Fragmen Kelima: Pembenaran

Langkah kaki saling beradu satu sama lain. Sebagian besar berhenti. Sebagian kecil melangkah dengan berhati-hati. Ada satu langkah kaki yang masih tetap berjalan dengan kecepatan tinggi. Memutari ruangan. Namun, tidak ada suara yang terdengar, kecuali rentetan kalimat bercampur makian dari suara laki-laki.

Ujung jemarinya mengetuk permukaan meja kayu dengan geram. Nyala jingga bhostan telah kembali berpendar. Menerangi ruang kerja itu dengan cahayanya yang meredup. Di luar jendela yang terbuka, pemandangan langit malam berlatar pemukiman dengan hiasan kelip bhostan terlihat jelas, sementara bulan demi bulan menggantung di langit bagaikan kuku kucing.

Perhatiannya melayang kembali kepada secarik kertas yang berada di tengah meja kerjanya. Dipandangnya tiap huruf yang tertulis dengan tinta hitam itu, memaknai tiap goresan meliuk dengan perasaan berkecamuk. Suara lelaki masih terdengar dengan jelas. Kadang bernada tinggi, kadang begitu rendah. Sampai dia tidak tahan dan menghantamkan kepalan tangannya ke permukaan meja.

Senyap seketika hadir.

“Keith,“ geramnya rendah, “Diam.“

Lelaki tangan kanannya itu seketika membeku di tempat. Perhatiannya kembali tersita oleh surat yang kini bergemeresik terkena angin malam. Sejurus, dia terdiam, sebelum mengangkat pandangannnya kepada sepuluh kepala prajurit yang berdiri di dalam ruangannya. “Tingkatkan keamanan di seluruh Mabes Pertahanan. Kalian boleh pergi.“

Kata-katanya serta-merta mengusir kesepuluh kepala prajurit itu. Satu per satu, mereka meninggalkan ruangan setelah memberikan salam hormat kepadanya. Dia hanya diam, menyandarkan punggung pada sandaran kursi tanpa melepaskan pandangan dari kertas itu. Secarik surat laknat yang telah kembali memberikan luka pada kesadarannya.

Lelaki tangan kanannya itu, Keith—menyeberangi ruangan dan duduk di hadapannya. Tubuh lelaki itu condong hingga melebihi separuh meja. Tatapan prihatin sekaligus serius dihadiahkan kepadanya. “Aku khawatir,“ ungkap Keith dengan terus terang. “Belum pernah ada kasus seseorang menembus pertahanan Mabes, apalagi sampai ke kantor Ie Oufth seperti ini. Dan kita tidak tahu siapa orang itu, yang kita tahu, dia hanya memberikan surat ancaman. Apa isinya?“

Dia menarik surat celaka itu, melipatnya, dan memasukkan selembar kertas itu ke dalam kantong celana, “Ancaman,“ balasnya. Singkat, mengakhiri pembicaraan. Dibiarkannya Keith memandangnya dengan curiga, tidak peduli lagi apa yang akan dia dapatkan. Sudah cukup harga dirinya terinjak dengan kegagalan kali ini. Jangan tambahi sakit itu dengan membiarkan orang lain tahu bahwa masalah ini sesungguhnya masalah pribadi belaka.

Keith nampak membuka mulut untuk menyanggahnya, namun dia menggelengkan kepala. Menghentikan lelaki itu sebelum pertanyaan terucap. Didengarnya lelaki muda itu mengembuskan napas frustrasi. Mengiringi suara ketukan jemarinya di atas meja. Senyap yang hadir itu terasa begitu lama, hingga dia memutuskan untuk angkat suara, “Ada yang ingin kau tanyakan?“

Pelan, lelaki di hadapannya mendesah. Diperhatikannya Keith melepas kacamata bergagang persegi dengan begitu hati-hati sebelum memijit pangkal hidung sembari menyunggingkan senyum tipis. “Banyak yang ingin kutanyakan, tapi kurasa percuma,“ sahut Keith dengan suara lelah kepadanya. “Jujur, aku ingin menghormati hakmu dengan tidak menanyakan hal ini, tapi kamu sudah kelewatan batas, Ravine.“

Dia mempertemukan pandangan mereka. Menunggu.

