Fragmen Kedua: Kerinduan

Ledakan besar itu menghantuinya.

Meski enam ratus tahun telah berlalu, bunga tidurnya masih dihantui oleh kemilau emas yang membawa petaka itu. Sering dia terbangun di tengah malam, bermandikan peluh dan napas tersengal. Air mata bercampur dengan keringat dingin di wajahnya. Tak jarang, dia bangkit dari kasur empuknya, melangkahkan kaki di atas lantai kayu dengan bunyi keretak halus mengiringi.

Semenjak perang yang terjadi enam ratus tahun silam, dia bukanlah lagi seorang Ksatria Pertama. Tindakan cerobohnya, meninggalkan sisi ratu untuk kepentingan pribadi, telah membuatnya dijatuhi hukuman–bukan berarti dia bersedih akan hal itu. Sebaliknya, pemecatannya malah membuat dia lega. Dia tidak sanggup berada di posisi yang sama, melihat dunia dari sisi kekuasaan hanya akan mengingatkannya pada kejadian itu secara konstan.

Maka dia pun beralih ke sisi tenang kehidupan. Melamar pekerjaan menjadi seorang penjaga perpustakaan kota Ruthesworth yang memungkinkannya mengakses buku-buku dengan mudah dan gratis. Naas, baru enam bulan dia bekerja di sana, Ratu Semesta sudah kembali memanggilnya untuk membantu mengatasi masalah di Honderiva Utara. Memang, setelah perang yang menewaskan ribuan jiwa itu, taraf kehidupan sudah semakin merosot. Banyaknya racun yang tersebar di udara dari Gunung Schirzre telah mengakibatkan ratusan kasus keracunan, terlebih oleh ras Ovwerin. Pengetahuan serta pengalamannya berurusan dengan berbagai macam ras membuat dia kembali dimintai tolong secara terus-menerus, sampai akhirnya sabda ratu membuatnya menempati sebuah posisi rendah di Mabes Pertahanan.

Seolah itu belum cukup, dewa Penjaga Takdir, Eddien Les Dakkar, mengangkatnya menjadi Duoxtrees–tangan kanan dewa, setelah keberhasilannya memimpin dua ratus prajurit untuk membantu evakuasi akibat kebakaran hebat yang melanda Korrecia Timur, dua ratus tahun lalu. Hingga akhirnya, dia tidak punya pilhan lain kecuali menjadi Ie Oufth semesta Astrola–jabatan yang dimiliki kekasihnya dahulu.

Ironis.

Ledakan tersebut tentunya mengakibatkan luka yang cukup parah baginya. Punggungnya kini dihiasi bekas luka raksasa, sayatan yang berawal dari tengkuk hingga pinggul, menyerupai sambaran petir. Pada malam-malam sewaktu api kekacauan berkobar di seluruh penjuru Astrola, luka itu hidup dengan denyut menyakitkan; seakan berusaha untuk terus mengingatkannya tentang detik-detik terakhir sebelum ledakan.

Rasa penyesalan sering terbit di dalam dirinya. Dahulu, sewaktu kontrak dengan sang Penjaga Takdir belum membelit pergelangan tangan kanannya; mengapa dia tidak menyambar pisau dan menggorok lehernya sendiri? Kematian tampaknya menjadi realita yang lebih indah daripada dia harus hidup di dalam keabadian tanpa kehadiran lelaki itu. Kekasihnya, Farchen Ignitie. Kini, hal itu tidak lagi dapat dia lakukan. Kontrak dewa mengikat jiwanya dengan sang Penjaga Takdir; tindakan bodoh seperti itu sudah tentu akan langsung ternetralisir.

Dan penyesalan itu menghantuinya, hingga kini, saat dia tengah berada di dalam sebuah hutan dengan pepohonan yang menjulang seakan hendak mencakar langit. Dedaunan biru mengalihkan warna surya perak menjadi toska sementara mata sebiru safirnya mengawasi ratusan jiwa dari berbagai ras yang tengah berbaris untuk masuk ke dalam sejumlah kereta terbang. Lagi-lagi operasi evakuasi yang dibutuhkan untuk menyelamatkan penduduk Astrola sebelum mereka memutuskan untuk memasuki portal dimensi yang akan membawa mereka ke semesta lain.

