Hidden Voice; Bisikan Pertama

Ramai percakapan menyapanya.

Seiring dengan dengung lagu yang mengalun melalui earphone-nya, dia melangkahkan kaki menyusuri trotoar bagi pejalan kaki yang lebarnya berlebihan bagi ukuran trotoar biasa di kota itu. Entah apa yang menariknya hingga dia memutuskan berjalan di sini, sendirian bagai orang gila, di tengah rintik gerimis yang tak terlalu mengganggu.

Matanya menangkap kumpulan orang yang berteduh di bawah lengkungan gerbang museum. Vredeburgh memang satu-satunya museum yang didatangi pada malam hari oleh orang-orang yang tak berminat dengan sejarah, alasannya sudah tentu karena letak museum itu yang tepat berada di jantung kota – dekat dengan perempatan terbesar yang amat bersejarah di kota ini, kota Yogyakarta.

Genjrengan gitar membahana dari salah satu sudut, di bawah payung besar milik salah satu usaha tatto kaki lima yang umum ditemukan di daerah ini pada malam hari. Nyanyian sumbang ramai membelah udara malam di antara derum kendaraan bermotor yang meraung di jalanan. Hanya orang gila yang beryanyi menyaingi suara knalpot, dan dia bersyukur dia bukan bagian dari perkumpulan gila itu.

Meski dia sendiri sering dikatai orang gila.

Saat dipikir-pikir, hal itu adalah lumrah adanya. Berbekal pengetahuan kalang kabut serta norma yang melenceng, dia menjalani hidup layaknya sebuah permainan. Menenggelamkan harapan orang-orang padanya dalam sebuah kubangan kotor penuh lumpur, bertingkah menyebalkan layaknya tokoh utama dalam sebuah komik yang tak laku dan membanggakan dirinya sebagai sastrawan gagal – apa yang membuat orang segera tertarik sekaligus ngeri padanya.

Tapi dia sendiri sudah berkompromi dengan keanehan itu. Dengan keyakinan bahwa dia sama seperti gadis-gadis gipsi yang suka merenung dan mencari nilai spiritual palsu di dunia yang tak jelas juntrungnya ke mana, dia menyambut setiap orang yang datang dalam hidupnya dengan sebuah senyum lebar tanpa cela. Dan dia selalu berhati-hati saat membiarkan orang baru mengenal dunianya; ada bagian-bagian dalam dirinya yang lebih baik dia simpan sendiri daripada diumbar ke seluruh dunia.

Salah satunya, tentu saja, sifat sadisnya. Dia mempunyai cara sendiri untuk menyamarkan keinginan ngawur untuk membunuhi setiap orang yang dia temui. Mengadaptasi sikap-sikap pembunuh dalam novel suspens, dia membungkus kekejaman itu dengan candaan sarkasme yang membuat orang tak bisa mengatakan dengan penuh percaya diri apakah dia bercanda atau tidak. Dan dia menyukai saat di mana kebingungan itu menyeruak ke permukaan. Gampangnya, dia suka saat semua orang takut padanya – takut dan tunduk. Oh, itu akan sangat membangkitkan nafsunya.

Tapi di sini, di pinggir perempatan Titik Nol kota Yogyakarta, semua itu menghilang begitu saja. Hanya sebuah memori yang tertinggal dalam benaknya, memori tentang seseorang yang menghantuinya selama lima tahun terakhir. Cinta pertama? Mungkin saja. Bagaimanapun juga, orang itu memberinya sesuatu yang hampir sama dengan kebahagiaan. Orang itu memenuhi semua keinginan terpendamnya hanya dengan satu gerakan halus.

Oh sudahlah.

Dia menggelengkan kepala, mengusir kenangan mengenai orang itu, dan menjatuhkan kembali kesadaran ke permukaan bumi, di mana orang-orang rendahan mulai meliriknya yang terpaku di bawah gerimis, dengan tatapan sok pemburu. Tentu saja dia mencibir orang-orang itu dalam hati. Mereka belum melihat kekejamannya yang nyaris sama seperti setan.