“Bekerja denganmu selama dua ratus tahun sudah membuatku dapat melihat polamu. Dan aku bisa mengatakan dengan yakin, bahwa sesungguhnya serangan ini ditujukan kepadamu secara pribadi—dan itu tidak masalah,“ Keith buru-buru menambahkan sebelum dia sempat memprotes. “Ya, aku ingin melindungimu—sebagai lelaki, bukan tangan kananmu. Tapi aku menghormati batasanmu. Sayangnya, ini sudah kelewatan batas.“

Kini, giliran dia yang mendesah, “Aku tahu,“ gumamnya, cukup jelas untuk didengar oleh Keith.

“Baguslah,“ ujar Keith lega. Lelaki muda itu menelengkan kepala, nampak jelas tengah berpikir, “Sebagai sesama pilar dari Mabes Pertahanan, aku berhak tahu isi suratnya. Kamu cukup menceritakan garis besarnya saja, tidak perlu detail, Ravine. Aku sudah mengatakannya, kan, dulu? Aku akan membantumu.”

“Aku tahu,” ulangnya lagi, kali ini mengabaikan lelah yang mengintip dalam suaranya. Dibiarkannya lelaki muda itu kembali memandang dengan prihatin, memilih untuk membakar gulungan tembakau sebagai bentuk pelarian. Asap sarat nikotin seketika menjajahi udara. Dia memandang gulungan asap yang membentuk pola unik, berpikir keras apa yang harus dia katakana tanpa membiarkan Keith mengetahui terlalu banyak. “…Kau tahu adikku diserang beberapa malam lalu.” Lelaki muda itu memberinya anggukan menyetujui, membuatnya yakin dengan ucapan yang hendak dia lontarkan. “Ini tentang hal itu. Ada yang mendendam kepada keluarga kami.”

Dusta.

“Itu… cukup mudah untuk dipahami,” sahut Keith dengan nada meminta maaf kepadanya. Dia mengangguk, mempersilakan lelaki itu untuk meneruskan. “Walau memang garis keluargamu berujung di salah satu Petinggi tertua kerajaan, banyak dari mereka yang….”

“Busuk, maksudmu?” tambahnya saat Keith terlihat segan. Lelaki itu memberinya senyum bersalah, yang tak dia indahkan dengan melambaikan tangan secara asal di udara. “Aku tahu kalau nama Eire bukanlah marga yang bisa dibanggakan. Pendahulu kami kebanyakan penipu, penjarah, pembunuh. Paling mulia pun, koruptor kecil-kecilan. Walau aku sempat dibuang, aku sudah paham bahwa mereka pantas menerima hukuman mati.“

Dusta.

“Tapi tidak dengan ayahmu,“ Keith menyanggahnya dengan cepat. “Ayahmu salah satu Perdana Mentri terhebat pada jamannya. Dia berhasil melindungi semesta dan membantu sang Penguasa untuk mengambil beberapa keputusan penting. Kalau ayahmu tidak ada, mungkin ras Ovwerin sudah dibantai sampai habis.“

“Mungkin,“ setujunya setengah hati. “Tapi, dia ayah yang buruk.“

Dusta.

Keith serta-merta menyandarkan punggung pada sandaran kursi dan mengangkat tangan. Dia menatap puntung rokoknya hambar, menyesap dengan gemetar sementara suara dalam dirinya tengah membisikkan kejujuran. “Aku tidak pernah menyukai keluargaku,“ dia berujar datar sembari berdiri dari kursinya. Dihancurkannya puntung rokok itu ke dalam asbak dengan pahit. Dia sudah berdusta. “Kau tidak ingin pulang?“

Keith mengikutinya keluar dari ruangan. Lorong lantai delapan telah sepi dan kehilangan separuh sumber cahayanya. Menciptakan bayangan remang-remang yang menenangkan. Dia masih terus menyesap tembakau sembari menuruni tangga sewaktu Keith menyenggol pundaknya. Dibalasnya tatapan lelaki berkacamata itu dengan penuh tanya. Lelaki di sampingnya nampak begitu muram, sampai dia bertanya-tanya apa kiranya yang membuat suasana hati lelaki itu menjadi amat kelam. “Kamu juga tidak menyukai Achten?“

Dia berhenti di anak tangga terakhir, mendongak untuk menatap lelaki itu dengan serius, “Kenapa memangnya?“

Cengkraman lelaki itu pada pundaknya terasa cukup menekan. “Aku sahabat adikmu,“ tutur Keith dengan nada sebenar-benarnya. “Dan sebagai sahabat adikmu, aku bisa bilang kalau kamu kakak yang buruk. Bukan cuma kamu yang menderita karena margamu, Ravine.“

Pandangannya mengikuti punggung lelaki itu, yang berjalan melewatinya tanpa mengucapkan hal lain. Sangat tidak memenuhi gambaran Keith Honovad di pikirannya. Memberitahunya keseriusan lelaki itu. Dia menyesap tembakau, memasukkan sebelah tangan ke dalam satu dan berjalan keluar dari gedung Mabes Pertahanan. Di langit, dua buah bulan bersinar terang dengan pendar nila serta perak, menyerupai dua mata yang tengah tersenyum.

