan gigolo selama beberapa bulan sebelum akhirnya mati kelelahan.

 

Hanya secuil simpati palsu, sebelum dia terkekeh lamat-lamat.

 

Ini lah dunia yang Ash tinggali. Dunia di mana semua orang berusaha memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dunia busuk yang semakin membusuk.

 

Sekarang, di mana dia harus mencari makan siang? Kaki Ash melangkah menuju salah satu bangunan runtuh yang dia tahu menjadi perkemahan kumpulan bandit lelaki dengan nama Hunter. Ash mengikik dalam hati karena merasa nama itu terlalu pantas untuk menggambarkan kehidupan mereka yang tak dapat memasuki kemewahan hidup di zeppelin. Mereka memang pemburu, memburu penyambung hidup dalam tiap kesempatan.

 

Ash menundukkan kepalanya, melewati palan besi karatan yang menjadi gerbang masuk perkemahan bandit Hunter. Begitu masuk, dia dicegat oleh dua lelaku berperawakan besar dengan kulit sawo matang yang dilengkapi senjata berat. “Ash,” sapa salah seorang dari mereka. Ash menganggukkan kepala singkat, lalu menyibakkan tirai penyekat pintu masuk yang sudah kotor.

 

Bau manis menyapanya.

 

Dia berjalan lamat-lamat di antara puluhan orang yang tengah tergeletak di atas tumpukan barang, yang diatur sedemikian rupa hingga menjadi semacam sofa. Ash kontan mengecek apakah maskernya masih terikat dengan benar karena dia belum mau menghirup udara beracun yang membuat bandit-bandit itu teler. Semacam opium, kalau kata orang jaman dulu, tapi opium dari bahan-bahan kimiawi.

 

Langkahnya terus melaju hingga dia memasuki ruangan kedua. Ruangan itu sepi, hanya berisi tujuh orang saja dan semua pasang mata seketika terarah padanya saat Ash melangkah maju.

 

Senyum tersungging di bibir, Ash mendekati salah seorang dari mereka. Seorang lelaki dengan perawakan kecil namun memiliki sepasang mata cerdas. Lelaki itu tengah duduk di atas tumpukan kotak kayu berlapis kain beludru apik, satu-satunya orang yang tidak memakai baju compang-camping. Wajahnya yang tirus, memiliki hidung yang agak besar dengan sepasang telinga lebar mencuat di kedua sisi wajah.

 

Orang itu mengingatkan Ash akan tikus tanah.

 

“Ash,” sapa lelaki itu dengan senyum lebar. Orang itu berdiri, merentangkan kedua tangannya dan menarik Ash ke dalam pelukan bersahabat yang selalu membuat Ash menyadari jika dia masih lah seorang manusia. “Lama tak berjumpa, kawan. Apa lagi yang kau bawakan untukku kali ini?”

 

Ash melepaskan diri dari pelukan orang itu dengan senyum sesopannya lalu merogoh kantong mantel bututnya. Dia berniat menyerahkan kenang-kenangan dari korban terakhirnya tadi, seuntai kalung keemasan yang dia tahu akan sanggup memberikannya janji makan selama sebulan penuh. Cukup baginya sebelum mencari korban lain.

 

Dia menyadari kedua mata lelaki itu melebar sewaktu dia mengacungkan kalung di tangannya tinggi-tinggi. Terdengar gemerisik dan suara benda bergeser dari sekelilingnya, dan Ash menyadari semua orang di ruangan itu kini menatap kalung itu dengan takjub. “Aku ingin menukar ini dengan jatah makan selama sebulan.”

 

“Sebulan?” Orang itu terkekeh setelah pulih dari kekagetannya. “Kawanku, kau bisa mendapatkan jatah makan selama tiga bulan lebih dengan benda itu!”

 

Giliran Ash yang terkejut. “Benarkah?” tanyanya, melongo bodoh.

 

“Coba kulihat.”

 

Ash menyerahkan kalung keemasan itu untuk diteliti. Seketika keenam orang lainnya mendekati mereka berdua, ingin melihat lebih jelas. Mengawasi raut muka lawan bicaranya, Ash masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Jatah makan tiga bulan lebih? Luar biasa!

 

Orang itu menatap Ash takjub, “Dari mana kau dapatkan ini?”

 

“Tentu saja dari korbanku, teman,” sahut Ash dengan bangga. “Perempuan itu sangat lemah, melawanku saja sama sekali tidak bisa.” Dia kembali teringat korban terakhirnya. Perempuan dengan tubuh semampai dan kaki yang jenjang. Kalau dipikir-pikir lagi, perempuan itu sama sekali tidak nampak seperti peneliti. Rambut kecokelatannya tergerai begitu saja, beda sekali dengan peneliti perempuan yang sebelumnya dia perkosa. Perempuan itu juga tidak mengenakan jubah putih panjang mau pun celana panjang berbahan tebal. Hanya mantel panjang berwarna cerah dan sepatu biasa. Korbannya yang paling mudah.

 

Lawan bicaranya terkekeh. “Aku lupa. Kau adalah Ash si Pemerkosa yang paling terkenal di seantero dunia. Apa kau sudah tahu kalau mereka menaikkan harga kepalamu menjadi dua belas ribu, kawan?”

 

Ash meringis. Tentu saja dia tidak tahu. Hanya kelompok bandit terkenal yang bekerja sama dengan polisi koruptor dari negeri di dalam zeppelín dan hanya orang di hadapannya yang Ash tahu. Kelompok bandit lainnya bermukim terlalu jauh bagi Ash. “Menarik, bukan? Bagaimana, jatah makan tiga bulan?”

