Esensi Teh

Kau kubur rasa itu dalam-dalam karena ia sudah berlari ke arah dia. Kau abaikan perih yang mendera hatimu, melepasnya tanpa sadari kemungkinan yang mungkin terjadi nanti. Kau tersenynum pilu, kuatkan hati karena semua ini demi kebaikannya. Kau tahu dan paham bahwa tak ada secuil hak dalam dirimu untuk melarangnya menolehkan pandang ke arah lain.

Sukamu yang begitu dalam, kau musnahkan dalam sekejap. Sadari kesalahanmu yang menaburkan garam di atas lukanya yang menganga, dan kembali pedih yang kau rasa. Maafmu ditampik mentah-mentah olehnya.

Gumpalan kebencian pekat tercium di udara, membuatnya nyaris meludah karena tak kuat oleh kekelaman malam. Tangismu ertahan hening, hingga kau putuskan untuk bersikap asing. Dingin kau pandang dirinya, seolah dia bukan siapa-siapamu, seakan dia tak pernah begitu berarti dalam hatimu. Sambil menyimpan luka rapat-rapat, kau lalui hidup menahan hasrat. Tertatih bagai orang pincang, tak lagi hidup namun sekedar bertahan sampai kematian datang.

Kau pikir, dia akan menghilang sehingga segalanya mudah bagimu. Tapi kepercayaan itu hancur di depan takdir. Kau lihat dia tiga hari beruturut-turut. Senyumnya begitu polos, seolah tidak terjadi apa-apa. Kau diam. Kau dingin. Kau simpan tangis. Bahkan senyum palsu pun tak sanggup kau lukis.

Kau lari dari fakta, ternggelam dalam realita yang fana. Ingin kau lupakan semua jerit nestapamu, mengurai pilu dengan racun mimpi. Kau mohon dia pergi dalam bisikan, karena ego menahanmu untuk angkat kaki dari sana. Menahan haru karena melihat sosoknya, kau jeritkan permohonan agar dia menjadi milikmu seorang.

Namun realita memanglah obat yang sangat pahit. Kau usir kenangan akan hangat tubuhnya dalam dekapanmu, hilangkan kerinduan yang selalu mendera saat ingatan masa lampau membanjiri benakmu. Kau berusaha lupakan candaan yang terlontar di antara kalian, kenangan masa silam yang tak ingin kau ulangi lagi.

Mengapa dia harus muncul di depanmu dengan senyum lebar penuh kebahagiaan saat dia telah menapaki jalan yang lain?

Bukan jalannya yang dahulu, bukan pula jalanmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s