Fragmen Ketiga: Nestapa

Aku tidak bunuh diri. –Farchen Ignitie

Kertas itu terbuka dalam genggamannya. Dengan tinta hitam pekat, seolah menegaskan cemooh pada batinnya. Dia menatap tulisan itu dengan mata nyalang. Ujung sepatunya mengetuk lantai pualam putih dengan stagnan sementara jemari tangan kirinya bermain tanpa arah. Lorong berwarna serba putih itu sunyi-senyap.

Hanya terang rembulan hijau yang mewarnai.

Dia tengah berada di salah satu lorong pada Rumah Perawatan. Bangsal tempatnya kini berada terletak di sayap bangunan yang terpisah dari bangunan lain. Hanya sesekali dia mendapati kelebat asisten penyembuh dan perawat, yang terlihat dari balik pintu kaca di ujung lorong. Luka sayatan di punggungnya berdenyut perlahan, beradu dengan dinding yang dingin. Berkali-kali kedua manik matanya terpancang pada pintu lengkung berdaun ganda yang berada di seberangnya sebelum kembali memandang kertas itu.

Samar, dia menangkap bunyi-bunyian dari balik pintu. Membuatnya tersadar akan kesusahan para penyembuh yang tengah bergulat dengan tangan-tangan kematian. Cengkraman perasaan kembali menghampiri, kekhawatiran yang menghadir dengan konstan bersama dengan bayangan adiknya. Namun, emosi itu hanya ada untuk dia usir seketika. Dirinya yang saat ini tidak butuh untuk dibutakan oleh rasa.

Larik cahaya kebiruan menyebar dari bawah pintu, menarik perhatiannya. Dia menegakkan tubuh, memasukkan kertas itu ke dalam saku celana kain sembari menunggu suara-suara itu mereda. Ravine menengadahkan kepala saat pintu lengkung itu terbuka.

Dia menyapa para penyembuh dengan anggukan tanpa kata. Seorang wanita, yang terbalut dalam jubah berwarna kenila-nilaan, menghampirinya. “Ie Oufth,” wanita itu menundukkan kepala penuh hormat, “Penyembuhan berjalan lancar. Kondisi adik Anda sudah membaik. Racun yang berada dalam tubuhnya sudah kami keluarkan dan akan kami kirimkan ke Mabes Pertahanan sesuai permintaan Anda. Semoga berkat takdir menyertai Anda sekeluarga.”

Ravine memberikan senyum tipis dan mengawasi wanita itu melangkah pergi sebelum berjalan menuju ruangan tempat adiknya dirawat. Melewati deretan dipan besi berlatar dinding kelabu dengan gemerlap sejumlah bhostan kejingga-jinggaan. Adiknya tampak berbaring di dipan terjauh, dikelilingi kelambu putih kusam yang nampak berat.

Perempuan itu berhenti di kaki dipan. Menyingkap kelambu dengan tangan kirinya yang bebas. Terdiam sembari meneliti lelaki yang terbaring di atasnya. Sesosok dengan rupa yang nyaris sama, helaian rambut sehitam jelaganya menutupi sepasang alis di atas kelopak mata yang tertutup. Bulir keringat nampak jelas membasahi dahinya. Selang emas membelit tangan kanan lelaki itu, menyalurkan tetes air kehidupan dari sang permata. Halus, Ravine melangkah ke sisi dipan. Masih tanpa suara. Hanya memandang. Meneliti raut wajah yang tengah menahan sakit itu.

Kelopak mata itu bergetar halus sebelum membuka perlahan. Menampakkan sepasang manik mata sebiru langit yang menatap nyalang ke langit-langit jauh di atas sana. Kedua manik mata itu bergeser ke arahnya saat dia menyentuhkan buku-buku jemari pada lengan berotot itu. “Achten,” sapa Ravine pada adiknya, yang disambut dengan seulas senyuman lemah.

