Asing

Dia mengaku lelah.

Tetapi senyum masih mengambang di wajahnya.

Dia mengaku lelah.

Tetapi, pikirannya masih berpacu dengan sangat cepat.

Menghadirkan asa dan nestapa secara silih berganti, di antara semburan kehijau-hijauan dan asap sarat nikotin. Dendang lagu menggelitik telinganya, membuatnya tanpa sadar ikut bernyanyi sementara dentum musik pilu itu dia ilhami sebagai elegi. Menahan sakit yang mencekik ulu hati, dia biarkan pandangannya tertambat pada sebuah benda mati sementara hangat tubuh lawan menyeruak dari permukaan kulitnya. Sesekali, dia menoleh. Entah kepada apa. Hanya menoleh, sebelum menenggelamkan diri pada caci-maki dunia yang saling bersahutan.

Dia mengangkat tangan, menyusurkan jemarinya pada tempurung kepala sementara kakinya basah oleh rasa dingin. Seseorang bernyanyi di dalam kepalanya. Semburat jingga berpendar melalui ventilasi udara sewaktu seseorang datang ke dalam pikirannya. Menyapa dengan suara lembut, menghadirkan ribuan matahari sebagai harapan yang fana.

Dia hanya bisa mengukuhkan diri pada kenyataan. Menginjakkan penyesalan pada cairan hitam pekat serta keretak kayu yang terbakar api. Perasaannya, yang sempat mengharu-biru, kini tiada lagi bersisa. Hanya lelah.

Dia mengaku lelah.

Dan kini senyum di wajahnya telah menghilang.

Dia mengaku lelah.

Dan kini, tak ada lagi yang tersisa darinya.

Iklan

2 tanggapan untuk “Asing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s