Fragmen Keempat: Dengki

Tiga hari belakangan dia habiskan dengan melakukan rutinitas sembari terbakar dendam. Rapat mingguan antar Forrester kemarin adalah kekacauan besar, dan suasana hatinya yang buruk sama sekali tidak membantu.

Seolah belum cukup, hasil sia-sia dari tes racun yang dimasukkan ke dalam tubuh adiknya membuat perempuan itu kehilangan petunjuk. Tangannya gatal ingin menuliskan surat perintah pencarian orang dengan ciri-ciri yang telah dikatakan Achten, kalau saja dia tidak menyadari betapa percuma tindakan itu.

Pada akhirnya, dia memutuskan untuk membenahi proteksi yang sudah porak-poranda di sekeliling kabinnya. Setelah menandatangani sejumlah dokumen perizinan festival ulang tahun ratu yang akan berlangsung mulai lusa, perempuan itu berkereta menuju kabinnya di siang hari. Mengacuhkan kuak protes dari Keith, yang nampak tidak terima dengan keputusannya untuk menghabiskan sisa hari di rumah.

Malam itu, dia bermimpi akan sang kekasih. Farchen di dalam mimpinya terlihat segar bugar, dengan senyum miring yang menawan. Lelaki berparas tampan itu menyodorkan tangan kepadanya, mengajaknya menyeberangi sungai kematian. Betapa dia berharap dapat menyambut uluran tangan itu, seandainya hubungan kontrak dengan dewa tidak menyadarkannya paksa dari bunga tidur yang indah.

Memaki, dia memutuskan untuk menghabiskan sisa malam dengan mengelilingi kabin dengan secangkir teh hangat di tangan. Angin darat berhembus tenang menyapanya, mungkin untuk membuat ilusi bahwa semua akan baik-baik saja di penghujung hidup. Dia menyesap teh dengan perlahan-lahan, menikmati detik-detik hidupnya tanpa sang kekasih.

Meski milyaran tahun berlalu, perasaan ini takkan berubah; janji yang dahulu sempat mereka berdua ucapkan, dengan seribu bulan sebagai saksi di suatu malam yang memilukan. Jika dia tahu akan seperti ini jadinya, akankah dia tetap memilih untuk berikrar? Jika saat itu dia mengetahui pedihnya gerogot nestapa pada tiap tarikan napasnya setelah lelaki itu pergi.

Air matanya tak dapat terbendung lagi. Tetes demi tetes cairan tak berwarna turun satu per satu bersama keheningan yang memilukan. Diletakkannya cangkir teh itu ke atas tatakan cangkir, mengusap tangis dengan punggung tangan dan kembali memandang lurus. Pada hidupnya yang kini tak lagi sebagai bentuk kehidupan, namun hanyalah penantian hingga akhir menjemput.

Akan tetapi bayangan lelaki itu hadir di hadapannya. Begitu tiba-tiba. Dengan senyum simpul yang telah terpatri dalam benaknya. Dia mengerjap, mencoba mengusir ilusi yang semakin menyesakkan dada tersebut.

Namun, ilusi itu bergeming. Sengaja menaburkan garam di atas luka yang menganga. Ilusi Farchen menjulurkan tangan ke arahnya. Oh, betapa dia ingin menyambut uluran tangan itu. Merasakan kembali kehangatan yang begitu dia rindukan. Menenggelamkan diri dalam keharuman yang menyakitkan jiwa. Tetapi, hanya udara kosong yang tergenggam olehnya. Panas teh yang menyiram kakinya tak lagi terasa. Bahkan, meski cangkir itu hancur berkeping-keping di bawahnya, dia tak dapat mengalihkan pandangan dari bayangan lelaki itu.

“Kenapa,” dia berbisik. Lirih, hingga tak lebih dari embusan angin. “Kenapa kau harus mati?”

Aku tidak bunuh diri.

Dia menggeram. Geraman nyaring bagai hewan buas yang terluka. Pedihnya tumpah ruah di atas gelombang air yang tengah membentur karang-karang hitam. Tetes air membasahi kedua telapak tangan yang dia tangkupkan pada wajah. Mengalir deras dan tak terbendung.

Dunia ini dipenuhi warna.

Suara sang Penjaga Takdir berkumandang di kedua telinganya, bersamaan dengan dering yang memekakan telinga. Seketika itu juga, tangisnya terhenti. Bagai tersadar Seluruh kesadarannya kini terpusat pada kalimat memuakkan itu. Ucapan yang telah merendahkan dirinya sebagai manusia. Menginjak-injak keberadaannya sebagai sesuatu yang lebih rendah dari yang terendah. Kedua tangannya kini mengepal erat. Cairan bening kini ternoda oleh semburat merah pekat.

Dia menunduk, memandang pecahan cangkir di bawah cahaya rembulan kemerah-merahan bagai kuku kucing di kaki langit. Mendengus, perempuan itu memutuskan untuk kembali ke dalam kabin. Batal terjaga hingga matahari perak merekah. Bagaimana pun, dia harus bangun pagi sekali karena sang Penguasa semesta memerintahkannya untuk menghadap ke Istana Semesta.

Keesokan paginya, Istana Semesta menyambut perempuan itu dengan keceriaan yang memuakkan.

Kristal transparan memantulkan cahaya perak dan memecahnya menjadi beberapa spektrum yang menawan. Berdiri dengan megah di atas tebing, dinding pertahanan istana seluruhnya terlapis oleh emas. Bendera biru berlini perak berkibar gagah pada tiang tertinggi dilatari cahaya perak yang telah merekah sempurna. Terik matahari memantul dari kristal-kristal penghias lengkungan, menyambarkan cahanya pada puncak sayap-sayap batu sang serigala. Di dalam keretanya, dia menyipitkan mata sembari menikmati pemandangan itu. Kedua tangannya terlipat di depan dada sementara tanda pangkat di kedua pundak bergemerincing seiring guncangan kereta.