“Kakak,” lelaki itu berucap. Suara baritonnya terdengar serak dan lemah. Ravine memperhatikan adiknya, yang menolehkan kepala dengan begitu perlahan sembari meresapi dorongan untuk mengulurkan tangan dan membantu. Tetapi, gestur itu telah begitu lama tenggelam dalam lautan jarak hingga mustahil untuk menampakkannya ke permukaan. Hingga dia hanya sanggup bergeming.

Seolah tak menyadari hal itu, Ravine dapat merasakan cengkraman lemah di pergelangan kirinya. Achten serta-merta menyajikan gestur penghubung yang tak sanggup dia hindari. Begitu takut, sampai getar halus menguasai tangan kirinya. Ravine menundukkan pandangan, meneliti dirinya sendiri yang gemetar oleh sentuhan kasih sayang.

Dia tidak menyadari jika dia telah rusak sejauh ini. Entah sejak kapan, kontak fisik baginya telah berubah menjadi gestur keintiman yang tak dapat dia nikmati tanpa merasa takut. Terlebih, jika gestur itu diberikan oleh orang yang seharusnya dekat dengannya dari mata lingkup sosial. Yang dia rasakan hanyalah dorongan untuk menepis tangan lemah nan dingin itu. Untuk melangkah mundur lalu pergi sembari menahan muak. Etika sosial adalah hal yang menahannya, sama seperti saat ini. Maka Ravine tidak memiliki pilihan lain kecuali mencoba menggenggam tangan itu, menyalurkan hangat tubuhnya dan menatap Achten lekat-lekat, “Bagaimana keadaanmu?”

Adiknya tersenyum lebih lebar dengan pandangan sayu, “Kepalaku sakit,” komentar Achten padanya, “Rasanya seperti baru saja dipukul dengan pot bunga. Denyut jantungku menggema di dalam kepala seolah hendak memecahkan tempurungku. Selain itu, rasanya aku baik-baik saja.”

Ravine mendengus, menurunkan pandangan dari tubuh yang bergelimang cahaya putri malam kehijau-hijauan itu, “‘Baik-baik saja’ bukan definisi yang tepat untuk kondisimu saat ini. Kau sudah bisa menceritakan apa yang terjadi?”

Achten Eire tampak mengernyitkan kepala, “Coba kuingat-ingat… Ah. Ya, aku sudah bisa mengulang kejadian itu dalam ingatanku. Kakak mau mendengarnya?” Ravine mengendikkan bahu sebagai respon. Dia membiarkan Achten mengatur pikiran sebelum lelaki itu bercerita, meski sesekali terputus karena kelelahan, “Sore tadi… Baru tadi, kan? Ya, sore tadi aku pulang seperti biasanya. Menyalakan lampu dan mandi–keseharianku itu. Aku baru selesai mandi dan hendak mengambil air minum sewaktu tiba-tiba seluruh energi di dalam rumah tersedot begitu saja. Bhostan-bhostan seketika padam, dan aku berada di tengah kegelapan. Saat aku sedang melihat-lihat keadaan, tiba-tiba seseorang sudah berada di dalam dapur.”

Tanpa sadar, perempuan itu menengang, “Seseorang?” Ulangnya. “Seseorang memasuki kabin kita?”

Achten menyeringai pasrah, kening lelaki itu mengernyit melihat ekspresi Ravine yang begitu kelam, “Iya. Proteksi yang kakak pasang di seluruh penjuru rumah seolah hilang begitu saja. Dengan mudahnya. Aku mencoba melawan–kakak tau aku juga exchiorthis, kan? Tapi dia melumpuhkanku dengan mudah. Dalam satu kedipan mata, aku sudah terkapar di lantai. Itu yang terakhir kali aku ingat.”

Sehebat itu? batin Ravine sembari menghela napas panjang. Dia kembali memandang adiknya, “Kau ingat ciri-ciri orang itu?” Gelengan lemah Achten membuat perempuan itu memijat pelipisnya dengan frustrasi.

“Dia memakai jubah bertudung dengan warna nila kelam… Oh. Aku sempat merasa dia menyelipkan sesuatu ke tanganku sebelum aku tidak sadarkan diri. Kakak menemukan sesuatu?”

