Firasat

“Siapa kau?” ucapku dengan napas terputus-putus. “Di mana ini?”

Di depanku berdiri seorang lelaki dalam pakaian asing. Lelaki itu tinggi, dengan rambut pendek semerah darah. Sepasang mata hitam legam menatapku, sementara tangan kanannya terentang, mungkin dia berupaya untuk membuatku tenang.

“Jangan mendekat!” bentakku saat dia maju selangkah.

Dia terus menatapku dengan pandangan yang memancarkan kebingungan. Mulut tipisnya lalu komat-kamit mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang tak kupahami. Mantra, kah? Tapi dia tidak nampak seperti amberstar mau pun anak-anak Igna. 

Dan hutan ini bukan hutan yang kukenal di pulau Authere. 

Lelaki itu masih berbicara sembari menggerakkan kedua tangannya. 

“Gunakan bahasa Alterium, demi Dewa!” hardikku frustrasi.

***
“Ova, kau hendak pergi ke Authere lagi?”

Adik sepupuku, Yhait, bertanya dengan suara polosnya. Kupandangi perempuan yang lebih muda dua tahun itu dengan dahi mengernyit, tanda ketidakpahamanku atas pertanyaannya. Di sekeliling kami, suara mesin uap saling berlomba-lomba mengisi udara. Pekak yang terasa memaksaku untuk mengeraskan suara. “Begitulah, ada apa?”

Yhait menggeleng lalu memandangku takzim. Membuatku semakin tidak paham saat kedua bola mata cokelatnya tampak berbinar-binar. “Apa kau akan pergi dengan Note?” tanyanya sembari mengalihkan pandang kepada Viscount Note Arianor, seorang bangsawan Alterium yang tengah berjalan-jalan di landasan zeppelin bersama kedua ASV setianya. “Firasatku buruk.”

Gantian aku yang menggelengkan kepala. “Dengar, Yhait,” kugoyangkan jari telunjukku di depan wajahnya yang manis. “Aku tidak berpergian dengan Viscount Arianor. Beliau berbaik hati mengijinkanku untuk menumpang di zeppelin kura-kura terbangnya, jadi jangan mulai memikirkan sesuatu yang bisa berubah menjadi rumor buruk. Dan lagi, sebut beliau dengan gelarnya, paham?”


Lagipula, Viscount muda itu sudah mempertaruhkan nama perisai langit bagi Lady Charis Ardena
, lanjutku dalam hati. Kutepuk pundak Yhait sebagai tanda perpisahan dan segera mendekati zeppelin milik Viscount Arianor yang sangat unik, atau, kalau boleh kubilang, aneh: kepala kura-kura raksasa tersembul di bagian paling depan diikuti dua pasang kaki di sisi-sisi zeppelin. Bahkan bagian atas zeppelin itu menyerupai cangkang kura-kura.

“Selamat siang, Viscount Arianor,” sapaku hormat kepada lelaki yang kini tengah berbicara dengan kedua pelayan ASV-nya. Lelaki itu menyunggingkan senyumnya lalu menyuruh kedua pelayannya, Stewart dan Gardien, untuk meninggalkan kami berdua. “Sore yang cerah, bukan?” sambungku dengan topik hambar.

“Betul sekali, Lady Phravire,” balas sang Viscount dengan nada ceria kepadaku. Ditunjuknya langit yang terselubung perisai tak kasat mata dengan kedua mata berseri-seri. “Lihat, awan hanya berarak di ufuk barat, matahari sendiri terlihat sejingga jeruk di saat seperti ini. Sayang, penelitian alat memotret masih belum bisa menghasilkan potret warna-warni.

“Terima kasih atas tumpangannya, Viscount Arianor,” lanjutku tanpa mengindahkan kekagumannya akan langit senja. Melewatkan satu senja di benua Alterium yang menyuguhkan langit jingga sebagai latar bangunan-bangunan tinggi kusam tidak akan membuatku mati. “Entah bagaimana saya harus membalas kebaikan Anda kali ini. Hutang saya kepada Anda sudah terlalu banyak.”