Asap nikotin yang menari di udara menyapa penciumannya sementara dia berdiri santai dengan kedua tangan berada di dalam saku. Udara siang tercemar oleh suara perintah serta geraman ras Muschafa, ras dengan tinggi dua kaki serta gigi-gigi besar namun bisu. Sejumlah pegawai Mabes Pertahanan tampak mondar-mandir dengan seragam biru berlini perak mereka, sibuk mengatur; sibuk mengawasi. Tidak sepertinya, yang malah tenggelam ke alam nostalgi di waktu kerja.

Sodokan keras yang mengenai rusuknya membuat dia menoleh. Manik mata birunya bersirobok dengan sepasang mata cokelat muda yang berada di balik kaca mata berbingkai kotak, dan itu membuatnya mengembuskan karbon dioksida bercampur tar ke udara. Dia mengangkat tangan kirinya, mengambil puntung rokok yang terselip di bibirnya, kemudian berbicara dengan suara tanpa emosi, “Apa?”

Lelaki berkaca mata itu memberinya pandangan curiga sembari menatap tajam, yang dia balas dengan menyipitkan mata sembari menaikkan sebelah alis. Dia tahu kebiasaan lelaki ini, tangan kanannya sebagai Penjaga Semesta Astrola; lelaki yang lumayan cerewet padahal tidak ada sesuatu hal yang begitu penting untuk dibicarakan, Keith Honovad. Dan ucapan batinnya terbukti sewaktu lelaki muda itu angkat bicara, “Ravine, kurasa sebaiknya kamu mengurangi rokokmu. Ingat, kamu itu Ie Oufth semesta, banyak exchiorthis yang memandangmu sebagai ikon dari keamanan dan merokok bukanlah tindakan tepat. Lebih-lebih, kamu perempuan,” wajah persegi lelaki itu diwarnai bercak merah pada pipinya, “…Aku tidak mau punya istri yang terkena kanker paru-paru.”

Kontan, perempuan bernama Ravine itu mendengus hambar. Sudah menjadi rahasia umum kalau lelaki bernama Keith Honovad itu menaruh hati padanya. “Memangnya siapa yang mau jadi istrimu, Keith? Kalau ingin berdelusi jangan saat terjaga,” dia membuang puntung rokoknya yang sudah habis, tidak mengacuhkan rona merah yang semakin menodai wajah tangan kanannya kemudian lanjut berbicara. “Berapa banyak lagi yang harus dievakuasi?”

Lelaki muda itu berdeham, mungkin untuk menutupi rasa malunya, “Kurang dua puluh jiwa lagi. Ras Tosvakie kesulitan untuk memahami apa arti dari ‘tinggalkan barang-barang kalian dan masuklah ke dalam kereta’ jadi banyak dari mereka yang mengikatkan benda-benda berharga mereka di punggung.”

“Kau tau mereka seperti apa,” ujar Ravine sembari memandangi rerumputan jingga di sekeliling mereka, “Mereka kan sangat mencintai benda-benda buatan mereka sendiri. Menyuruh mereka meninggalkan barang-barang mereka sama saja dengan menyuruh mereka membelah diri. Sudahlah,” perempuan itu meluruskan badan dan menghela napas panjang, “Kurasa aku akan kembali ke Mabes Pertahanan. Forrester Juvelline cukup kompeten untuk hal ini, bukan?”

“Sarkas sekali,” komentar Keith sementara mengikuti langkahnya menyusuri hutan, menuju pinggir di mana kereta mereka sudah menunggu. Dia mengabaikan komentar lelaki yang lebih muda empat ratus tahun itu dan mengeluarkan sebatang rokok, menulikan diri dari protes yang dilontarkan Keith kepadanya. Dengan sebuah jentikan, dia menghadirkan api emas pada sela-sela jemarinya, menyulut rokok dan mengepulkan asap sarat nikotin.