Dia dapat merasakan tatapan Achten padanya. Tanpa berkata apa-apa, perempuan itu melepaskan genggaman Achten lalu mengeluarkan secarik kertas yang sedari tadi telah memporak-porandakan ketenangannya. “Bacalah,” ujar Ravine, menaruh kertas itu pada telapak tangan adiknya. Diawasinya Achten, yang mengangkat tangan dengan lemah dan mendekatkan kertas itu ke wajah.

Ekspresi Achten seketika pucat pasi. Ravine menyakukan kedua tangannya, menghela napas panjang dan menatap cahaya rembulan yang masuk dari kaca patri berpola serigala dengan jam pasir dan pedang saling bersilang. “Aku tidak berpikir itu Farchen, sebagai informasi,” ujar Ravine, menjawab pandangan Achten yang ditujukan padanya. “Tidak. Semenyedihkan apa pun, kematian Farchen adalah fakta dan aku tidak mengingkarinya. Pertanyaannya sekarang ada dua, apa tujuan orang itu dan apa maksud dari surat ini, jika benar ini dari Farchen.”

“Kakak mau menyelidiki ini?” Achten bertanya padanya, terdengar tidak yakin. “Bisa saja seseorang hanya ingin mengganggu kakak. Kakak tahu sendiri, dua minggu lagi ulang tahun Ratu Semesta. Pekerjaan kakak akan bertambah–ritual memperkuat proteksi semesta dari kedatangan pelintas, menunda pengungsian; hal-hal semacam itu.”

“Justru itu….” Ravine membalas lamat-lamat. Sesuatu tengah bergelak dalam dirinya. Menghantarkan panas yang teramat sangat ke sekujur tubuh. Kontrak dewa yang melingkari pergelangan tangannya berdenyut gila-gilaan. “Dan jika surat ini palsu….”

Pandangan perempuan itu menggelap. Membayangkan seseorang mengatasnamakan kekasihnya hanya untuk tujuan yang tidak berhubungan dengannya, entah bagaimana, seakan menyulut api dalam dirinya. Ravine dapat merasakan magma yang berbuih itu nyaris meletuskan gundukan amarah terpendam dalam dirinya. Dia menghela napas dengan gemetar, mencoba mengusir rasa yang menghantam tanpa jeda.

Adiknya memadang dia dengan tatapan prihatin. “Kakak masih ingin mati?” Tanya lelaki yang terbaring itu dengan kesedihan pekat. Ravine memandangnya lama, sebelum menelengkan kepala sebagai jawaban. Achten hanya merespon dengan desahan napas panjang.

“Kenapa?”

Achten hanya memandang ke langit-langit, menggumamkan beberapa patah kata yang tak tertangkap olehnya. Ravine memutuskan untuk mendekat. Tenang, dia menyingkirkan tangan adiknya dan menggunakan dipan sebagai sandaran. Lama mereka terdiam, membiarkan kelam menyelimuti kesenyapan sementara awan memutuskan untuk menurunkan rintik air mata di luar sana.

Pendar sinar bhostan-bhostan sudah mulai meredup. Dalam keremangan jingga, kedua kakak-adik sedarah itu berdiam diri. Sibuk dengan pikiran mereka, yang sesungguhnya tertuju pada hal yang sama. Ravine menatap lantai pualam putih berkilat itu sembari menimang-nimang perasaan adiknya. Sudah dari lama dia mengetahui ketikdaksetujuan Achten terhadap keputusannya untuk menyusul Farchen. Adiknya bukanlah seseorang yang ahli menyimpan perasaan. Semenjak itu pula, dia memutuskan untuk mengabaikan seluruh emosi orang-orang yang menyayanginya–atau mengaku menyayanginya. Dia….

Tarikan pelan pada baju seragamnya membuat Ravine menoleh. Achten memandangnya dengan kedua mata yang memperlihatkan jurang nestapa. Begitu jelas sekaligus menyakitkan. Mengirimkan tusukan perih padanya. Namun, adik laki-lakinya itu tersenyum tipis. “Tidak ada yang bisa menggantikan Farchen, ya, kak?”

