Manusia Memang Absurd

Sebuah buku tergeletak di samping notebook-nya. Buku dengan tema berat dan berhias pembatas warna-warni di sejumlah halamannya. Jika tiap lembar terbuka, buku itu akan menampilkan coretan si pemilik yang digores menggunakan ballpoint dengan tinta murahan–agar tidak menembus, katanya.

Sementara si pemilik buku sendiri tengah sibuk dengan notebook berlayar 10 inci yang memancarkan sinar terang. Sesekali, si pemilik buku menurunkan tingkat keterangan cahaya layar notebook-nya dengan kesal, hanya untuk menaikkannya kembali beberapa saat kemudian. Ketukan keyboard-nya menggema jelas, sementara langit di ufuk barat semakin menggelap seiring waktu. Matahari telah menuju ke sisi lain bumi. Meninggalkan langit yang kini berhias iring-iringan awan mendung tanpa niat menurunkan hujan.

Di sebelah si pemilik buku, temannya sibuk menonton sebuah animasi dari negeri sakura sembari tanpa henti mengecek ponselnya yang sibuk berdering. Si pemilik buku dan si pecinta animasi. Duo bagus sekaligus awkward hasil lelucon takdir yang seringnya ironis.

Si pemilik buku sesekali melirik ke arah layar laptop temannya, menikmati cuilan animasi-animasi remaja yang tengah ditonton oleh si pecinta animasi. Kadang, tawa si pecinta animasi membuat tangannya gatal untuk menciumkan dasar gelas ke kepala temannya. Seringnya, dia ingin menghantamkan kursi ke tubuh yang katanya mengurus satu kilogram itu. Sayangnya, dia belum ingin menodai kafe ini dengan adegan berdarah-jadi ditahanlah keinginannya itu.

Sibuknya si pecinta animasi akhirnya mengalihkan perhatian si pemilik buku dari hal yang sedang dia kerjakan. Si pemilik buku melepas earphone-nya lalu menoleh ke arah si pecinta animasi, yang tengah sibuk bermain sebuah game di ponsel. Tangan si pemilik buku menoyor bahu temannya, pandangan bertanya dia berikan. Si pecinta animasi balik memberi pandangan bertanya, yang akhirnya hanya membuahkan kibasan tangan secara asal dari si pemilik buku. Niat bertanya agar tidak sesat di jalan, si pemilik buku memutuskan kalau lebih baik dia tersesat daripada harus bertanya pada orang tidak tahu jalan.

Hingga sekarang, kegiatan absurd mereka masih berlangsung sampai si pemilik buku menuangkannya di dalam lembaran kosong pada WordPress, sekedar untuk mengusir jaring laba-laba dan membersihkan tumpukan debu yang mulai bersemayam di sana.

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Manusia Memang Absurd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s