Penguasa baru mereka, Ratu Semesta Kedua Belas memang terkenal dengan kecintaannya akan barang-barang gemerlap. Sudah jutaan kali, dalam dua ratus tahun, dia terpaksa menandatangani surat perijinan impor permata dari laut Illyva dan provinsi Orderium sembari menulikan diri dengan terpaksa akan protes para penduduknya. Meski dia berstatus Penjaga Semesta, kedudukannya tak lebih dari label semata. Apa pun yang terjadi, sang Ratu memegang kendali penuh terhadapnya.

Dia turun saat kereta yang ditarik oleh dua ekor coppresia itu telah berhenti tepat di depan anak tangga istana. Dia membuka pintu kereta, membiarkan angin menderu melewatinya sementara memincingkan mata karena sinar perak yang memantul dengan kurang ajar. Sepatu botnya menapak di atas jalan berlapis batu putih sempurna dan kelima inderanya seketika menangkap kebahagiaan yang menguar hebat dari istana. Sebentar lagi, Ratu yang Agung akan berulang tahun.

Menganggukkan kepala membalas sapaan penjaga yang menyambut kedatangannya, dia membiarkan dirinya mengikuti pemandu istana meski dia sendiri sudah tahu ke mana dia menuju. Dendang ceria alunan orkestra menggema di sepanjang lorong dan koridor, sementara gemericik air mancur tengah bekerja sambilan sebagai penyanyi pengiring. Dedaunan serta rerumputan biru tenang di tempatnya. Lorong dan koridor memantulkan pendar keemasan dari lapisan emas di permukaannya. Memperkuat rasa perayaan yang memabukkan di udara.

Dia mendengus. Satu lagi perayaan sia-sia yang harus dia jalani. Lagi.

Bukannya dia memiliki dendam pribadi dengan sang penguasa semesta atau apa–hal itu malah tidak pernah mencapai pemikirannya. Tetapi, sikap sang Ratu-lah yang seharusnya dipertanyakan. Dia paham, jika sang Penguasa Semesta sempat jatuh hati dengan tunangannya dan menganggap dia kurang ajar karena hidup atas welas asih penguasa sebelumnya.

Singkat kata, bagi sang Ratu, dia hanyalah seongok sampah yang tak perlu dikasihani.

Langkahnya terhenti di depan pintu lengkung berdaun ganda. Aksara kuno Astrolea terukir keemasan di atas permukaan lengkungan dari batu putih itu. Dia memandang lurus pada relik serigala yang memenuhi kedua daun pintu, hingga pemandunya mendorong pintu itu agar terbuka.

Pandangannya disapa oleh hamparan karpet biru yang panjang. Di kedua sisi karpet, lantai marmer putih memantulkan kemilau warna-warni dari kaca patri. Seolah ingin mengindahkan fakta bahwa dunia ini hanya diisi oleh spektrum monokrom semata. Dia menyapukan pandangan, melewati jajaran dua belas pelayan Ratu; menaiki tujuh anak tangga. Tepat di seberang ruangan; pada sosok perempuan yang tengah duduk di kursi takhta dalam balutan gaun seputih mutiara ditemani seorang ksatria berbaju zirah hitam pekat.

Sang Penguasa semesta Astrola.

Dia mengalihkan tatapan. Membiarkan telapak sepatu botnya membekas di atas karpet yang empuk. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Dia berhenti, perlahan berlutut dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Denting lonceng yang bergema di seantero ruangan menjadi penandanya untuk mulai berbicara. “Salam hormat duoxtrees para Penjaga Takdir kepada sang Penguasa Semesta. Kedatangan saya adalah untuk memenuhi sumpah setia kepada Ratu Kedua Belas.”

Denting lonceng kembali terdengar. Suara sang Penguasa begitu halus, manis, dan lembut. Tetapi, dia dapat mendengar kedengkian samar yang tersembunyi rapat-rapat. “Selamat datang, Ie Oufth. Tentunya engkau sudah mengetahui apa maksud panggilanku kali ini?”

Tanpa perlu melihat sorot mata sang Penguasa pun, dia sudah mengerti. Segala cemooh serta rasa sengit yang hadir melalui bisu; semata karena dia telah mengenyam cinta yang didambakan sang Ratu Semesta. Kebencian padanya. Rasa iri yang membabi-buta. Hanya menanti saat yang tepat untuk menguburkannya dalam liang yang sudah tergali. “Ya, Do Mohrgaetcha, saya datang untuk menyampaikan keberhasilan Mabes Pertahanan menangani evakuasi di tiga titik pada provinsi Korrecia. Di sisi lain, tim peneliti belum berhasil menemukan cara penanggulangan awan gelap yang terus menyebar ke utara semesta. Saya telah mengirimkan laporan lengkap kepada Penasehat terkait hal ini.”

Gemerisik kain memberitahunya jika sang Ratu tengah berdiri. Suara hak sepatu milik sang Penguasa samar terdengar, sementara perempuan itu menuruni panggung takhta. Tepat menuju kepadanya. Berhenti di hadapannya. Bergeming dalam kesenyapan sesaat. “Bukan itu yang aku inginkan, Ie Oufth,” dingin suara sang Ratu menyiramnya. Dia mengerti hal itu, protokol biasanya; tanda baginya untuk mengangkat kepala. Maka, dia pun mendongak. Memandang tepat di kedua bola mata seperak surya itu. “Apakah engkau menikmati siksaanmu?”

“Ya, Do Maohrgaetcha” sahutnya, setenang permukaan air.

Sang Ratu menunduk, menyusurkan jemari lentik di sepanjang garis rahangnya tanpa mengalihkan tatapan. “Engkau adalah lawanku yang terkuat, Ie Oufth,” suara manis itu berdendang. “Ketenanganmu nyaris membuatku gila. Padahal, engkau sangat mengetahui betapa aku membencimu. Welas asih yang engkau reguk dari kedua orang yang kucintai serta simpati suamiku kepadamu–engkau adalah exciorthis yang paling beruntung.”