 

“Setuju,” sahut orang di hadapan Ash serta-merta. Mereka berdua segera berjabat tangan. “Kau tahu di mana kau bisa mengambil makananmu, kawan.”

 

Ash baru saja hendak melangkah ke ruangan lain sewaktu salah seorang dari mereka menghentikan Ash. “Hei, Ash!” seorang lelaki dengan kepala botak yang lebih tinggi dari Ash memanggilnya. “Kalau aku tidak salah ingat, nama belakangmu Greene, bukan?”

 

Sekujur tubuh Ash menegang. Nama belakang itu adalah salah satu pembicaraan tabu baginya. “Mengapa?”

 

Lelaki berkepala botak itu menunjuk kalung yang baru saja dia tukarkan dengan jatah makan selama tiga bulan. “Di sini tertulis ‘Gaby Greene’ dan setahuku marga Greene itu hanya digunakan….”

 

Ash tidak mendengar kelanjutannya.

 

Greene. Gaby. Gaby Greene. Gaby.

 

“Kakak!”

 

Anak perempuan itu berusaha menggapainya. Wajah mungilnya bersimbah air mata. Namun sebuah tangan memeluk anak perempuan itu. Menahannya agar tak dapat menggapai Ash.

 

Tangan ramping berkulit putih dengan kuku yang terawat. Tangan ibunya.

 

“Kakak! Ibu, kakak tertinggal! Ibu! Kakak masih ada di sana!”

 

Anak perempuan itu menatapnya nanar. Tangisnya makin menjadi sementara dia hanya bisa memandang pasrah ke arah pintu zeppelin. Paham akan nasibnya sendiri. Paham arti semua itu.

 

Ash dapat merasakan seluruh kegembiraannya menguap saat itu juga.

 

“Ash… Ash-ku yang malang.”

 

Wanita itu memeluknya. Menangis diam-diam. “Maafkan mama karena harus meninggalkanmu di sini. Hanya satu yang bisa mama bawa, Ash. Maafkan mama.”

 

“Jika kamu sanggup memasuki zeppelín, margamu akan membawamu langsung kepada mama. Ingat, Ashtor-ku yang malang,” wanita itu menangis lagi. “Ingat namamu. Ingat di mana kamu seharusnya berada.”

 

Greene adalah nama marganya. Nama ibunya yang selalu dia anggap sebagai kutukan. Ibunya telah meninggalkannya di dunia kumuh ini karena adiknya lebih membutuhkan udara bersih dibanding dia yang sudah remaja.

 

Gaby Greene.

 

Itu nama adiknya.

 

Pemahaman itu menghantam Ash begitu cepat hingga dia akhirnya hanya sanggup terkekeh. Dia terkekeh melihat perputaran nasib, mengetahui bagaimana takdir seseorang yang dirawat sedemikian rupa dulu kala.

 

Dan sama sekali tidak ada rasa bersalah dalam dirinya. Alih-alih, timbul kepuasan yang melebihi rasa bangga.

 

Adiknya telah hidup bermewah-mewahan di dalam zeppelin sana selama lebih dari dua puluh tahun.

 

Gaby hidup dengan udara yang bersih. Dengan makanan yang cukup, tanpa perlu bersusah-payah mencari. Tanpa perlu merasakan kelaparan. Tanpa perlu bersusah-payah mencari pakaian yang layak. Tanpa takut dengan MSV mau pun ASV. Tanpa harus tunggang-langga mencari tempat berteduh ketika hujan asam turun. Tanpa harus berhati-hati dengan penyakit. Tanpa harus menyongsong kematian tiap detiknya. Tanpa harus bergelung di bawah reruntuhan bangunan di saat dingin. Tanpa harus mencari cara agar terhindar dari badai pasir di saat gersang. Tanpa harus menyiksa orang lain untuk bertahan hidup.

 

Gaby pantas mendapatkan sedikit rasa sakit.

 

Ash menyeringai kepada ketujuh lelaki di dalam ruangan itu, “Aku akan mengambil jatah makanku siang ini, kawan,” ucapnya kalem kemudian berlalu dengan langkah yang terasa begitu ringan.

 

Dia baru saja melakukan hal terbaik dalam hidupnya.

 

Hanya satu penyesalan saja. Seharusnya dia mengoyak kaki Gaby sehingga adiknya tidak bisa pergi dari gang kumuh itu. Ibunya pasti akan mendengar hal itu dari para MSV dan ASV, lalu bergegas turun ke dunia ini. Demi Gaby.

 

Jika hal itu terjadi, Ash berarti punya kesempatan balas dendam.

 

Lelaki berusia tiga puluh dua tahun itu menggelengkan kepala. Terlalu banyak hal yang harus dia persiapkan demi itu, dan dia terlalu malas. Untuk kali ini, Ash membiarkan dirinya puas dengan sensasi balas dendam kecil yang dia lakukan secara tidak sengaja.

 

Gaby maupun Eva Greene bukan lah bagian dari hidupnya lagi. Bahkan jika mereka berdua meregang nyawa di kakinya, Ash hanya akan menyaksikan dengan secuil rasa senang yang tak bertahan lama.

 

Dia bukan lagi Ashtor Greene.

 

Hanya Ash. Ash si pemerkosa ratusan wanita, bahkan adik kandungnya sendiri.

 

Hanya Ash.

 

Dan dia bahagia dengan itu.

 

–terpublikasikan juga pada akun Wattpad Ghrunklesombe Phantassia dalam tantangan Ethopa Dystopia G. Challenge dengan nama akun feryrows

Iklan

3 tanggapan untuk “Buta

  1. Tambah keterangan: (-cerita ini menempati juara ketiga dalam tantangan tersebut.)
    Pantas kayak pernah baca. 😹 Kereeeeen, sayang😘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s