“Tidak,” sahut Ravine dengan suara tercekat. Perempuan itu berdeham pelan, tetapi kata-kata telah menghilang dari pikirannya. Yang sanggup dia lakukan hanyalah memandang Achten dalam bisu. Memperlihatkan luka yang selama ini dia tutupi. Menyatakan kelemahannya, yang telah terkubur oleh kesedihan tanpa sanggup bangkit.

Achten memperlebar senyum untuknya dengan sorot mata kepedihan yang semakin menjadi-jadi. “Dari dua ribu tahun kita hidup, kakak, hilangnya sosok keluarga selama seratus delapan puluh tahun telah menjadi jurang pemisah di antara kita. Dan tidak ada satu pun dari kita yang bisa memperbaiki hal itu, kan? Dan tidak ada satu pun dari sejuta jiwa di Dunia ini yang dapat menggantikan Farchen… Bahkan jika itu adalah aku. Bukan begitu, kak?”

Dia tidak ingin menjawabnya; pertanyaan itu bagaikan garam yang ditabur di atas lukanya. Maka Ravine hanya diam, meski tangisnya mengancam untuk keluar. Meski kini pandangan matanya memburam. Ketenangan Achten menyakitinya. Membuat kesadarannya digerogoti perasaan bersalah karena tidak sanggup menjadi sosok kakak bagi adik kandungnya sendiri.

“…Maaf,” Hanya itu yang sanggup dia ucapkan.

Tarikan di seragamnya terlepas. Ravine menatap adiknya, yang kini sudah memejamkan mata dengan senyum miris tersungging di wajah itu. “Pulang dan istirahatlah, kak,” ucap Achten dalam bisikan. Ravine menuruti kata-kata itu. Berdiri dari dipan tanpa suara lalu melangkah pergi tanpa memandang adiknya sendiri. Pendar bhostan menghilang seiring gema langkahnya. Pintu lengkung bangsal itu menutup sesaat setelah dia melangkah keluar. Seakan mengucapkan salam perpisahan padanya.

***

Rintik hujan menyapanya.

Berada di teras luar Rumah Perawatan sembari menunggu kereta, Ravine menyulut sebatang rokok dengan api emas buatan. Pandangan matanya memandang hampa sementara pikiran perempuan itu berkecamuk karena kata-kata adik sedarahnya. Nestapa lelaki itu kini membebaninya dengan pikiran ulang akan hasrat bunuh diri miliknya.

Tetapi, apa yang bisa dia lakukan? Kesadarannya terisi konstan oleh bayangan sang kekasih yang kini hanya sanggup dia temui dalam mimpi. Mengucapkan hal itu pada diri sendiri membuatnya merasa lemah karena kesadaran bahwa dia begitu menyedihkan. Sembari mengeluarkan asap sarat nikotin, perempuan itu memaki dirinya sendiri; akan tendesinya untuk mengakhir hidup. Namun, makian itu pun tak sanggup memaksanya untuk menyudahi masa berkabung. Elegi menyanyi samar dalam pikirannya, mengajaknya untuk menyeberangi sungai kematian agar bertemu dengan lelaki itu. Satu-satunya orang yang telah begitu dia percaya.

Dan kini, perasaan itu semakin menjadi-jadi.

Betapa ingin dia mengenyahkan kontrak yang menjadi penjaranya di kehidupan ini. Ingin berlari dan mencari kematian untuk memohon akhir, menyudahi perjuangannya. Dirinya kini tidaklah lagi hidup, namun hanya bertahan hidup dan menunggu ajal dengan tidak sabar. Dia sendiri sadar, jika keputusannya menyembah ajal hanya akan membawa rasa sakit bagi orang-orang yang menyayanginya. Sadar jika itu adalah harga yang harus dia bayar untuk mencapai tujuannya.