“Jika,” dia berucap perlahan. “Saya diperbolehkan untuk memilih, saya lebih memilih untuk enyah dari kehidupan ini.”

Sang Penguasa menarik tangannya. Memandangnya dingin. Pekat dendam kesumat membayang di antara mereka. “Dan bukankah kematian adalah nirwanamu?” Sahut perempuan itu dengan nada meninggi oleh geram. “Tidak, tidak, Ie Oufth. Melalui suamiku aku mengutukmu. Hiduplah hingga aku telah tiada. Reguk siksaanmu sepuas mungkin. Aku takkan pernah lagi membiarkanmu mencicipi kebahagiaan meski itu adalah takdir,” perempuan berhias mahkota itu berbalik, menyusuri karpet biru panjang yang membentang hingga ke seberang ruangan lalu menduduki takhtanya. “Sabdaku kepada para peneliti, Ie Oufth: musnahkan awan gelap yang menyelimuti semesta ini. Engkau boleh pergi.”

“Salam hormat duoxtrees para Penjaga Takdir kepada Do Mohrgaetcha,” ujarnya tenang. Dia berdiri lalu melangkah pergi dari hadapan sang Ratu Kedua Belas. Denting lonceng mengiringi derit kedua daun pintu yang menutup. Berada di lorong, dia mengembuskan napas panjang, memandangi dinding dari batu putih yang berlapis emas samar.

Lima ratus tahun rupanya tidak sanggup untuk menghapus dengki yang telah mengakar jauh. Dia menghela napas, menyisirkan jemari di antara helaian rambut sehitam jelaganya dan mencoba mengusir perasaan muak di dalam diri. Mencoba memahami pemujaan yang dilakukan sang Penguasa terhadap tunangannya, yang sudah tiada itu. Memuja sosok imajiner berdasar untaian kata dalam buku sejarah, betapa bodohnya.

Dia melangkahkan kaki menuju serambi depan, menyusuri koridor terbuka yang menampakkan taman dengan rerumputam semerah darah. Etofais nampak menari-nari penuh ceria di udara beriring simponi kebahagian yang tengah dimainkan oleh para pemusik dalam aula besar. Pesta dansa tahun ini akan meriah, batinnya, dan juga menjijikkan. Betapa dia berharap dapat melewatkan pesta itu.

Naas, bahkan kebebasan untuk memilih pun sudah tidak dia miliki. Perempuan itu memincingkan mata sewaktu cahaya matahari perak bersinar tepat kepadanya. Dari anak tangga teratas, dia dapat melihat hingga ke perbatasan kota Rutheswarn; dinding pembatas kelabu yang menjulang tinggi sekali, melatari ratusan atap pemukiman serta bangunan kota yang kemerahan. Bergeser sedikit ke kanan, dia dapat melihat menara kuil sang Permata Kehidupan yang seolah hendak mencakar langit; berseberangan dengan kuil para Penjaga Takdir yang serupa.

Dan di kejauhan, kaki langit tengah diselimuti oleh kegelapan.

Bahkan melalui tabir emas yang melingkupi kota Rutheswarn, perempuan itu dapat melihatnya dengan jelas; awan gelap itu. Menggantungi langit seperti kekasih yang tak ingin ditinggal pergi oleh rasa cintanya. Begitu gelap dan berat. Penanda bencana tanpa akhir yang bermula dari perang enam ratus tahun silam. Dia merogohkan sebelah tangan ke dalam saku, berupaya mengambil sebatang rokok dalam kotak penyimpanan sewaktu ujung jemarinya menyentuh carikan kertas celaka itu.

Baru hendak dia mengeluarkan kertas celaka itu, ramai perseteruan dua orang mengalihkan perhatiannya. Dia menoleh, memutar tubuh ketika dua laki-laki berjalan ke serambi depan sembari saling membentak. Satu dari mereka dia kenali sebagai gurunya di akademi, sang sejarahwan yang sudah ada bahkan semenjak Ratu Semesta Kesepuluh masih dalam kandungan. Satu sosok lainnya dia kenali sebagai Penasehat Kerajaan.

“…Perayaan ulang tahun ini harus tetap diadakan, Mercier-ryv. Masyarakat harus tahu bahwa sang Penguasa tetap ada untuk mereka, apa pun kondisi yang tengah terjadi,” didengarnya Penasehat Kerajaan berujar dalam nada rendah dan marah. “Kebahagiaan adalah esensi yang harus ada dalam tiap jiwa di semesta ini, lebih-lebih saat kesengsaraan tengah melanda seperti sekarang.”

Kedua lelaki itu berhenti. Sang Sejarahwan menggelengkan kepala tidak setuju, “Kondisi apa pun itu tidak mencakup kemerosotan hidup yang sekarang tengah terjadi! Pikirkan bagaimana rakyat menanggapi festival ini sementara mereka sendiri berkutat dengan kemelaratan?” Tatapan mereka bertemu. Dia memberi salam hormat kepada gurunya, yang nampak terkejut. “Ah, Ie Ouft. Kemarilah sebentar!”

Dia menurut, mendatangi mereka berdua di bawah kubah emas dengan lukisan sang Penjaga Takdir serta ketiga lapisan dunia. Langkahnya bergema kencang sementara kedua lelaki paruh baya itu terdiam memperhatikannya. “Salam hormat, Mercier-ryv, Sektolan-ryv,” ucapnya.

Tepukan ramah mendarat di lengannya. Sang sejarahwan menatapnya dengan hangat, “Ie Oufth, coba beritahukan kondisi masyarakat di Ruthesworth sekarang,” pinta lelaki berambut putih itu.