Viscount Note Arianor mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat transparan di udara, “Jangan pusingkan hal itu, Lady Phravire, kebetulan aku sendiri memiliki urusan di Authere. Tapi, kalau boleh aku bertanya, apa urusanmu di benua terlantar itu?”

Benua terlantar adalah sebutan bagi penduduk Alterium bagi benua Authere. Bukannya benua Authere ditelantarkan oleh pemerintah Ghrunklesombe atau pun oleh Igna dan anak-anaknya, hanya saja benua itu tidak berada dalam daftar tempat yang cocok untuk berwisata.

Hanya senyum yang sanggup kusunggingkan bagi pertanyaan dari Viscount Arianor. “Saya hanya ingin mengunjungi benua itu, Viscount Arianor. Semoga keberadaan saya tidak mengganggu kepentingan Anda.”

Viscount Arianor memandangku sejenak lalu mengendikkan bahu, “kalau begitu, mari kita pergi. Stewart dan Gardien sudah menunggu di dalam zeppelin.”

Kuikuti langkah sang Viscount sembari menoleh ke belakang. Adik sepupuku, Yhait, masih berdiri di sana. Rambut pendek hitamnya menari-nari liar tersapu angin musim semi yang kencang. Kulambaikan tanganku sembari meringis lebar-lebar. Yhait selalu khawatir berlebihan saat aku hendak pergi ke Authere, yang mana sangat wajar. Hanya aku satu-satunya kakak dengan pertalian darah yang mau menampung dia.

Tetapi, aku tidak bisa mencegah diriku sendiri. 
Tangga besi itu berdentang ribut sewaktu kunaiki dan bertambah ribut saat Viscount Arianor melambai heboh kepada seorang perempuan di landasan. Perempuan cantik dengan rambut hitam sehalus sutra yang digelung tinggi dan gaun sehari-hari modis. Kukenali perempuan itu sebagai Lady Charis Ardena, dan seketika aku merasa seperti seorang pengintip yang tengah menonton adegan mesra di luar pengetahuan pelakunya. 

Viscount Arianor memasuki zeppelin dengan raut wajah sumingrah sementara aku masih tinggal di pintu masuk, mengamati Yhait yang juga mengamatiku. Kulambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum pintu itu berdentang tertutup. 

Di dalam zeppelin itu, Stewart dan Gardien menyambutku hangat. “Selamat datang Lady Phravire. Silahkan duduk dengan nyaman sementara kita melintas menuju benua Authere,” ujar ASV bernama Stewart yang kukenali karena dua pedang di punggungnya. ASV satu ini tidak menampakkan ekspresi apa pun, kebalikan dari Gardien, yang meringis cerah ceria sembari menatapku jenaka. 

Suara mekanikal Stewart entah bagaimana membuatku tenang. “Berapa lama waktu tempuh zeppelin ini?” tanyaku sembari duduk di salah satu kursi empuk yang ada. Viscount Arianor sendiri tampak duduk dengan wajah khas orang dimabuk cinta di kursi lain. 

“Kurang lebih setengah jam, Lady.”
Kuanggukkan kepalaku lalu menyandarkan punggung. Berusaha menikmati perjalanan ini sembari pikiranku melayang kepada awal mula yang membuatku tenggelam oleh obsesi akan benua Authere. 

Lelaki itu. 

Pelukis yang selalu mencari keindahan di mana pun dia berada. 

Lelaki yang selalu membawa buku sketsa ke mana pun dia pergi. Lelaki dengan hati paling sensitif, dengan tingkat empati yang tumpah ruah kepada seluruh makhluk hidup di alam semesta. Pelukis-ku tersayang. 

Pelukis yang menjelajahi dimensi-dimensi dan semesta-semesta. 


Kuharap dia sudah datang.

“Lady Phravire,” sebuah suara mekanikal memasuki indra pendengaranku. “Lady Phravire, kita sudah mendarat.”

Segera kedua mataku terbuka dan mendapati Stewart di depan wajah. Nyaris aku menjerit jika tidak kutahan napasku. “Stewart, mundur lah,” ujarku malu. Kuawasi ASV itu sementara dia menegakkan badan sembari memaki dalam hati. Kenapa aku bisa tertidur? Memalukan!

