Racun: Beauty and the Weird

Kamu merasa iri dengannya.

Dia tidak secantik dirimu, dan orang-orang selalu meyakinkanmu tentang hal itu.

Namun, kamu tetap iri padanya.

Kamu iri pada kepandaiannya berbicara. Kamu iri dengan pengetahuannya yang luas. Kamu iri dengan sikapnya yang mampu membuat teman di mana pun dia berada, tanpa kehilangan batasan yang dia miliki. Kamu iri dengannya yang tetap sanggup dihormati orang-orang tanpa membuat orang lain takut padanya.

Menilik dirimu sendiri, yang kamu dapati hanyalah bayangan keindahan pada kaca. Terkadang, kamu merasa benci dengan dirimu sendiri. Kamu benci dengan label cantik yang kamu miliki—karena hanya itu yang kamu miliki.

Maka dari itu, kamu iri dengannya.

Kamu iri dengannya yang tidak perlu sok ramah untuk mendapatkan teman. Iri dengannya yang dengan mudah tertawa di segala situasi, yang beban hidupnya tak seberat dirimu. Iri dengan hidupnya yang mudah, yang tidak pernah serumit dirimu.

Dia tentunya tidak akan pernah kelabakan dengan pikiran-pikiran bodoh, kalau iya, tentu dia takkan menjadi kekasih dari sahabatmu sendiri. Diam-diam, kamu menyimpan sakit dalam kesadaran fakta itu. Sahabatmu yang satu itu adalah tempatmu untuk bergantung, meski hanya terbatas saja.

Untungnya, sahabatmu itu masih mementingkanmu dibanding dirinya. Sahabatmu akan curhat tentangnya kepadamu, dan kelegaan pun akan membanjirimu. Tak tahu lagi apa yang harus kamu rasakan kalau sahabatmu memilih untuk menolak kehadiranmu mentah-mentah.

Kamu mendesah lalu memutuskan untuk memasang topeng wajah bertuliskan kata ‘baik-baik saja’, yang selalu kamu pakai setiap harinya. Betapa kamu iri dengannya. Dia tentu tidak akan terbebani dengan pendapat-pendapat orang, tidak sepertimu.

Tanganmu meraih kotak kosmetik dan mulai memulas wajah dengan ahli. Pensil alis. Eye-liner. Gincu pelembab bibir. Bedak. Kamu melukiskan semua itu di wajahmu, lebih karena kebiasaan dibandingkan kesadaran.

Merasa puas dengan hasilnya, kamu pun bersiap untuk pergi.

Lalu pergilah kamu, untuk bertemu dengan sahabatmu itu. Kamu berpikir lebih banyak tentang baju apa yang hendak kamu pakai hari ini. Kamu memilah di antara sekian banyak pakaian yang berada di dalam lemarimu. Mana yang sekiranya dapat menunjukkan kepolosanmu namun juga sanggup membuat setiap pandangan mampir padamu?

Ah, sudahlah. Kamu hanya akan bertemu dengan sahabatmu. Kenapa pula kamu harus memusingkan hal seperti ini. Kamu menyambar dua potong pakaian, memadukannya dengan celana jeans yang tepat, dan segera berangkat. Waktumu tinggal 15 menit.

Saat kamu datang, kamu melihat sahabatmu sedang sibuk bermain ponsel. Wajahnya ceria sekali. Kamu duduk di depan sahabatmu, mengeluarkan ponsel dan bertanya sambil lalu tentang keceriaan itu. Jawaban sahabatmu membuatmu kembali teringat rasa iri yang baru saja menggerogoti tadi pagi. Kamu memainkan rambut yang baru kamu potong dua hari silam.

Kamu pandangi sahabatmu, yang tengah merokok sembari terus mengetik pesan bagi kekasihnya. Hingga, penasaranmu tak terbendung lagi. Kamu bertanya sambil tak lupa menyelamatinya dengan candaan. Hatimu senang melihat kebahagiaan sahabatmu, walau begitu, rasa irimu makin lama makin mencengkram.

Sahabatmu tertawa dan mulai bercanda denganmu. Kamu melihat sahabatmu meletakkan ponselnya. Sejurus kemudian, kamu menyambar ponsel sahabatmu itu dengan gaya santai sambil berkata kamu ingin memainkan game di sana. Sahabatmu ganti meraih ponselmu, dan bermain dengan benda itu.

Sementara, kamu sibuk membuka galerinya. Kamu segera disambut oleh foto mereka berdua. Kamu melewati foto-foto itu dengan cepat, menghindari rasa iri yang semakin menguat. Kamu berpindah album, lalu sampai di sebuah video yang menampakkan kaki telanjang. Kamu mengerutkan kening, mengecilkan volume dan memainkan video itu. Kaki telanjang itu milik kekasih sahabatmu.

Sepasang kaki telanjang, yang terguncang akibat hentakan hebat. Hentakan yang berulang kali. Mulutu terasa begitu kering sewaktu kamu menyadari apa yang tengah kamu tonton. Jemarimu terasa kaku. Kamu ingin mematikan video celaka itu tetapi matamu tidak dapat berhenti untuk melihat. Sehingga kamu terus menontonnya. Pergumulan sahabatmu dan kekasihnya. Kegiatan mereka yang berusaha saling mendominasi.

Kamu melihat wajah sahabatmu yang sangat sumingrah di video itu. Kamu mematikannya. Menaruh ponsel sahabatmu di atas meja. Meminta ponselmu kembali dan berpamitan. Kamu memberi tahu sahabatmu bahwa kamu masih ada acara lain. Memberikan senyum kepada sahabatmu selebar mungkin.

Padahal, kenyataannya kamu langsung kembali ke kosmu. Kamu masuk ke kamar, merebahkan diri dan langsung memejamkan mata rapat-rapat. Tapi, bayangan video itu kembali kepadamu. Kamu bahkan dapat membayangkan suara mereka saat merekam video itu. Wajah bahagia sahabatmu, kembali kepadamu. Rasa iri membakarmu. Iri. Kamu iri dengan kebahagiaan yang didapat oleh kekasih sahabatmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s