Di bawah terik matahari perak yang memandikan puncak kepalanya, dia kembali teringat akan sang kekasih. Tatapan terakhir yang dilontarkan kepadanya, nestapa bisu yang mengakar di dalam hatinya hingga kini. Sudah lama mereka memahami takdir mereka–sebagai bagian dari Dunia Bawah yang dihuni oleh manusia dengan umur mencapai belasan ribu tahun. Arti keabadian yang sering dikoar-koarkan oleh manusia di Dunia Atas telah kehilangan maknanya. Hanya ada harapan semu sebagai pengganti kebahagiaan. Dan kebahagiaannya kini telah hilang.

Siapa yang akan menyangka jika dia merindukan kematian di tengah sulur-sulur keabadian?

Lini pepohonan kini semakin menjarang. Sekilas pandang, dinikmatinya pemandangan langit perak berkilau yang ditutupi arak-arakan awan kelam. Mengaharubirukan perasaannya yang sudah terbenam elegi tanpa akhir. Haru-biru? dia mendengus sewaktu memikirkan hal itu. Membuang rokoknya yang masih setengah dan membalas salam dua penjaga di sisi kereta dengan anggukan singkat. Kereta itu miring oleh berat badannya dan juga milik Keith. Dengan satu tangan, dia membanting pintu kereta hingga menutup kemudian menyandarkan punggung pada sandaran dengan kedua tangan tersilang di depan dada.

Pandangannya melayang keluar jendela, pada gumpalan awan hitam yang menyelimuti angkasa. Tanpa sadar, sehelaan napas meluncur dari sela kedua bibirnya. Hasil peperangan terkutuk yang kini menjadi kutukan bagi tanah suci ini sendiri.

Perempuan itu membiarkan hening merasuk di antara dia dan Keith untuk beberapa lama sebelum akhirnya angkat suara, jengkel dengan pandangan yang diberikan Keith kepadanya sedari tadi, “Kalau mau bicara, bicara saja sebelum aku kelepasan dan kucongkel kedua matamu.”

Diiringi guncangan pelan, kereta itu mulai berjalan.

Keith memperdengarkan gerutuan pelan kepadanya tetapi akhirnya mengalah dan mengalihkan pandangan, sementara dia sendiri kini memancangkan tatapan kepada lelaki muda itu. Mengamati wajah persegi yang terhias kaca mata berbingkai kotak dengan helaian rambut cokelat yang tersisir rapi ke belakang serta sepasang alis tertaut. Tak lama, lelaki muda itu kembali memandangnya. “Apa?” tanya Ravine, gatal ingin menusukkan kuku ke dalam kedua mata itu.

“Aku hanya sedang berpikir, Ravine,” sahut Keith dengan nada hati-hati. Lelaki itu nampak gugup. Meremas-remas tangannya sendiri sembari sesekali memandang berkeliling. Seolah mencari jalan keluar. Membuatnya mengerti ke mana arah pembicaraan ini akan berlangsung. Membuat Ravine mendengus sebal.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan.”

“Kalau memang sudah tahu, kenapa tetap kamu lakukan?” Sambar Keith, memanfaatkan celah yang ada. “Ini sudah enam ratus tahun, Ravine. Bukannya aku ingin menyepelekan rasa cintamu kepada Farchen, tapi bagaimana pun, dia sudah tidak ada di dunia ini,” lelaki itu memandangnya dengan sorotan menghamba yang begitu kentara, membuatnya ingin menenggelamkan diri ke lautan Ivliya. “Aku tidak ingin meminta banyak, Ravine. Hanya satu, yang kuminta dan kamu tahu apa itu, kan? Hatiku terus-terusan tersakiti melihatmu seperti ini. Kamu seperti cangkang kosong yang terus hidup karena tidak ada pilihan lain.”