Mengabaikan itu, dia mendatangi kereta coppresia yang sudah menunggunya sembari mengulang kata-kata Keith. Dia paham jika Achten, sebagai garis terakhir keluarga Eire murni, juga menderita karena marga mereka. Sejarah keluarga Eire yang muram memang tidak memberikan dampak positif bagi mereka berdua, terlebih semenjak keberhasilan ayah mereka dalam memperbaiki sistem pemerintahan. Tekanan sosial telah terlebih dahulu meruntuhkan Achten, yang kemudian memilih untuk menjadi kimiawan. Sementara, kinerjanya selalu dibandingkan dengan sang ayah, yang nampaknya adalah standar baru kesuksesan keluarga lama di seantero semesta.

Apa pedulinya? Utang nyawa harus dibayar dengan nyawa.

Dalam perjalanannya, dia merenung. Apa yang akan dia lakukan jelas-jelas adalah pengkhianatan kepada ayahnya. Tetapi, sejak awal dia memang bukan anak kesayangan dari garis terakhir marga Eire. Pengembaraannya, yang dinamai pembuangan oleh sang ayah, merupakan bentuk pencorengan nama keluarga terburuk—walau dia tidak mengerti di mana garis batasnya.

Saat itu, yang terlintas dalam pikirannya adalah rasa muak. Ayahnya menganggap dia sebagai gangguan semata karena dia perempuan. Muak dianggap sebagai anomaly, dia pun melarikan diri. Bergabung dengan rombongan penjelajah amatir ke semesta lain. Lima ratus tahun dia mengembara tak tentu arah, sampai akhirnya anak salah satu keluarga lama lainnya meminta dia untuk pulang.

Walau tahu bahwa dia akan dimanfaatkan, perempuan itu bersyukur dia memilih untuk pulang. Kalau dia tidak pulang, Achten mungkin tidak akan selamat. Adiknya selalu menjadi yang paling sensitif di antara mereka berdua.

Dan rupanya hal itu tidak disukai oleh ayahnya. Achten telah menderita karena cukup banyak latihan yang dibebankan kepadanya. Doktrin demi doktrin disuntikkan ke dalam kepala lelaki itu. Membuat adiknya kebingungan sampai nyaris bunuh diri. Dia pulang di saat yang tepat. Mungkin karena itu, lah, Achten menumbuhkan rasa cinta yang teramat sangat atas dirinya.

Dia mengembuskan napas panjang.

Jika seseorang mengetahui apa yang ada dalam pikirannya, dia mungkin akan ditertawai habis-habisan. Kekonyolan apa yang tengah terjadi sehingga makhluk ciptaan berpikir ingin membunuh penciptanya? Dia menyadari hal itu. Bekerja sebagai sang Penjaga Semesta telah cukup untuk membuktikan kuasa dewa atas hidupnya. Membuatnya tak lebih dari orang gila jika mengutarakan ide itu kepada siapa pun.

Namun, dia tak dapat mengenyahkan dendam kesumat yang sudah mengakar jauh di dalam lubuk hati hingga meluluhlantakkan seluruh logikanya. Dia tidak mungkin membiarkan kekasihnya menderita sendirian. Bekas luka di punggungnya berdenyut menuntut pembalasan dendam, atas kutukan yang telah dilimpahkan dengan sedemekian rupa. Maka dari itu, dia tetap akan melakukannya.

Meski dia harus menyakiti satu-satunya lelaki yang sedarah dengannya.

Seolah mendukungnya, dua bulan terbit dari cakrawala, satu jingga kehijauan, satu nila terang. Bagai mata yang memandangnya dengan kerlingan lembut serta persetujuan. Dipandangnya keindahan alam itu dari balik jendela kereta, di antara kelebat pepohonan yang semakin menjarang. Melatari kabin miliknya yang nampak begitu terasing.