Keretanya datang diiringi suara derak roda yang teredam hujan. Ravine membuang puntung rokoknya yang masih baru dan menaungi kepalanya menggunakan tangan. Dia membiarkan tubuhnya dicumbui tetes air, yang sungguh tidak berbeda dengan disetubuhi oleh kesedihan. Namun, perempuan itu berhenti tat kala pintu kereta terbuka sebelum tangannya sempat meraih gagang pintu. Mata perempuan itu menyipit untuk mengenali sosok yang berada di dalamnya.

Gelegar petir di kejauhan terdengar jelas olehnya. Duduk santai di dalam kereta, sang Penjaga Takdir menatapnya. Mengambil sosok laki-laki dengan helaian rambut emas serta sepasang mata sewarna lapis lazuli. Tangan yang terbungkus sarung tangan putih itu terulur untuk membantunya naik. Kedua pasang mata itu bersirobok di tengah derai hujan.

“Naiklah,” ujar sang Penjaga Takdir dengan keramahan yang tak mencapai sorot mata asing itu.

Ragu, Ravine menyambut uluran tangan itu. Panas segera menghantam tubuhnya. Mengepulkan uap sewaktu kedua tangan bersentuhan. Mengabaikan hal itu, dia menjejakkan kaki pada tangga kereta lalu meloncat masuk dan disapa oleh harum manis yng begitu khas dan memuakkan. Mengernyitkan hidung, perempuan itu menghempaskan tubuh pada bangku kereta sementara sang Penjaga Takdir menutup pintu.

Kereta itu mulai bergerak.

Derai hujan menderas di luar sana. Tetes demi tetes menggempur kaca kereta sementara keheningan merajalela di antara dia dan sang Penjaga Takdir. Kereta terus melaju, melewati jalanan berkonblok yang terbentang dari kaki bukit menuju pemukiman. Kota Ruthesworth tampak kelam dengan cahaya bhostan jingga yang muram, seakan menggambarkan perasaannya, yang tengah bergulat dengan rasa penasaran.

Ravine menghela napas panjang dan memutuskan untuk memecah keheingan di antara dia dan sang Penjaga Takdir, Eddien Les Dakkar, “Kau punya waktu 30 livas untuk mulai berbicara.”

Sang Penjaga Takdir melukiskan cengiran di wajah lonjong itu. Kedua mata sebiru lapis lazulinya kini berganti warna menjadi emas terang. “Dua ratus tahun tidak bertemu, galakmu semakin menjadi-jadi, Duoxtreesku tersayang,” sahut sang dewa dengan suara bariton yang ganjil.

Ravine memperdengarkan dengusan, melempar pandangan keluar jendela tanpa minat. “Aku tidak suka sesuatu yang bertele-tele. Katakan apa maumu.”

Eddien Les Dakkar merentangkan kedua tangannya yang terbalut jas hitam serta sarung tangan putih. Pita dasi sang dewa berguncang seiring pergerakan kereta, “Tidak ada, tidak ada. Kamu terlalu serius menanggapi kehidupan ini, tangan kananku. Lihatlah dunia dengan lebih baik. Kedua matamu dapat melihat dengan sempurna, sesempurna pendar jingga senja yang tidak pernah habis di Haven Nostrarie. Lihatlah! Dunia ini penuh dengan warna. Pahamilah kalau kamu adalah bagian dari warna-warna itu, bukan hanya entitas hitam-putih yang mengarungi kehidupan karena keharusan.”

Perempuan itu memutar kedua bola matanya dengan malas, “Ini bukan waktu yang tepat untuk berfilsafat denganku, Dakkar. Bahkan kecoa pun akan malas menunggumu berbicara. Katakan kepentinganmu. Tidak sepertimu, aku orang yang sibuk. Dan ini bukan waktu yang tepat.”

Sang dewa terbahak mendengar kata-katanya, “Kesibukan duniawi yang hanya dipahami oleh makhluk buatan, hahaha–oh, aku rasa aku tidak akan mengerti hal itu. Coba jelaskan padaku, Ravine. Kesibukanmu, selain menunggui Achten Eire yang baru saja diserang sore ini.”

