Setelahnya?

Kamu mengirimkan pesan kepadaku, mempertanyakan pernyataan yang pernah kukeluarkan suatu kala, pada saat asap emosi begitu sarat di udara. Kalimat yang kukeluarkan kala eksistensimu hadir terlalu jauh sementara garis pembatas berwarna merah itu sudah menyala teramat terang. Kamu mempertanyakan maksud dari pernyataanku itu. 

Hubungan kita dimulai dari ketidaksengajaan. Ceroboh, kata saudariku, kamu bisa saja merusak masa depan kita semua. Dan, kuakui aku memang ceroboh kala itu. Menggunakan segala alibi yang memungkinkan untuk mendekatimu. Sekedar berbasa-basi atas nama intellectual curiosity–walau, itu bukan sekedar alibi; aku mendekatimu sungguhan karena aku penasaran. Dan, kamu menyambut umpanku dengan begitu mudahnya. Bahkan umpan kehendak dasar manusia yang kulemparkan, pun, kamu tangkap dengan mudahnya. Tidak, aku tidak melakukannya untuk ‘bermain’–kamu bukan objek yang akan kuajak bermain, sekedar sebagai hiburan. Aku tidak sekejam itu. 

Maka, aku tidak tertawa saat melihat kamu melahap umpanku hingga tandas. Alih-alih tertawa, aku malah kagum dengan caramu melaham umpan. All I can say it was so grateful to the point it pull me hard; so hard till I’m choked by it. 

Suatu kala, beberapa malam silam, engkau mempertanyakan aku dan kehendakku atas kelanjutan seluruhnya. Aku memberimu jawaban semudah itu, hanya karena hal itu yang terlintas dalam benak pada saat itu, namun, bukan berarti aku tidak menginginkan lebih–garis merah itu menyala teramat terang, begitu terang hingga menyakitkan mata; hingga yang kita berdua lakukan adalah menutup kedua pasang mata; membutakan diri sendiri.

Karena kamu berkata, ‘let’s have a wedding‘. Selorohan ringanmu tentu saja kubalas dengan selorohan. Hanya saja, hal itu malah membuatku mempertanyakan apa yang baru saja kulakukan, apa saja yang telah kulakukan, hingga saat kamu bertanya, seperti itu lah jawabanku.

Lalu, saat kamu kembali bertanya, seperti sekarang, aku kebingungan menumpahkan jawaban kepadamu. Aku memang berpikir untuk terus ‘menelitimu’, sebuah pemilihan kata yang pasti akan membuatmu mengerutkan kening–apa kata ‘observasi’ alih-alih ‘meneliti’ akan sanggup menghilangkan ganjalan batinmu? Tentu saja, setelah selesai aku tidak akan lantas membuangmu. Kamu bukan benda, dan tidak ada satu pun makhluk hidup di dunia ini yang pantas untuk dibuang. 

Tetapi, setelahnya? Entah.

Apa yang kamu inginkan dariku? Apa yang kamu harapkan dariku? 

Selama ini tak dapat terjawab, aku tidak akan tahu ke mana semua ini melangkah. Semoga jawaban ini dapat membantumu.

Salam,
Dite

Second Player from UnderGround

Iklan

2 tanggapan untuk “Setelahnya?

  1. Only wanna remark on few general things, The website design and style is perfect, the articles is rattling fantastic. “Drop the question what tomorrow may bring, and count as profit every day that fate allows you.” by Horace.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s