Diam-diam, dia menghela napas. Sadar tengah memasuki skenario yang seperti apa, “Seperti yang dikatakan oleh Mercier-ryv, sebagian besar masyarakat di tanah suci ini tengah bergelut dengan kemiskinan, terutama kurangnya pasokan pangan. Anda sendiri tentunya memahami bahwa dua puluh persen dataran penghasil pangan berada di wilayah yang terselimuti awan gelap?” Dia menoleh ke arah Penasihat Kerajaan, yang nampak jelas tidak terima.

Penasihat Kerajaan memperdengarkan cemooh samar, “Dan Anda harus memahami, Ie Oufth, jika Ratu sudah berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Bukankah Anda sendiri yang menangani impor bahan baku dari semesta lain? Anda mengetahui seberapa keras Kerajaan telah berusaha untuk membahagiakan masyarakatnya.”

“Itu benar,” sahutnya tenang, “Dan di situ letak permasalahannya. Rakyat sudah mengetahui ketidaksanggupan kerajaan untuk menyediakan kebutuhan pokok secara merata ke seluruh wilayah. Delapan puluh persen desa di daerah Bollevirtah kekurangan air bersih serta gandum. Saya sudah berusaha semampunya,” sambung perempuan itu tanpa memberi kesempatan kepada Penasihat Kerajaan untuk menyela, “Untuk mendistribusi bahan pokok yang didatangkan dari semesta lain. Tetapi, pada kenyataannya, itu tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka.”

“Maka suruh mereka untuk lebih bijak!” Sahut Penasihat Kerajaan dengan nada meninggi. “Mereka hanya tinggal menerima dan menggunakan tanpa perlu berpikir kerumitan yang tengah melanda Kerajaan. Jika saya bisa, saya lebih memilih untuk menjadi mereka daripada berkutat dengan segala masalah ini–tidak,” Penasihat Kerajaan menghentikan upayanya untuk menyela, “Seharusnya mereka bersyukur bahwa Kerajaan masih memberikan kesempatan kepada mereka untuk bersenang-senang di tengah kepelikan ini. Saya tidak ingin mendengar omong kosong ini lagi, Ie Oufth, Mercier-ryv. Festival akan tetap berjalan, apa pun yang terjadi. Saya pastikan itu”

Dan Penasihat Kerajaan itu berlalu, meninggalkannya serta sang sejarahwan dalam keheranan. Dia dan sang sejarahwan bertukar pandangan. Lalu mengembuskan napas panjang secara bersamaan. Sang sejarahwan mengoper senyum padanya, yang dia balas dengan anggukan singkat. “Oufth, ya?” Ucap lelaki paruh baya itu dengan geli. “Seingatku, kamu dulu membenci pelajaran politik.”

Dia hanya mendengus dan menyambut jabatan tangan sang sejarahwan. “Saya merasa berhak mendapatkan ucapan terima kasih atas ketersediaan saya untuk menjalani lakon yang Anda berikan,” ucapnya diiringi senyum tipis. Sang sejarahwan terkekeh lepas. Dia memasukkan tangan kembali ke dalam saku, menyentuk pucuk kertas nista itu. Dipandangnya sang sejarahwan dengan lekat, “Mercier-ryv, apakah Anda memiliki waktu?”

Keseriusan nadanya membuat lelaki paruh baya itu mengerutkan kening. Senyap sesaat sewaktu dia menolehkan kepala, memandangi surya perak yang semakin tinggi serta barisan penjaga di sepanjang tangga selasar. “Ada apa, Oufth?” Tanya sang sejarahwan, mengikuti pandangannya.

Perempuan itu mengeluarkan secarik kertas yang tersimpan di dalam kantong celananya, menyerahkan benda kecil itu kepada sang sejarahwan dan berujar dengan nada tenang, “Saya mendapatkan ini sewaktu adik saya diserang. Anda tentunya sudah mendengar perihal itu?”

Diperhatikannya sang sejarahwan, yang mimik mukanya seketika nampak keruh. Lelaki paruh baya itu menambatkan kedua manik mata abu-abu padanya. Tatapannya memancarkan ketidakpercayaan. Dia hanya menghela napas panjang, menyisirkan tangan pada kepalanya sementara sang sejarahwan berucap terbata-bata. “Ouft… Ini, apa maksud surat ini?”

“Itu yang ingin saya tanyakan,” balasnya setenang mungkin. Meski pertanyaan sang sejarahwan membuatnya mengepalkan tangan. Dia tidak ingin memperkeruh suasana, tetapi tidak mungkin menghapuskan pengetahuannya mengenai pertemuan yang sering terjadi antara Farchen dan sang sejarahwan, pada malam-malam gelap serta diselimuti kerahasiaan, “Bisakah Anda membantu saya menjawabnya?”

Sang sejarahwan mengembuskan napas panjang, mengantongi surat itu di jas kecokelatannya lalu menuruni undakan batu putih. Dia mengikuti langkah pria paruh baya itu. Merasakan sengatan matahari yang tepat mengenai puncak kepalanya. Membiarkan pemandangan langit perak yang dikeruhi oleh awan hitam pada garis horizon. Sebuah kereta serta-merta meluncur ke arah mereka. Membawa deru angin, keretak kayu serta pilu yang tersembunyi rapat atas seseorang yang telah tiada.

Saat kereta itu sudah mencapai mereka, sang sejarahwan membuka pintu dan menaiki kereta. Lelaki paruh baya itu memandangnya dengan kehangatan bercampur pedih. Membuatnya terhenyak untuk sesaat saja, “Naiklah, Oufth,” ujar pria itu. “Aku akan mengantarmu ke Mabes Pertahanan.” Ragu sempat menyelimutinya namun seketika dia tepis jauh-jauh. Mengikuti perintah Lyvia Mercier, dia turut memasuki kereta. Pintu kereta menutup tepat setelahnya.

***

Pria paruh baya itu menatap hampa dengan kesepuluh jemari saling bertaut.