Perempuan bernama Ravine itu memijat pelipisnya yang mulai berdenyut menyakitkan. “Keith, kalau kau tidak pernah sungguh-sungguh jatuh cinta, sebaiknya kau tutup mulutmu,” balasnya dengan geraman tertahan. Dibalasnya tatapan lelaki itu dengan sengit, “Dan bagaimana hatiku bekerja sama sekali itu bukan urusanmu. Memang benar, kalau kontrak dewa ini tidak mengikatku, kau takkan melihatku di sini, saat ini juga. Lalu kenapa?”

Hening kembali menghadirkan diri di antara mereka berdua sementara pepohonan berkelebat di luar kereta. Guncangan yang semula mengganggu kini sudah tidak lagi terasa, sementara mereka memasuki jalanan yang lebih halus. Tetap saja, mereka berdua tidak memperdulikan pemandangan yang kini mulai dipenuhi dengan atap pemukiman dari batu merah. Pun, kibaran bendera warna-warni yang mulai menggantikan dominasi kelam langit.

“Kematian bukan jawaban, Ravine,” Keith kembali berbicara dengan perlahan. “Apa kamu yakin kalau itu yang diinginkan Farchen-ryv darimu? Keinginan bunuh diri? Kamu tidak pernah berpikir jika, misalnya, dia ingin kamu tetap hidup dan membahagiakan dirimu sendiri di dunia ini?”

“Jangan berlagak seolah kau mengenalnya,” potong Ravine sengit. Perempuan itu memajukan badannya sehingga kini wajah mereka hanya terpaut lima senti. Kedua manik sebiru safir itu membalas tajam tatapan mata kecokelatan itu dan dia dapat mencium aroma kekalahan di udara. Begitu pekat. Sepekat asap malam itu, enam ratus tahun silam. Membuat otot di kedua tangannya mengejang, menahan dorongan untuk mencekik leher itu. “Kau. Sudah. Lancang. Mundur, Keith.”

Dering tertahan memotong tekanan di udara. Ravine menjauhkan wajahnya yang sudah terselimut ekspresi dingin, membiarkan Keith mencari-cari alat komunikasi mereka dengan jemari gemetaran sementara dia sendiri duduk dan memandang ke luar jendela. Terdengar bunyi klik pelan disusul suara Keith dengan getaran tak kentara. Ravine membiarkan lelaki muda itu menyelesaikan urusannya sebelum melemparkan tatapan bertanya.

“Evakuasi sudah selesai,” jawab Keith tanpa memandangnya. “Kita hanya perlu menandatangani beberapa dokumen perijinan untuk ulang tahun Ratu dua minggu lagi. Kalau kamu mau, aku bisa mengirimkan dokumennya ke rumahmu.”

Tanpa membalas, perempuan itu menerkam interkom sewarna gading yang menggantung di salah satu sisi dinding kereta. Deru angin bercampur suara gemeresak seketika memenuhi bagian dalam kereta, “Antarkan aku ke rumah,” ujar Ravine lalu mematikan interkom. Dipandangnya Keith sekilas dan memahami jika lelaki muda itu sudah mengerti.

Sisa perjalanan diisi oleh senyap. Keith nampak tidak ingin memulai topik baru sementara dia sendiri tidak berminat sama sekali. Hanya memandangi langit separuh kelam-separuh terang yang menyelimuti semesta Astrola dengan pikiran melanglang-buana hingga ke masa lalu. Perempuan itu duduk lebih tegak ketika pesisir pantai mengada di luar jendela. Ujung sepatunya mengetuk lantai kereta dengan tidak sabar sementara laju semakin cepat.

Langit perak kini memiliki semburat kehijauan yang kelam. Surya perak menenggelamkan diri di garis horizon yang berbatasan dengan laut. Melimpahi permukaan air dengan kemilau peraknya. Beberapa kali pepohonan dengan daun jarang berkelebat, membuat bayang-bayang mengerikan semu.

Kereta itu melambat sewaktu melewati lorong pepohonan yang familiar untuknya. Perempuan itu menunggu hingga kereta itu benar-benar berhenti kemudian membuka pintu samping kereta dan memandang sebuah kabin kayu yang dicat putih polos tanpa apa-apa kecuali sebuah jendela raksasa di samping pintu. Ravine turun, membiarkan pasir putih terhempas di udara akibat langkahnya dan menutup pintu. “Dokumen. Malam ini,” ujarnya kepada Keith sebelum pintu itu benar-benar menutup.