Dan kedua bulan itu menemaninya. Bersinar terang di langit malam sementara dia mengobrak-abrik lemari buku di dalam ruang baca. Mencari sebuah catatan yang, dalam ingatannya, merupakan kunci bagi tujuannya itu. Entah sudah berapa batang gulungan tembakau mengecup bibirnya. Pekat nikotin menggantung berat di udara. Menekan konsentrasinya.

Tangannya meraih bhostan yang dia taruh di samping badan, membawa sumber cahaya jingga itu mendekat hingga dia dapat melihat dengan lebih jelas. Di hadapannya tergeletak sebuah buku dengan sampul biru tua kusam yang mulai mengelupas. Tinta kuning yang menorehkan judul pun sudah mulai pudar.

Dia bangkit dari posisi bersilanya. Mengangkat buku tebal itu dan bhostan dengan satu tangan. Keretak kayu terdengar sewaktu dia berpindah menuju meja kerja agar dapat membaca dengan lebih jelas. Sesaat, dia meraih jam pasir di atas meja dan membalikkannya. Dia mulai membaca, berteman gemersik kayu serta debur ombak sebagai pengusir senyap.

Saat telah selesai membaca, dia menyandarkan punggung ke sandaran kursi dengan raut wajah kelam. Tak terasa, jam pasir penanda waktunya telah nyaris habis. Sesaat, dipandangnya aliran bulir pasir di dalam kaca yang memantulkan pendar jingga sumber cahaya. Tanpa menoleh, dia tahu bahwa bulan telah kembali berganti. Terang berkas cahaya kebiruan yang menerobos melalui kerai memberitahunya.

Kembali dia membaca beberapa kalimat yang tertoreh dalam tinta hitam di atas lembaran menguning tersebut, menanamkan isi sejarah Astrola sebelum Perang Kegelapan I ke dalam pikirannya. Dengan tenang, dia meraih laci meja. Derit kayu terdengar sementara dia mulai merogoh-rogoh secara perlahan, hingga ujung jemarinya menyentuh permukaan benda pipih yang terasa dingin.

Dia keluarkan benda itu, menutup laci tanpa melepaskan perhatian dari bulatan kaca kecil yang berada tepat di tengah apa yang nampak menyerupai sebatang besi kecil. Sebuah inovasi dari ilmuan Raitos lainnya, selain bhostan, yang membantu para penduduk selain exchiorthis layaknya dia.

Dia dapat merasakan kontraknya memanas. Selaput keemasan tipis menguar dari seluruh pori-pori tubuhnya. Menghangatkan indera perabanya. Dibiarkannya kehangatan itu mengalir ke ujung-ujung jemari, mengisi alat komunikasi bertahtakan bola kaca dengan serabut emas. Pendar cahayanya meredupkan berkas jingga dari bhostan. Memantul di kedua manik biru safir yang dingin itu. Perlahan, dia memejamkan mata.

Dunia penuh benang menyambutnya. Membentang ke segala arah dan berpusat pada alat di dalam genggamannya. Tiap benang berpendar silih-berganti, seakan meminta untuk dipilih. Dia mengamati dengan indera terdalamnya sebagai exchiorthis. Benang-benang itu menyajikan bisik-bisik samar yang tak dapat tertangkap oleh matanya. Lyvia Mercier, dia membatin.

Seluruh pendar dari benang-benang itu padam bersamaan. Menyisakan seutas  benang dengan cahaya keemasan temaram yang membentang begitu jauh hingga tak terlihat ujungnya. Dia mengangkat tangan lainnya yang bebas, menyentuhkan ujung telunjuk ke seutas benang itu; membuat nyala emas semakin terang.

Dia menyandarkan punggunng dan membuka mata. Pendengarannya disapa oleh gemeresak sambungan komunikasi yang samar-nyaring seiring embusan angin. Tak perlu menunggu lama hingga jalur komunikasi tersambung dan suara lelaki paruh baya yang parau menyambutnya. “…Oufth? Ada apa?“ sang Sejarahwan berucap dengan terbata-bata.