“Memang dewa itu serba tahu, ya,” balas Ravine sinis. Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, mengamati sang dewa dalam bentuk manusianya dengan lebih teliti. Helaian rambut emas menutupi kepala yang terlalu lonjong, hidung mancung yang seolah mencuat terlalu tinggi, kedua mata keemasan yang menjorok ke dalam, alis yang lebat. “Kau tahu tidak, wajahmu terlalu mencolok sebagai seorang ‘manusia’.”

“Seorang penikmat seni tidak akan berpikir demikian, duoxtrees-ku,” sahut sang dewa sembari menggosokkan kedua tangannya. “Tapi, kumaklumi pandanganmu. Bagaimana pun, dunia yang kita tinggali berbeda. Kenyataannya, kamu adalah entitas yang ada karena aku dan istriku.”

“Istri yang mana?” Cemooh Ravine halus. “Istrimu, sang dewi penjaga takdir, atau istri bonekamu yang saat ini memimpin semesta?”

Sang Dewa menggelegarkan tawanya penuh kepuasan, “Sungguh, memang tidak salah aku mengangkatmu menjadi tangan kananku. Bukankah kamu merasa demikian, duoxtrees?”

“Tidak,” sahut Ravine serta-merta. Perempuan itu menegakkan tubuh, menopangkan kedua siku pada pahanya dan menatap sang dewa dengan sorot mata kelam, “Dakkar, kalau aku tidak mengetahui jati diri aslimu, aku akan mengatakan kau adalah dewa kacangan. Kau bahkan tidak sadar kalau kau sudah menghambat tujuan hidupku.”

“Kematian?” Ejek sang Penjaga Takdir. “Hah, kamu harusnya tidak menjadikan hal itu sebagai tujuan. Kau dan makhluk-makhluk yang tinggal di dunia ini–kalian semua fana. Tangan-tangan ajal akan meraih kalian di waktu yang tepat. Maka dari itu, Duoxtrees, nikmatilah kehidupanmu saat ini. Lagipula,” Eddien Les Dakkar berdecak sembari menggelengkan kepalanya perlahan. “Mati karena cinta. Perasaan semu. Menyedihkan.”

Ravine memandang sang penjaga takdir dengan sengit, “Aku mulai kehilangan kesabaranku.”

“Aku hanya datang untuk menyadarkanmu, duoxtrees. Dunia ini lebih indah dari yang ada di dalam kepalamu. Sadarilah,” sang dewa kembali membentangkan kedua tangannya, “Betapa banyak kemungkinan yang tersebar di sana-sini. Hanya terfokus pada satu tujuan–tujuan remeh, lebih tepatnya, membuatmu menjadi orang yang bodoh. Tolol. Dengan hadiah dari Permata Kehidupan, yaitu usiamu, seharusnya kamu memanfaatkan hal itu baik-baik dan berhenti menghina Dia Yang Membuat Kehidupan dengan cara mengenyahkan keinginanmu menjemput ajal.”

Ravine mendengus, “Dua ratus tahun baru kita berjumpa lagi, dan kau mendatangiku hanya untuk ceramah tidak berguna ini? Enyahlah, Dakkar. Walaupun kau memegang kuasa atas takdirku, bagaimana aku menjalani takdir tu sama sekali bukan urusanmu.”

“Di sisi itu, kamu benar,” jawab Eddien Les Dakkar sembari memandangnya lekat. “Tapi, ingat, dunia ini tidak hanya berisi kepentinganmu semata. Dan bisa kukatakan bahwa kepentinganku jauh lebih besar dibanding milikmu, duoxtrees. Kamu mungkin mengarahkan duniamu pada perasaan semata, karena kamu buta akan lini takdir yang tidak pernah kamu lihat.”

“Oh?” Dia menaikkan sebelah alisnya dan menatap sang dewa dengan sinis, “Ya, memang kau lebih tahu daripada aku dan aku hanyalah makhluk yang berjalan di tengah kegelapan sembari menggunakan bara api rokok sebagai penerangnya. Maka dari itu, coba cerahkan pandanganku, Dakkar. Apa ‘kepentingan lebih besar’ yang kau maksud itu?”