Sinar perak surya menghantarkan kehangatan samar ke dalam ruangan sempit berlapis hiasan keperakan serta dua buah dudukan empuk itu. Hanya saja, keindahan itu tidak dapat menutupi ketegangan yang tengah merambat di udara secara perlahan namun pasti.

Dia diam. Memandang sang sejarahwan dengan tatapan tanpa emosi sementara Lyvia Mercier menampakkan kegelisahan dengan sangat jelas. Sepuluh menit telah berlalu semenjak kereta itu bertolak dari Istana Semesta. Mungkin lebih. Namun pria paruh baya di hadapannya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbicara sama sekali. Dan dia tidak berniat untuk memancing pria itu. Bagaimana pun, dia masih memiliki kesabaran.

Lyvia Mercier memandangnya sejurus kemudian. Tatapan pria itu nampak gusar juga… takut? Dia tak tahu. “…Katakan apa yang sudah kau ketahui, Oufth,” didengarnya sang sejarahwan berbicara dengan nada tegas juga sedikit kasar. Membuatnya menaikkan sebelah alis mata karena heran.

“Akan apa, Mercier-ryv?”

“Tentang Farchen. Semuanya.“

Baru kali ini, selama enam ratus tahun lebih, dia merasakan dorongan untuk tersenyum. Membuatnya melengkungkan bibir, membentuk seulas senyum yang mungkin terlihat sinis. Padahal dia sungguh-sungguh ingin tersenyum, mengingat arah pembicaraan sang sejarahwan yang begitu jelas, “Maksud Anda, tentang fakta bahwa Farchen bekerja sebagai mata-mata di bawah komando Anda, Mercier-ryv?“ dinikmatinya raut wajah gusar yang memucat itu dengan sebisa mungkin. Padahal dia belum sampai ke bagian terbaiknya. “Atau bahwa dia memata-matai Les Dakkar?“

Nah. Bom sudah dijatuhkan. Dan dia tidak kecewa dengan reaksi yang diterimanya. Wajah tua yang dipenuhi garis keriput itu saat ini sungguh tak lagi memiliki warna. Jika seseorang hendak menjajarkan Lyvia Mercier dengan tembok, dia tidak yakin dapat menemukan perbedaan kecuali pada fitur wajah seperti mata, hidung dan mulut.

Menahan tawa yang sudah berada di dasar kerongkongan, dia melanjutkan kata-katanya. “Anda tahu, sepandai-pandainya dia menyembunyikan hal ini dari saya, saya bukanlah orang yang mudah untuk dibohongi. Ah, benar juga,“ dia menggantung kalimatnya, menikmati keheningan mencekam yang timbul. “Pertunangan kami berada di luar perhitungan Anda.“

Dia memandang ke luar jendela, membiarkan pria tua itu menyesapi kata-katanya.Tembok tinggi yang mengitari istana nampak sudah jauh di belakang sana, tergantikan oleh deretan pepohonan berdaun biru serta bangunan pemukiman serta berbagai macam bendera perayaan.

Dipandanginya kesibukan penduduk yang tengah mempersiapkan hari perayaan ulang tahun sang Penguasa. Hiasan-hiasan cerah yang bernada biru serta perak menggantung di sela-sela jalanan kota, dipadu dengan lukisan-lukisan perkotaan yang tengah diperbarui. Melaju tak lebih dari satu menit, dilihatnya pasar yang begitu penuh dengan pengunjung. Samar, dia dapat mendengar tiupan terompet bernada bahagia yang membelah udara berulang kali.

Dia kembali menoleh kepada Lyvia Mercier, yang masih menatapnya dengan mata nanar. Pria paruh baya itu nampaknya kesulitan merangkai kalimat setelah ucapan yang dia lontarkan. Menghasilkan dengusan samar darinya, “Mari kita perjelas bersama-sama. Delapan ratus tiga puluh tahun silam, Anda memerintah Farchen untuk memata-matai Penjaga Takdir utama. Saya akan berkata jujur bahwa saya tidak tahu detail perihal itu, tetapi dilihat dari target serta agen yng Anda pilih, masalah ini tidak mungkin tidak menyangkut keselamatan semesta.”

Ekspresi sang sejarahwan mengonfirmasi teorinya. Dia memejamkan mata sesaat, menyesapi rasa kemenangan kecil yang berteriak di balik dinding logikanya. Sewaktu dia membuka mata, Lyvia Mercier terlihat tengah mengusap wajah dengan kedua tangan sembari menggeram tertahan. “Baiklah,” ujar pria paruh baya itu dengan suara tercekat. Lelaki itu memandang ke luar jendela dengan wajah kelam, “Oufth, Ravine Eire. Aku sungguh tidak tahu harus dari mana aku memulainya.”

“Memulai apa?”

“Kau tahu, ini tidak seharusnya kuutarakan,” sang sejarahwan mengusap wajahnya dengan gugup. Menarik napas panjang. Mengembuskan napas berulang kali sembari memandangi tangannya yang gemetar. Ravine memperhatikan tingkah laku lelaki paruh baya itu dengan terheran-heran. Tidak pernah, bahkan selama masa didiknya di akademi, dia melihat sang sejarahwan seperti ini. “Rahasia, kau tahu sendiri apa dan bagaimana pekerjaanku.”

Dia mengangkat sebelah alisnya, “Ada apa sebenarnya? Tampaknya masalah ini memiliki duduk perkara yang lebih dalam ketimbang perkiraan saya,” perempuan itu menyilangkan tangan di depan dada, menatap bekas gurunya lekat-lekat, “Tolong beri saya pencerahan, Mercier-ryv. Anda sudah terlanjur membuat saya penasaran dan Anda yang paling tahu, saya akan mengejar Anda sampai Penjara Semesta, jika diperlukan.”