“Kita sudah sampai di Authere, Lady,” ulang Stewart tanpa perubahan intonasi. Kontan aku meloncat berdiri lalu mengedarkan pandangan. Benar. Mesin zeppelin sudah mati. Dapat kulihat tumbuhan-tumbuhan unik di balik kaca. 

“Di mana Viscount Arianor?” tanyaku panik.
“Tuan Muda sudah meninggalkan zeppelin beberapa menit lalu. Beliau berpesan kepada saya untuk menjaga Lady dan jika Lady ingin meninggalkan zeppelin, ‘silahkan saja, jangan menungguku’.”

Wajahku memerah. Bagaimana aku ini, malah bertindak tidak sopan kepada orang yang sudah memberiku tumpangan. “Aku mengerti,” ujarku dengan rasa malu membakar wajah. “Kalau begitu, tolong sampaikan kepada Viscount Arianor rasa terima kasihku, juga bahwa dia tidak perlu menungguku.”

“Baik, Lady Phravire.”

Segera aku keluar dari zeppelin kura-kura itu dan menyesap harum tumbuhan khas dari Authere. Senyumku mereka dan rasa bahagia menghampiri, meski aku harus berhati-hati dengan kaum Wolf dan Alche-creator yang kabarnya sedang mencari murid baru. Tapi bayangan akan bertemu dengan pelukis itu membuatku girang.

Baru beberapa kali melangkah, kudengar suara seseorang memanggilku. 

“Lady Phravire!”

Kepala menoleh ke kanan dan kiri. Di mana orangnya? 

“Lady Phravire!”

Badan berputar 360 derajat. Di mana, sih?




“Lady Phravire! AWAS!!”

Gemuruh memekakan telinga.

Petir menyambar-nyambar di langit yang entah sejak kapan sudah berselimut awan gelap. Guntur menggelegar tak kalah hebatnya sementara tanah di bawah kakiku bergetar hebat. Panik, aku memandang Viscount Arianor yang ternyata berada di atas pohon. Viscount Arianor menunjuk-nunjuk panik ke belakangku.
Aku membalikkan badan.

Kesalahan fatal.

Kakiku langsung lemas saat melihat apa yang ada di belakangku. Sebuah lubang menganga di udara. Lubang itu hanya sebesar lubang menuju liang kelinci, namun ukurannya semakin lama semakin bertambah. Udara mulai berpusar di sekeliling lubang itu, terbentuk dari pertabrakan udara sehingga menciptakan ruang hampa. 

Dan di balik lubang itu, hanya ada kegelapan. 
Juga monster-monster berbentuk menjijikkan.
Hasil pertabrakan udara membuat lubang itu seperti mesin sedot. Dapat kurasakan badanku yang terseret secara perlahan sementara lubang itu semakin besar. Aku menjerit, namun suaraku kalah oleh gelegar guntur dan deru angin di sekelilingku. 

Sekilas, kulihat Viscount Arianor tengah bertahan di pohon itu bersama ASV-nya. 
“Viscou—!” suaraku menghilang, dan aku terseret ke dalam lubang itu. 


Jddan
.

***

“Gunakan bahasa Alterium, demi Dewa!” hardik perempuan itu frustrasi.

Antheo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sama sekali tidak mengerti bahasa yang digunakan perempuan itu. Penampilan perempuan itu sangat aneh, begitu pun gerak-gerik dan warna matanya yang selegam arang. Tak pernah dia, Antheo Vrind, melihat perempuan seperti itu di semesta Usthovia.

“Apa mungkin dia berasal dari dimensi lain,” gumam Antheo kepada dirinya sendiri. Dia teringat gempa luar biasa beberapa saat lalu yang menghitamkan langit dan memakan matahari. Hutan ini memancarkan energi yang sama dengan yang dia rasakan sewaktu tanah bergetar.

Diliriknya perempuan asing itu dan memantapkan diri.

Dia akan membawa perempuan itu ke rumahnya dan mencari cara untuk mengembalikan perempuan itu ke dimensinya. Antheo mulai menunjuk dirinya sendiri, “Antheo,” lamat-lamat dia melafalkan namanya sendiri lalu menunjuk perempuan itu dan menunggu. 

“…Ovari.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s