Kau, Aku dan Kita

Kau, dengan segenap usahamu.

Kau, dengan segenap upayamu.

Berlari di antara debur ombak yang menggila. Berlatar gelegar petir serta deru kencang angin. Kau menyibakkan pasir, merentangkan kedua tanganmu dan mulai menari. Seruling bermain pelan, melatarimu. Kau, dengan segala gerakan indahmu, mencumbui kehidupan yang dingin dan membeku. Tersisih dalam kesendirian. Mendamba tanpa pernah benar-benar mengada.

Haru-biru perasaanmu menodai mega-mega jingga yang melatari satelit. Tahu kah kau, bulan dan matahari tengah bersenggama dalam pendar cahaya menyilaukan mata? Memandikan kau, serta aku, dengan kisah-kasih mereka berdua. Membasahi kita berdua dengan cinta mereka. Cinta yang begitu indah, begitu membara, begitu… Memuakkan.

Sementara kau melanjutkan tarianmu. Berputar-putar di tengah garis cakrawala yang semakin membara. Menumpahkan siluet perasaanmu yang sesungguhnya kelam semata. Kau menari, menuangkan bulir pasir putih yang menghitam saat bersentuhan dengan daratan. Tak sadarkah, kau, jika pasir-pasir itu membentuk garis lurus yang begitu kaku?

Sekaku kau, aku, dan hubungan kita berdua.

Sekaku kau, aku, dan obsesi kita berdua.

Kaku. Begitu kaku. Amat kaku hingga kita hanya dapat berjalan di dalam labirin yang sudah terbentuk. Benarkah sekaku itu? Entahlah. Namun dinding-dinding ini seolah menguarkan kutukan tanpa henti. Mengutukmu. Mengutukku. Mengutuk kita berdua. Hingga kita hanya bisa berlari dan terus berlari tanpa melihat ke mana arah yang dipaksakan kepada kita. Butakah kita? Atau hanya kekurangan keberanian?

Mungkin aku.

Kau, dengan segenap usahamu. Kau, dengan segenap upayamu. Kau telah menari bebas di batas cakrawala sementara aku bersembunyi dalam bayang-bayang kehidupan. Tak sanggup melanjutkan langkah. Tak sanggup menapakkan kaki dan membiarkan diriku terpapar oleh panasnya cinta sang bulan dan matahari.

Sementara aku, dengan segenap pemikiranku. Aku, dengan segenap ketakutanku.

Aku.

Dan hanya aku. Menontonmu menari dengan penuh kebebasan. Miris melihat diriku sendiri yang tak sanggup membayar risiko. Bahkan jika kujual jiwaku pada entitas kegelapan, aku tetap takkan sanggup menari bersamamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s