Lalu seorang dari mereka mulai bangkit untuk mendekatinya. Detik itu juga, dia tahu. Dan dia ingin menyeringai. Senang luar biasa mendapati ada korban baru untuk dikerjai. Dia tahu orang itu akan menghampirinya, mencoba berbasa-basi dengannya, mendekatinya dan memancingnya untuk mau tidur dengan orang itu. The hell, pikirnya sembari berdiri sesantai mungkin di bawah tiang lampu jalan.

Tapi orang itu – pemuda itu – berhenti sebelum mencapainya. Berhenti saat ada orang yang menghampirinya. Orang dalam balutan pakaian yang serba hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia segera melempar senyum pada orang yang kini sudah berdiri di depannya, senyum termanis berlumur dusta serta nafsu memonopoli.

“Ngapain di sini, ayo pergi.” Orang di hadapannya berkata dengan suara rendah bernada sebal. Dia hanya senyum-senyum saja sembari menyalakan sebatang rokok yang sedari tadi terselip di antara jemarinya.

“Bentar dulu, ada mainan tuh.” Ujarnya sembari menyemburkan asap tipis sarat nikotin. Orang di hadapannya menoleh ke balik bahu, ke arah pemuda yang gagal untuk menghampirinya. Jelas orang itu memelototi pemuda itu, yang segera kembali ke tempatnya berasal dengan langkah setengah berlari.

“Ah, kamu bikin mainanku lari.” Ujarnya geli.

Orang itu memelototinya. Tak setuju. Sebal. Dia hanya tertawa kecil, geli luar biasa dengan sikap orang itu yang overprotective. Toh dia tidak sungguh-sungguh ingin bermain, jadi dia tidak benar-benar merasa rugi kehilangan ‘mainan’nya yang baru. “Ayolah pergi, males gua di sini.”

“Udah ketemu si-” kalimatnya berhenti saat orang itu meliriknya sadis. Dia paham seketika, tahu nama yang akan dia sebut hanya membawa luka. “Oke, ayo pergi.” Dia mengendikkan bahunya, menghisap rokoknya beberapa kali dengan terburu-buru sebelum menghancurkan benda itu menggunakan alas kaki berhak yang dia kenakan. Digandengnya orang itu, lalu pergi menyusuri trotoar yang mulai licin akibat hujan.

***

Dia teringat sesuatu. Sebuah mimpi yang sepertinya telah dia lupakan sejak berjuta tahun yang lalu.

Mimpi itu kembali padanya di saat-saat yang tak terduga. Saat dia tengah menghisap rokok entah untuk ke berapa kalinya dalam hari itu ditemani seorang pemuda yang mengklaim title sebagai sahabatnya.

Kafe itu ramai, seramai yang dimungkinkan pada Sabtu malam di mana aura-aura merah jambu cinta bertebaran layaknya virus flu di udara. Adalah hal yang umum untuk melihat pasangan muda-mudi saling bercengkrama tanpa tata krama meski di tempat umum pada hari Sabtu malam – yang biasa disebut malam Minggu. Adalah tak biasa melihat sepasang muda-mudi yang duduk saling berhadapan sembari bertukar tatapan tajam seakan merenung.

Seperti dia saat ini. Orang yang mengaku sahabatnya itu tengah menatapnya dengan hasrat terpendam khas kaum lelaki meski dia jelas-jelas tidak berpakaian tak senonoh. Jumper kelabu menjadi pilihannya malam ini, ditemani sepotong jeans hitam panjang hingga mata kaki sertasneaker hitam-putih sebagai alas kaki. Cukup rapi, tapi toh tetap mengundah nafsu lelaki di depannya.

Tangannya gatal ingin meraih garpu yang tergeletak di tengah meja dan mencolokkan benda mungil itu ke dalam mata lelaki yang mengaku sahabatnya. Sahabat matamu stereo! Mana ada sahabat lusting to his bestie?