Dipandangnya kereta yang melaju pergi itu dengan kedua tatapan mata tanpa emosi. Terbayang dalam benaknya betapa pekat kebanggaan diri yang ditunjukkan si tangan kanan kepadanya, membuat perempuan itu bergidik jijik. Ravine kemudian mengalihkan pandangan pada kabin tempat tinggalnya yang dikelilingi pagar pendek dari kayu berhias tumbuhan menjalar kekurangan air.

Dilintasinya halaman depan yang penuh dengan semak belukar kering serta debu bercampur pasir. Ravine tersenyum tipis melihat kondisi tempat tinggalnya, yang bahkan dengan gamblang meneriakkan pada dunia betapa dia ingin mati saja. Perempuan itu menjentikkan jari, menyalakan kedua lentera yang berada pada sisi kanan dan kiri lampu depannya. Cahaya jingga temaram serta-merta membasuh sekelilingnya; menyajikan kehangatan semu.

Dia menghentikan langkahnya sesaat dan memandang langit sekilas. Senja kehijauan sudah semakin menyusut, meninggalkan kelam berpadu dengan malam. Aneh bagi perempuan itu untuk menemukan lentera rumah belum menyala, mengingat adik laki-lakinya seharusnya sudah berada di rumah saat ini.

Ravine baru saja hendak membuka pintu depan rumahnya ketika mendengar derit kayu yang begitu halus, nyaris tak kentara. Dia kontan mempercepat langkahnya, menyentak pintu kayu yang sudah tidak terkunci itu hingga terbuka dan mengendus kesunyian di udara. Kedua alis perempuan itu seketika terpaut.

Ada bau asing yang menyeruak dari dalam rumahnya.

Tanpa membuat suara, dia melewati ambang pintu. Matanya menyapu sekeliling, pada furnitur kayu minimalis yang dia beli beratus-ratus tahun silam. Rak sepatu di dekat pintu tidak menunjukkan tanda-tanda ganjil, pun dengan vas pendek berisi gerumbul bunga air dengan kelopak keunguan di atasnya. Dia menutup pintu di belakangnya dengan perlahan.

Mengendus udara, Ravine mendapati bau itu semakin pekat. Percampuran antara sesuatu yang licin, dingin sekaligus memuakkan namun juga familiar. Dia menapakkan sol sepatu botnya pada lantai kayu seringan mungkin, sehingga hanya derit nyaris tak kentara yang terdengar. Menyusuri lorong gelap, perempuan itu tidak mendapati keanehan sama sekali. Lukisan-lukisan alam pada kanvas yang terpajang di kedua sisi lorong hanya memberikan kesan nyaman, tidak lebih.

Tidak ada tanda-tanda ada seseorang selain dia di dalam rumah ini.

Ravine menggeretakkan giginya, “Achten!” Dia berseru, lantang dan tegas. Namun, hanya kesenyapan yang membalas panggilannya. Terang saja dia langsung mempercepat langkah, menuju ujung lorong yang dimandikan oleh cahaya senja temaram. “Achten!” Perempuan itu kembali berseru sewaktu disapa oleh pemandangan ruang tengah berisi sofa-sofa kecil serta hamparan karpet gelap di atas lantai.

Perempuan itu terpaku. Adiknya nampak tersungkur di atas permadani gelap dengan posisi meringkuk seolah menahan sakit. Dia langsung menghampiri adiknya, meraih pergelangan tangan lelaki itu dan mengukur denyut nadi. Kelegaan membasuhnya, sesaat, sebelum dia melihat sesuatu yang membuatnya semakin kebingungan.

Adiknya menggenggam sepucuk kertas.

Kertas berisi tulisan bertinta hitam yang terlihat begitu jelas.

Aku tidak bunuh diri. –Farchen Ignitie

 

Fragmen Ketiga: Nestapa

Iklan

2 tanggapan untuk “Fragmen Kedua: Kerinduan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s