Fragmen Pertama: Dia

Seribu bulan terbit di malam tanpa bintang. Kemilau cahayanya bagaikan pelangi, menyinari tanah suci yang dihuni oleh ratusan juta–tidak, miliyaran penduduk dari berbagai ras. Keheningan malam mencipta di antara dekut etofa serta desau angin tiada henti. Bagaikan sedap malam yang berkembang di saat kesenyapan lahir, tanah suci itu berpendar kemerah-merahan akibat genangan pekat sekaligus anyir yang membanjiri permukaan tanah.

Perang besar tengah terjadi.

Ledakan terdengar susul-menyusul membelah udara. Seruan demi seruan perintah berkumandang silih berganti, mengiringi dentang besi senjata-senjata yang beradu. Rapalan mantra terlontar ke segala arah bersama panah yang hilir-mudik di antara arakan awan kelam.

Di kejauhan, geraman buas sekaligus primitif terdengar jelas. Tanah bergetar dengan derak mengerikan. Ribuan jiwa telah menjemput ajal, meninggalkan onggokan mayat berbau busuk dengan bentuk yang tak lagi utuh. Tanah tergenang cairan merah pekat, menenggelamkan organ-organ dalam tubuh yang tak seharusnya terlihat.

Semesta Astrola tengah berkecamuk.

Dalam kerajaannya, sang Ratu mengawasi jalannya perang sembari menitikkan air mata. Sedu-sedannya ada bagi ribuan jiwa yang tengah bersalaman dengan kematian. Tetes demi tetes air membasahi gaun putihnya, sementara salah satu tangannya mengelus perut yang membundar oleh jiwa baru. Berulang kali pertanyaan ‘kenapa’ meluncur dari bibir tipisnya. Mempertanyakan eksistensi perang demi kekuatan yang telah menggempur semesta Astrola untuk kesekian kalinya.

Di samping sang Ratu, seorang perempuan berlutut. Tubuh semampainya berada dalam kungkungan baju zirah hitam. Rambut sehitam jelaganya tersisir rapi ke belakang. Tangan yang terbalut kulit sepucat pualam itu berada di atas tangan sang penguasa semesta. “Yang Mulia, tenangkan diri Anda,” perempuan itu berujar dengan suara yang begitu rendah dan menenangkan. “Pikirkanlah kondisi bayi yang berada dalam janin Anda dan jangan khawatir. Apa pun yang terjadi, saya akan melindungi Anda dengan segenap jiwa Anda.”

Sang Ratu Semesta mengangkat wajahnya yang berkilau di bawah cahaya ratusan bulan, “Perang ini… Aku tidak mengerti, Erst Chevalien. Begitu banyak nyawa yang musnah hanya demi menjaga kekuatan tanah suci. Berapa banyak lagi nyawa yang harus berkorban hanya demi itu?” Sang Ratu tersedak oleh tangis kemudian merintih saat merasakan kontraksi hebat di perutnya.

Perempuan yang merupakan Ksatria Pertama bagi sang penguasa semesta itu memandang ratunya dengan kecemasan nyaris tak kentara, “Yang Mulia, Anda tidak perlu mengawasi jalannya perang. Ie Oufth sudah berada di medan perang ini dan, saya yakin, dia tengah mengusahakan cara terbaik untuk mengakhirinya.” Perempuan itu serta-merta berdiri sewaktu rintihan sang ratu berubah menjadi erang kesakitan. “Bawa Yang Mulia ke kamarnya!” Dia berseru pada kelima pelayan yang berjaga dalam ruang tahta itu.

Sang Ksatria Pertama mengawasi ratunya dipapah melewati pintu bertikap ganda dan hendak menyusul sewaktu pintu depan ruang tahta menjeblak terbuka. Perempuan itu berputar di tempatnya, menghadapi lima prajurit dengan baju zirah bersimbah darah dan napas tersengal. “Ada apa ini?” Tanyanya dengan nada tajam. “Laporan kalian diterima oleh Ie Oufth, bukan oleh ratu. Jelaskan sikap kalian!”

Dua dari lima prajurit yang berada di depan singgasana ambruk tak sadarkan diri. Dua lainnya jatuh berlutut. Hanya satu yang masih tetap berdiri, meski kepayahan. Energi sang Ksatria Pertama tak dapat terelakkan oleh mereka. “Erst Chevalien, Ravine-ryv. Mohon maaf, tetapi Ie Oufth—“

Ledakan kembali terdengar di kejauhan. Begitu kencang dan menyeluruh hingga dinding istana bergetar karenanya. Perempuan bernama Ravine itu seketika berlari menuju serambi depan sementara si prajurit ambruk tanpa daya. Dia tidak seharusnya pergi dari sisi ratunya. Dia seharusnya tetap di sana, menjaga sang penguasa semesta dengan seluruh kekuatan. Tetapi, apa yang dilihatnya membuat kedua mata sebiru safir itu membundar.

Langit kelam terang oleh sambaran petir. Udara terbelah oleh denging melengking sekaligus halus sementara pemandangan malam didominasi oleh pendar emas menyakitkan mata. Jauh di kaki Gunung Schirzre, medan perang tengah terkungkung oleh dinding energi keemasan yang berpusat pada jam raksasa, yang menggantung di langit. Sebuah jam bundar dengan lingkaran energi membentuk aksara kuno Astrolea di sekelilingnya, dengan sebuah jarum yang menunjuk tepat ke sisi atas. Napasnya tercekat. Jarum jam itu mulai berdetak.