Dia menghembuskan asap rokok dengan wajah datar. “Menunggu itu menyebalkan,” gumamnya. Sebal setengah mati karena harus menunggu orang lain sembari berada dalam kondisi tidak nyaman karena digerayangi orang yang mengaku sahabat lewat tatapan mata. Tapi apa dayanya saat ini?

Merenung kembali, dia mendapati sebuah mimpi yang menyeruak ke alam sadarnya. Seperti hadiah kejutan yang meloncat keluar saat kotak hadiah dibuka, mimpi itu membuatnya terkejut dan terpana hingga dia tak sanggup melarikan diri. Pasrah, dia membiarkan dirinya ditarik dalam kemelut mimpi yang terlupakan.

Dia ingat, saat umurnya baru duabelas tahun, ada sebuah hal yang amat membekas dalam dirinya. Sebuah pemikiran yang dilontarkan tanpa sadar oleh sesepuh yang melandasi kehidupannya hingga sekarang tanpa dia sadari.

Ayahnya baru saja memukulinya habis-habisan, simply karena dia menangis saat tidak boleh ikut kakaknya yang baru tengah belajar naik motor. Bilur-bilur masih membekas di sekujur lengannya saat dia terisak di dalam kamar. Sendirian terisak hingga isakannya berhenti saat terdengar ribut-ribut di pelataran rumah.

Dia bergegas keluar, air mata masih mengalir di pipinya dan ingus masih menetes tak karuan. Jarak dari kamar hingga ruang tamu terasa bertambah dua kali. Jantungnya berdegub kencang saat seru-seruan itu semakin terdengar.

Dan yang dia lihat adalah kekacauan. Darah menetes-netes di sepanjang kaki kakak perempuannya yang halus, menggenang di atas lantai ubin sewarna pasir saat kakaknya itu dibopong ke bangku bambu terdekat. Sekujur lengannya lecet-lecet parah, Wajah cantiknya yang selalu dipuja-puja tercoreng debu, keringat serta garis-garis luka fisik.

Di titik itu, dia menjerit sekencangnya.

Orang-orang di sekitarnya kontan terperanjat. Beberapa orang langsung sibuk mencari cara untuk menenangkannya, namun tangisnya tak berhenti. Samar-samar terdengar kata-kata orang tuanya, entah ayah atau ibunya. “Adek maksa pengen ikut tadi mungkin gara-gara dia tahu Linda bakal kecelakaan,” suara itu bernada campuran antara takjub dan ngeri. “Adek instingnya kayak binatang buas, ya.”

Looking back, it was when she knew about her gift.

Mulai sejak itu, dia merasa tersisihkan dari dunia yang dia ketahui. Orang tuanya, kakak-kakaknya, sepupu-sepupunya, saudara-saudara angkatnya, teman-temannya, guru-gurunya; mereka semua memandangnya seakan-akan dia adalah alien nyasar. Mereka memperlakukannya dengan berbeda, membuatnya merasa seperti boneka kaca yang harus dijaga agar tidak pecah.

Dan dia benci hal itu.

Tetapi kebenciannya tertahan oleh kata-kata penenang dari ibunya, bahwa setiap orang yang mengalami hal yang sama dengannya, diperlakukan sama pula seperti dirinya saat itu.

Belasan tahun kemudian, dia baru menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan seperti itu. Kebanyakan orang yang mengaku mengalami hal serupa dan dia sudah temui tak lebih hanyalah dusta belaka. Atau kebetulan. Dan mereka tidak dijaga layaknya hewan buas dalam kerangkeng seperti yang dia alami sendiri.

Kenyataan menyedihkan itu membuatnya membentuk benteng dalam dirinya sendiri agar tak seorangpun sanggup masuk ke sana. Harapannya yang dia tumpuk tinggi-tinggi dihancurkan dengan mudah oleh kedua orang tuanya sendiri hingga semua balok penopang hancur berantakan. Tak ada lagi yang tersisa untuk membangun harapan baru, dan – meski ada yang tersisa – dia takkan membiarkan dirinya sendiri untuk melakukan itu.