Senyum gugup tersungging di wajah kecokelatan yang berhias usia tersebut. “Aku paham,” sahut sang sejarahwan dengan suara bergetar. Kelima jemarinya berderap dengan irama stagnan di atas pangkuan lelaki itu sementara mereka berdua bertukar pandangan. Seolah tengah menilai masing-masing dari sudut pandang satu sama lain. Atau mungkin, menilai tingkat kepercayaan yang terancam musnah begitu saja dengan kesalahan sebuah kata serta nada. “Jujur saja, Oufth, tidak seharusnya aku tidak mengatakan ini kepadamu, walau aku tahu kau berhak mengetahuinya.”

Dia memandang Lyvia Mercier dengan dingin. Sementara, pemandangan di luar telah berganti dengan kelebatan pepohonan kebiruan yang menciptakan bayang-bayang kelam. Mereka kini tengah berkendara melewati jalanan di tengah hutan menuju provinsi lain. Deretan pepohonan itu seolah mengasingkan mereka dari dunia yang tengah berjalan.

“Yah, kau tentunya sudah tahu bahwa aku bekerja bukan atas nama Ratu tetapi atas nama Yang Dimuliakan Permata Kehidupan,” sang sejarahwan memulai, mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut putih dengan tangan sedikit gemetar. “Mari kita mulai dari awalnya. Yah, benar. Kau mengingat Perang Kegelapan pertama? Tentu kau ingat,” lanjut pria paruh baya tersebut. “Hal ini tidak diketahui oleh masyarakat semesta, namun aku dan pendahuluku mengetahui bahwa perang tersebut dimulai oleh para Penjaga Takdir.”

“Bukankah memang seperti itu?” Sahut Ravine dengan kening berkerut. “Sejarah juga menuliskan hal yang sama, Perang Kegelapan pertama dimulai karena satu dari ketiga Penjaga Takdir salah menciptakan dunia dan akhirnya membuat dunia itu berbenturan dengan semesta Astrola. Ratu Kedua menggunakan pusaka semesta, Iganthias, untuk mengurung Penjaga Ketiga dan mengembalikan tatanan semesta. Manusia yang kehilangan kekuatannya kemudian diungsikan ke kerak terluar semesta… Apa?” Tanyanya, sewaktu sang sejarahwan menggelengkan kepala. “Jangan katakan pada kalau sejarah itu salah.”

“Itu penipuan,” sahut Lyvia Mercier dengan nada sinis. “Penipuan besar-besaran demi menjaga nama baik para Penjaga Takdir. Inilah awal mula semua masalah, Oufth,” lelaki paruh baya itu memandangnya lekat dengan kedua iris abu-abu yang memancarkan bara api. Lagi-lagi memberikannya pandangan akan sesuatu yang tak pernah dia perkirakan. “Tidak, tidak. Aku tidak bisa jika tidak memberitahumu kenyataan yang sesungguhnya. Penjaga Takdir Ketiga, Illyv Rraddak, hanya kambing hitam! Semua ini adalah akal-akalan sang Penjaga Takdir utama, pemegang kontrakmu itu.”

“Apa maksud Anda, Mercier-ryv?” tanyanya sembari mengerutkan kening.

“Les Dakkar. Dia dalang dari semua kejadian ini. Dia telah mengintip ke dalam kolam terlarang untuk melihat Masa Kelahiran An Jwel Na Bothce. Semenjak itu dia mulai membuat percobaan untuk mengimitasi Permata Kehidupan,” sang sejarahwan berbicara padanya dengan tergesa-gesa. Seolah jika tidak mengatakan hal itu, pria paruh baya itu akan musnah. Dipandangnya Lyvia Mercier, yang terdiam sejurus lalu mengembuskan napas panjang sembari menggelengkan kepala perlahan, “Aku tidak seharusnya mengutarakan hal ini,“ ujar pria itu dengan nada penuh penyesalan.

Tumitnya mulai mengetuk lantai dengan kecepatan stagnan. Di luar, pendar perak surya mulai meredup. Menghadirkan bayang-bayang kelam yang membangkitkan pedih pada hati siapa pun. “Silakan lanjutkan kata-kata Anda,” dia berucap dengan nada datar.

Kata-katanya membuat sang sejarahwan kembali mengerang frustrasi. “Baiklah, baiklah…. Yah, kau kini sudah tahu inti masalahnya.“ Sang sejarahwan memandang ke luar sesaat, seakan tengah mencari kata yang tepat, “Semenjak mengintip Kolam Terlarang di tanah suci Permata, Les Dakkar mulai melakukan berbagai macam percobaan. Begitu banyak, sampai mengguncang keseimbangan semesta. Semesta ini dulu tidak memiliki bulan, tahu? Tapi, semenjak itu bulan demi bulan lahir tanpa jeda, hingga mengganggu daya tarik tata surya. Tetapi, tidak ada yang lebih fatal daripada pemutarbalikan energi suci.“

Dia memincingkan mata, “Masa Kehilangan,“ gumamnya.

Di hadapannya, sang sejarahwan mengangguk pelan, “Kau benar, Oufth. Pemutarbalikan energi suci menyebabkan sebagian besar exchiorthis kehilanga kekuatannya. Tidak ada lagi yang dapat menahan daya tarik tata surya hingga ribuan bulan saling bertabrakan. Dan inilah penyebab sesungguhnya Perang Kegelapan pertama. Kau tahu kenapa mereka yang tak berkekuatan dipanggil vallae?” Perempuan itu menelengkan kepala, meminta jawaban.  Lyvia Mercier mencondongkan badan ke arahnya dan berbisik, “Vallae dalam bahasa kuno Astrolea berarti ‘bala’—malapetaka.”

Suara derak kereta yang mereka naiki terdengar jelas semetara dia mencoba meresapi kenyataan yang baru saja disodorkan kepadanya. Sang Penjaga Semesta memandang gurunya dengan tatapan yang tajam, memperhatikan raut penuh keputusasaan yang mulai muncul di sana lekat-lekat. “Tapi, tidak berhenti sampai di situ saja, kan?” tanyanya dengan tenang.

