Kekelaman sang Sedap Malam

Berlatar seribu bulan yang mengitari langit, lantunan elegi tengah mengotori udara dengan kepedihan pekat. Kelamnya malam amat terasa di bawah pendar cahaya kejingga-jinggaan yang begitu fana. Begitu remang-remang. Mengaburkan pandangan.

Akan dia, yang bergeming.

Padanya, yang terdiam.

Di balik tumpukan tanah yang menggunung, berhiaskan nisan hitam kelam. Nama itu menerang. Seolah mencoba menyadarkannya dari alam mimpi. Seolah itu adalah alam mimpi. Betapa dia berharap jika itu adalah mimpi.

Semata hanya mimpi buruk.

Tangisnya pecah tanpa suara. Mengabarkan nestapa keji yang membelenggu jiwa. Di tengah kutukan abadi yang telah terpatri pada pergelangan tangannya, dia ingin bersujud. Berlutut pada sang pencipta. Memohon welas asih dalam bentuk kematian. Menginginkan. Mendamba. Keputusasaan  yang takkan pernah berakhir, bahkan jika dunia ini berakhir sekalipun.

Dukanya, yang takkan pernah habis.

Dia berlutut. Tak kuat menahan perih. Kehilangan takkan pernah menjadi sebuah berita yang baik. Terlebih, ketika engkau kehilangan seseorang terkasih. Bahkan ribuan tahun takkan sanggup menghilangkannya–duka ini; setetes racun yang telah berkembang sempurna dalam dirinya. Menyajikan kesedihan dan dendam.

Mengapa, mengapa, mengapa?

Bukankah sudah sia-sia untuk bertanya?

Iklan

2 tanggapan untuk “Kekelaman sang Sedap Malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s