“Masa depan, tentunya,” sahut sang dewa dengan nada mengejek. “Sesuatu yang kamu tidak akan pernah mengerti. Pahamilah, duoxtrees, kamu hanyalah sebuah kuda pada papan catur milikku. Alasan keberadaanmu belum kamu jalankan hingga selesai. Karena itu, kamu tidak boleh mati. Tidak sekarang,” Eddien Les Dakkar terkikik geli, “Baru kali ini aku merasa senang karena mengikatmu dengan kontrak. Kalian manusia menamakan perasaan ini apa, bersyukur? Haha!”

Dia bergeming tanpa suara, memandang sang dewa dengan sengit sementara entitas yang lebih tinggi itu menampakkan kepuasannya. Di luar, hujan turun semakin deras. Menggempur tanah suci yang kaya akan sumber kehidupan dengan bentuk kehidupan yang lebih baru.

Eddien Les Dakkar memandangnya dengan ponggah, kembali mendendangkan kuasa dengan begitu mantapnya, “Sudahkah kamu pahami sekarang? Takdirmu, Duoxtrees, serta usiamu berada di tanganku. Jangan berbesar hati karena kubiarkan kau mengenyam perasaan fana dua ratus tahun lamanya. Kamu harus ingat bahwa kamu tidak lebih dari entitas buatan yang bisa kupermainkan sesuka hati.”

“Pada intinya, kau hanya ingin menyombongkan dirimu sendiri, Dakkar?” Ujar Ravine dengan ketenangan berbahaya. “Berbicara tak jelas juntrungnya tentang takdir hanya untuk menginjak-injak harga diriku agar aku menjadi bonekamu, sama seperti ratu semesta ini. Kau tahu, saat ini aku sangat bersyukur aku tidak berada di posisimu. Dari sudut mata makhluk seperti kami, kau adalah makhluk yang amat menyedihkan.”

Warna muka sang dewa berubah pedih seketika itu juga. Sang Penjaga Takdir menyunggingkan senyum muram yang sarat akan keprihatinan, sekaligus menampakkan kelihaian berakting yang luar biasa, “Sadari posisimu, Duoxtrees,” ucap Eddien Les Dakkar lamat-lamat. “Tidak akan ada untungnya bagimu untuk melawanku karena kehidupanmu berada di bawah kuasaku.”

“Maka pergilah,” balasnya sengit. “Pergi dan kembali ke singgasanamu. Nikmati permainan catur yang kau bangga-banggakan ini dengan tenang. Jangan khawatir, Dakkar. Kau tahu aku sudah tahu takdirku sekarang dan aku akan bertanggung jawab atas hal itu–sampai aku menemukan malaikat maut yang sudi menggorok leherku.”

Kereta itu serta-merta tenggelam oleh suara gemuruh yang memekakan telinga. Tubuh sang Penjaga Takdir kini terselimuti pendar perak keemas-emasan yang menyakitkan mata. Berkas cahaya dari energi sang dewa menembus kaca di kedua sisi kereta, menyoroti jalan yang tengah mereka lalui tanpa ampun. “Jika itu maumu, aku akan mengabulkannya. Nikmati nerakamu, Duoxtrees. Segala bentuk pengibaan yang kau lontarkan padaku, mulai detik ini tidak akan berlaku lagi.”

Sekejap kemudian, kursi di hadapan Ravine telah kosong. Perempuan itu menurunkan tangan yang dia gunakan untuk menghalagi sinar energi sang dewa, memandang kursi di hadapannya dengan malas lalu menyandarkan tubuhnya. Dia kembali melemparkan pandangan ke luar jendela dan menatap hujan yang kini telah berubah menjadi rintik gerimis. Mulutnya mengeluarkan sebuah umpatan dalam geraman lirih.

“Persetan, Dakkar.”

Iklan

Satu tanggapan untuk “Fragmen Ketiga: Nestapa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s