Lamunannya buyar saat meja tempatnya menaruh tangan berguncang saat seseorang datang dan melemparkan tas dengan kasar ke meja. Dia menengadahkan wajah, menatap lekat pada orang yang menghampirinya saat berada di Titik Nol. Sahabatnya yang lain, perempuan namun tak kalah tampan dari lelaki. “Lama,” dia berucap ringan.

Perempuan itu lagi-lagi mendelik ke arahnya, menunjukkan sebalnya secara terang-terangan. Tinggal menunggu rentetan peluru dimuntahkan dari mulutnya yang berbibir tipis dengan seringai menyebalkan saja, sebelum dia mati karena menahan tawa.

Tetapi perempuan itu membalikkan badan untuk merogoh tas punggung kecil yang dikenakannya. Membangkitkan rasa penasarannya dengan menyajikan sepucuk amplop putih tanpa nama pengirim, hanya nama penerima yang ditulis dengan tinta hitam kebiruan, khas gel dari ballpoint murahan. Namun bukan itu yang membuatnya seketika terduduk tegak.

To : Cheia

Nama di amplop itu bukanlah nama asli perempuan di hadapannya. Itu hanyalah sebuah nama yang dibuat olehnya dan perempuan itu sebagai kode bagi orang luar, sejauh apa para outsiderbisa melangkah dalam hubungan di antara keduanya. Nama itu tak pernah keluar kecuali dari mulut mereka berdua.

Dia dan perempuan itu saling bertukar pandang. Khawatirnya menyalur ke dalam diri perempuan itu melalui hening yang tercipta di antara keduanya.

“Apa itu?” lelaki yang mengaku sahabat mereka berdua tiba-tiba bertanya, membuat dia menoleh dengan tatapan sadis lalu menggeleng tak tahu dengan ekspresi lebih lunak saat menyadari lelaki itu tak berusaha menatapnya penuh hasrat. Lelaki itu mengalihkan perhatian pada perempuan satunya, “isinya apaan, Fin?”

Fin alias Cheia tak menjawab pertanyaan lelaki itu, hanya meraih amplop itu kembali lalu membukanya dengan setengah hati. Dijatuhkannya isi amplop itu agar kedua orang di hadapannya dapat melihat dengan jelas.

Secarik kertas. Putih bersih tanpa garis. Kertas itu dipotong menjadi bujur sangkar dengan ukuran sekitar limabelas sentimeter pada tiap sisi. Pelan, Fin membalik kertas itu, menunjukkan sebuah kalimat yang ditulis dengan huruf kapital dan mengandung pertanyaan tersirat yang tak lazim. Kedua orang di hadapan Fin mencondongkan tubuh agar dapat lebih jelas membaca isinya.

Di bawah sorot lampu putih terang, tulisan itu tampak jelas. Seperti noda di atas kain yang putih bersih. Ditulis dengan tinta yang sama, dengan tulisan tangan mirip seperti pada amplopnya. Kalimat itu berdiri di tengah kertas seolah menantang setiap mata yang membaca untuk mengulitinya hidup-hidup.

HALO PLAYER KETIGA SAYA, SAYA HARAP KAMU TETAP WARAS MESKI SUDAH TERLALU LAMA BERKUBANG DALAM LUMPUR HISAP.

“Menurut lu, orang gila mana yang ngirim surat ini ke gua, Dite?” Fin melontarkan pertanyaannya langsung pada Dite, si perempuan yang menjadi sahabat karibnya selama enam tahun terakhir.

 

Published under copyright of feryrows on Wattpad. Segala bentuk plagiarisme akan ditindak secara hukum sesuai dengan UU no. 28 tahun 2014 tentang Hak Kekayaan Intelektual.

Iklan

2 tanggapan untuk “Hidden Voice; Bisikan Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s