“Tidak,” sahut sang sejarahwan dengan penyesalan yang kentara. Pria paruh baya itu meremas tangannya sendiri. Kegamangan nampak jelas di wajahnya. “Tidak, tidak hanya sampai di situ saja. Oh, An Jwel Na Botche, maafkan aku!” Sang sejarahwan berseru pasrah sembari menepuk dahinya kencang. “Aku tidak seharusnya membocorkan hal ini padamu, Oufth! Sumpah yang kuucapkan hari itu amat berat, terlalu berat bagiku.”

Sang Penjaga Semesta hanya mengembuskan napas, “Saya menunggu,” Dia menyandarkan punggung dan menatap langit-langit kereta yang berlapis kain kebiruan. Sejenak dibiarkannnya hening terusik oleh komat-kamit sang sejarahwan. “Berikan satu jawaban pada saya, Mercier-ryv. Satu saja,” dia memandang sang sejarahwan dengan tatapan tanpa emosi. “Mengapa Anda menunjuk Farchen?”

“Dia duoxtrees-nya,” sahut sang sejarahwan letih. Pria paruh baya itu kembali mengusap wajahnya dengan pasrah, “Dia yang memiliki akses paling besar untuk mendatangi Haven Nostrarie tanpa dicurigai target An Jwel Na Botche. Akuilah, Oufth. Kau juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku,” tambah lelaki paruh baya itu sewaktu Ravine memperdengarkan geraman tertahan.

Perempuan itu memijit pelipisnya yang mulai berdenyut menyakitkan. Mengalihkan tatapan ke langit-langit kereta sebagai upaya untuk mengusir kemarahan yang sudah kembali menggelak bagaikan lava panas dalam dirinya. “…Satu lagi, Mercier-ryv. Kutukan itu?”

Dipandangnya lelaki paruh baya itu sementara sinar surya menerobos ke dalam kereta. Dengan wajah separuh tersembunyi dalam bayangan, sang sejarahwan kembali berbicara, “Kau tahu bagaimana Les Dakkar amat berhati-hati, Oufth. Dia mulai mencurigaiku karena sering berkelana antar dimensi. Kecurigaannya meningkat sewaktu dia mengetaui jika aku mulai mengais sejarah tentangnya sebelum Perang Kegelapan pertama. Maka, saat dia mendengar bahwa aku dan Farchen sering bertemu, dia kemudian menanamkan kutukan pada Farchen.”

Detik itu juga, dia paham seluruhnya. Diangkatnya sebelah tangan, meminta lelaki paruh baya itu berhenti. Membalas pandangan bertanya sang sejarahwan, dia menelengkan kepala. “Lalu, surat itu?”

“Aku tidak tahu,” sahut Lyvia Mercier dengan nada putus asa. Dia dapat melihat bahwa rasio milik lelaki paruh baya itu telah kembali. Mata sang sejarahwan berlari ke sana-ke mari, seakan mencari jalan keluar dari perangkap yang telah dimasukinya tanpa sengaja. Membuat Ravine tertawa hambar di dalam hati. “Tidak, aku tidak mengetahui surat ini. Farchen tidak pernah berbicara apa-apa kepadaku. Sekilas, tulisan tangannya memang seperti tulisan tangan Farchen, tapi aku membutuhkan ruang kerjaku, bukan? Agar semuanya jadi lebih jelas.”

Laju kereta terasa semakin cepat. Dia terdiam, mencoba menata pikirannya yang porak-poranda akibat kebenaran. Lagi-lagi dia kembali berdelusi mendengar lantunan elegi di kejauhan. Sensasi jatuh yang begitu familiar menghanyutkannya. Dia mengembuskan napas, menata emosinya yang mengancam untuk meledak. Jalan setapak yang dilalui kereta itu telah dihapalnya. Dia menundukkan kepala, memberi hormat kepada sang sejarahwan sementara gerbang Mabes Pertahanan nampak semakin dekat. “Terima kasih atas informasi yang Anda berikan, Mercier-ryv. Lebih tepatnya, terima kasih sudah bersedia menempuh risiko dengan menceritakan ini semua.”

Kereta itu berhenti tepat di depan gerbang Mabes Pertahanan. Dia meraih gagang pintu kereta, membukanya, lalu meloncat turun. “Terima kasih atas tumpangannya. Saya akan menunggu kabar selanjutnya dari Anda. Feadfait an jwel artt tar tu,” dia memberikan lambaian tangan singkat kepada sang sejarahwan. Lyvia Mercier membalas lambaian tangannya dengan raut wajah keruh sebelum pintu kereta tertutup. Kendaraan darat berdoa dua itu pun meluncur perlahan, bertolak dari Mabes Pertahanan menuju Sventjeria Timur di mana kediaman lelaki paruh baya itu berada.

Berlatar langit perak yang semakin memudar karena sore telah menjelang, serta menara-menara dengan bendera berkibar gagah di Mabes Pertahanan, Ravine berdiri di depan gerbang sembari menatap hampa pada bagian belakang kereta. Pikirannya masih tertinggal di sana, pada kenyataan yang baru saja dia pelajari.

Dia berbalik, memandangi Mabes Pertahanan dengan keempat menaranya yang menjulang tinggi. Di sisi kiri dan kanan gerbang, selusin penjaga berbaris dengan pandangan terarah padanya. Dia merogoh kantong celana, mengabil sebatang rokok dan menyalakannya dengan api energi. Asap nikotin mengepul tebal di sekelilingnya.

Suara Farchen terngiang di ingatannya. Dia kuat. Membalas pandangan yang terarah padanya secara lurus, dia berjalan melewati barisan penjaga dengan kepala terangkat. Selusin penjaga itu kontan menundukkan kepala mereka, tak berani lagi memandang kepadanya. Bagaimana pun, dia adalah sang Penjaga Semesta. Dia harus kuat.

Langkahnya membawa perempuan itu melintasi selasar depan Mabes Pertahanan. Langit telah semakin membiru karena pudarnya cahaya perak matahari, membuat kaca patri di dekat tangga membiaskan pendar toska yang terasa begitu dingin.