Farchen.

Dia mulai berlari. Melintasi halaman depan istana yang ramai oleh penjaga. Baju zirah hitamnya kini berkilau oleh perak energi miliknya seorang. Bibir ranum perempuan itu bergerak cepat, merapalkan mantra kuno untuk memanggil tunggangan dewa. Siulan tinggi menggedor kesadarannya dari kejauhan. Dia terus berlari, lalu meloncat. Menggapai cakar dari hewan tunggangan dewa yang menukik ke arahnya.

Dan perempuan itu mengangkasa. Pekat asap telah menutupi langit dengan semena-mena. Dia menangkupkan tangannya yang bebas ke wajah, menghalangi mual yang memberontak di dalam perut. Dia terbang, menembus asap dengan kecepatan yang terbayangkan. Hanya dalam hitungan detik, dia telah dapat melihat medan perang.

Dinding energi keemasan itu melingkupi dua pertiga medan. Dengan kedua maniknya yang sebiru safir dia dapat melihat prajurit ratu berlari menjauhi dinding energi sembari berteriak. Mayat-mayat tak ubahnya seperti semak, bergelimpangan di segala arah dan terinjak kaki-kaki teman mereka. Dia mengalihkan pandang menuju jam raksasa yang menggantung bebas di langit. Detak jarum raksasa itu terdengar jelas di telinganya.

Farchen.

Dia segera melepaskan cengkramannya pada cakar tunggangan dewa dan terjun bebas. Menapakkan kedua telapak kaki di atas tanah dengan debum kencang. Darah yang tergenang menciprat ke segala arah, menodai baju zirah hitamnya dengan kekelaman. Melawan arus, perempuan itu berlari menuju dinding energi yang telah memerangkap seluruh penjajah dari dimensi lain di dalamnya. Tangan kirinya segera mengeluarkan pedang yang tersarung di pinggang. Pedang panjang itu berkobar oleh nyala energi peraknya.

Dengan kekuatannya, perempuan itu menciptakan api. Kobaran api yang tidak membakar itu seketika melesat menuju dinding energi. Menghantam tanpa hasil yang signifikan. Perempuan itu meraung. Sekuat tenaga dia menebaskan pedangnya ke udara. Mengirimkan jutaan energi untuk meruntuhkan dinding keemasan itu.

Farchen.

Air mata yang telah ditahannya sekuat tenaga tak lagi terbendung. Perempuan itu membuang pedangnya. Menyelimuti kedua kepalan tangannya dengan energi. Dia berhenti tepat di depan dinding keemasan itu dan mulai melayangkan tinju yang sanggup meruntuhkan tebing mana pun. Detak jarum raksasa itu mulai menghantuinya. Dia terus melancarkan pukulan, yang bahkan tidak mengakibatkan apa-apa ke dinding energi itu.

Dia dapat melihatnya. Lelaki yang menjadi satu-satunya manusia di dalam dinding energi itu. Berdiri tepat di bawah jam emas tanpa angka dengan sebilah sabit raksasa berbilah ganda di tangan kanannya.  Satu-satunya lelaki yang dia cintai.

“FARCHEN!” Raung perempuan itu putus asa. “JANGAN MATI KAU, SIALAN!”

Detak jarum jam itu telah menggantikan suara-suara lain. Tuk. Tuk. Tuk. Menulikan telinganya. Seakan mengejeknya. Dia terus mengantamkan pukulan. Meraung sekuat tenaga atas kesadaran tentang apa yang akan terjadi. Di langit, gelegar petir bersahut-sahutan. Menertawai usahanya yang tidak membuahkan hasil.

Di tengah air mata yang memburamkan pandangan, dia dapat melihat lelaki itu menoleh tepat ke arahnya. Membuatnya merasa waktu seolah berhenti sedetik sebelum kematian mengukuhkan diri. Dia dapat mendengar suara lelaki itu dalam kepalanya, meninggalkan pesan terakhir baginya. Tanpa sadar, tangannya sudah berhenti menghantam dinding keemasan itu.  Tak ada lagi pedih. Tak ada lagi kemarahan juga kekecewaan. Hanya kepasrahan yang tertinggal, begitu dalam. Sangat dalam.

Inikah saatnya?

Lelaki itu menyunggingkan senyum di wajahnya. Sebuah senyum tipis yang sarat akan nestapa.

Maafkan aku.

Suara ledakan terdengar hingga ke seantero semesta Astrola.

 

Fragmen Kedua: Kerinduan

Iklan

2 tanggapan untuk “Fragmen Pertama: Dia

  1. Lebih kuat karakter ravine di sini. Terus juga jelas kerjaan ravine dulu apa, nggak tiba tiba dia ikut medan perang terus farchen mati, tapi antara versi wattpad dan versi web ini ada kekurangan dan kelebihan. Yang di sini lebih langsung ke permasalahan, kalau di wattpad entah kenapa lebih melow.

    Tanggapan pribadi saya sih agak gimana gitu penempatan diksinya sehingga memberi kesan berbelit belit bagi pembaca yang belum terbiasa baca Foi. Mungkin bisa lebih disederhanakan lagi,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s