Dia memasuki gedung Mabes Pertahanan yang tengah ramai oleh persiapan pegawai administrasi sebelum jam kerja mereka usai. Dianggukkannya kepala, membalas salam hormat mereka, sementara dia sendiri langsung menaiki tangga. Langkah kakinya teredam oleh hamparan karpet.

Di pertengahan tangga, dia bertemu dengan Keith. Lelaki itu menghentikan langkahnya dan menatap lurus dengan tatapan khawatir, “Kamu kenapa? Wajahmu pucat.“ Dibalasnya tatapan lelaki itu, merasakan kasih sayang yang begitu kentara. Kencang cengkraman lelaki itu terasa jelas di pundaknya. Pelan, dia menyentakkan tangan lelaki itu agar terlepas darinya. Dipinggirkannya lelaki itu dari jalannya. Tanpa menberikan jawaban apa pun.

Benaknya terasa begitu penuh, hingga dia tidak sadar bagaimana tiap langkah membawanya menuju lantai teratas. Hanya satu kalimat yang terus berulang dalam pikirannya, tersisip di antara ingatan-ingatan lain yang berkelebat seenak jidat: Dia harus kuat.

Dia harus kuat, agar dia dapat menjaga semesta ini. Dia harus kuat, agar rasa keadilannya tidak terganggu oleh emosi-emosi pribadi. Dia harus kuat, agar dia sanggup bertindak sebenar-benarnya dengan cepat. Dia harus kuat, agar dia dapat memenuhi harapan kekasihnya yang telah tiada.

Kini dia dapat memandang pintu kayu yang menjadi penghalang antara koridor dan ruang kerjanya. Tanpa sadar, pandangannya tertuju kepada ukiran kayu berbentuk serigala itu. Kembali dia teringat saat di mana sang Penjaga Takdir menemuinya selepas dari Rumah Perawatan. Telinganya dapat menangkap rintik hujan samar yang menderas di antara kalimat hinaan dari entitas itu.

Perempuan itu menggeretakkan gigi. Dia harus kuat. Harus. Atau dia akan runtuh. Cengkraman kuat nestapa meremas jantungnya. Merobek-robek akal sehatnya. Nyaris. Amat nyaris tangannya melayang untuk menghancurkan ukiran rupa serigala itu, kalau saja tidak dia rasakan keanehan yang mengambang jelas di udara. Begitu jelas, hingga logikanya menyentak dengan kekuatan luar biasa.

Gemerincing lonceng itu begitu samar. Samar, namun tidak seharusnya ada di sana. Disentaknya pintu kayu itu hingga terbuka. Suara kayu terdengar jelas terdengar di dalam lorong yang sepi dan bermandikan berkas cahaya toska itu. Suara gemerincing itu seketika berhenti. Dia memincingkan mata karena pendar senja yang begitu jelas dan menyakitkan matanya. Bersamaan dengan itu, indera penciumannya menangkap bau yang begitu asing sekaligus familiar.

Membuat bulu kuduknya berdiri.

Tepat di samping meja kerjanya, sosok asing nampak berdiri. Terlapis oleh mantel mencapai kaki yang berwarna nila gelap. Tudung mantel itu menyembunyikan sosoknya dengan jelas, seolah memang ingin membuatnya tak ingin dikenali.

Perempuan itu terpaku. Sosok asing itu, dia tidak seharusnya ada di sini. Tidak di dalam ruang kerjanya. Tidak di pusat segala pertahanan semesta yang dipenuhi dengan lebih dari seratus penjaga siaga. Seharusnya tidak ada yang bisa menembus penjagaan ketat itu. Dapat dirasakannya gemetar yang merambati kaki, sementara kilasan ingatan berkelebat. Tentang Achten yang terbaring dalam Rumah Perawatan. ”Kau….“ gumamnya geram.

Sosok itu menoleh.

Di tengah pendar toska yang seakan membuat sosok itu bercahaya, dia tak dapat melihat apa pun selain siluet yang semakin menggelap. Bhostan-bhostan yang berada di dalam ruangan berkelip dalam usaha untuk menyala, sebelum terdengar ledakan kecil dan alat pemberi cahaya itu pecah satu persatu. Membuat ruangan itu hanya remang-remang oleh cahaya surya yang semakin menghilang.

Sosok itu mengangkat tangannya, memperlihatkan sepucuk kertas yang serupa dengan surat laknat itu.

Dia tidak dapat menahan dirinya lagi. Gelenyar panas membakar tubuhnya. Dalam genggaman tangan kirinya, seketika sebilah pedang mengada. Tanpa membuang waktu, dia menyabetkan pedang itu di udara, menghantarkan gelombang kejut magis lurus ke arah sosok itu.

Hanya dengan satu lambaian tangan, serangannya musnah. Satu lambaian lain, sebuah portal terbuka di tengah udara kosong. Dia seketika merangsek maju. Siap menusukkan pedangnya pada sosok itu. Namun, lambaian lain membuatnya terpental ke seberang ruangan.

Alaram Mabes Pertahanan meraung kencang bersamaan dengan erangannya. Darah segar terkecap olehnya. Dia mengangkat pandangannya yang buram. Mencari sosok asing itu. Sekilas, dapat dilihatnya sosok itu melemparkan secarik kertas ke lantai sebelum menghilang ke dalam portal.

Telinganya dapat mendengar seruan dari lantai-lantai bawah. Getar lantai karena langkah kaki terasa oleh telapak tangannya. Dengan tertatih, dia bangkit. Melangkah menuju surat yang tergeletak di lantai. Saat dia mencapai surat itu, matanya membaca cepat kalimat yang tertulis dengan jelas di sana. Denyut amarah seketika kembali menguasainya. “Keparat,“ makinya.

Aku tidak bisa musnah.

–Farchen Ignitie

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s