“Anda sudah menemukan pengirim suratnya?“

Hanya gemeresak samar yang terdengar untuk beberapa saat. Ketika pria paruh baya itu kembali bersuara, keparauan dalam suaranya jelas terdengar. “Demi dewa, Oufth. Kau menghubungiku di pagi buta seperti ini hanya untuk menanyakan hal itu? Kan sudah kukatakan, aku yang akan menghubungimu.“

Ditatapnya langit-langit ruangan yang sewarna pualam dengan tenang, “Pengirim misterius itu mendatangi kantorku sore ini, Mercier-ryv.“

Terdengar debam yang cukup kencang, disusul dengan pekikan teredam dan gemerisik kain. Dia menarikkan sebelah alisnya kemudian mendengus datar, “Anda tidak terguling dari dipan, bukan?“ Kuak protes sang Sejarahwan membuatnya mengerjapkan mata. “Lupakan soal pengirim itu, Mercier-ryv. Saya menghubungi Anda karena saya membutuhkan bantuan Anda. Saya ingin mencuri pusaka semesta.“

Senyap yang hadir membuatnya memiliki waktu untuk melirik ke luar jendela, pada pemandangan langit malam di atas cakrawala yang menampakkan dua bulan bagaikan bilah sabit, serta sebuah bulan purnama putih terang. Debur ombak sayup-sayup terdengar olehnya kini bukan lagi dalam lantunan elegi melainkan mars kemenangan.

“Apa yang akan kau lakukan, Oufth….“ suara sang Sejarahwan terdengar serius. Membuatnya mengembalikan pandangan kepada alat komunikasi tersebut. “Kau bisa dituntut jadi pengkhianat, diburu oleh segenap kekuatan semesta, termasuk oleh anak-anak buahmu sendiri. Kau gila?“

“Utang nyawa dibayar dengan nyawa, Mercier-ryv,“ sahutnya dingin. “Pedang itu dapat membunuh dewa.“

“Tapi, Iganthias sangat selektif,“ imbuh sang Sejarahwan dengan nada keras, “Belum lagi mengingat penjagaan di Istana Kerajaan yang… Yah, kau yang paling tahu, Xsaverst Chevalien.“

Sudut bibirnya berkedut muram mendengar cara pria paruh baya itu memanggilnya. Sebutan Ksatria Pertama Terdahulu membuatnya kembali teringat dengan insiden itu. “Anda bersedia membantu saya atau tidak?” tanyanya lagi, “Saya tahu Anda ingin membunuh dewa sialan itu. Setidaknya untuk anak kecintaan Anda.”

Ketegangan Lyvia Mercier dapat dia rasakan dengan jelas. Kegelapan seakan menutupi inderanya satu per satu. Membungkus sekujur tubuhnya dengan suatu dorongan yang membuat darahnya mendidih. “…Saya yakin, ratu semesta tidak sungguh-sungguh bahagia di takhtanya.“

“…Kau tahu terlalu banyak, Oufth,“ sahut sang Sejarahwan dengan gusar setelah beberapa saat. “Sebelum aku menyetujuinya, aku harus mengerti bagaimana kau bisa mengetahui hal itu. Datanglah ke rumahku petang ini.“

“Sampai jumpa petang ini, Mercier-ryv,“ dia menarik energinya dari alat komunikasi itu. Pendar emas yang bersinar terang dari balik bola kaca lenyap tanpa bekas, meninggalkannya bermandikan cahaya jingga temaram dari bhostan. Sesaat, dia mengembuskan napas panjang secara perlahan-lahan.

Dia menyandarkan punggung dan menautkan kesepuluh jemari. Sejak kapan dia jadi seperti ini? Memanfaatkan kelemahan orang lain. Membuka luka lama, semata demi kepentingannya saja. Tanpa sadar, dia telah berubah menjadi pendahulunya; penipu ulung yang busuk. Bergerak demi keuntungan pribadi. Dan itu membuatnya jijik dengan dirinya sendiri.

Helaan napasnya begitu berat bagi jiwa. Diraihnya buku sejarah tebal itu dan kembali membaca. Mengusir rasa hina dalam dirinya. Kedua manik sebiru safir itu menelusuri sebuah paragraf yang berisi penggambaran pusaka semesta. Pedang besar berselimut api hitam. Gagangnya yang terlapisi material murni, yang hanya dapat ditemukan di beberapa titik pada provinsi Orderium kuno. Kedua sisi bilah pedangnya dipenuhi dengan aksara kuno Astrolea, mantra dari Permata Kehidupan untuk meredam kekuatan luar biasa pusaka itu.

Dia menghidupkan selinting tembakau, meraih setumpuk kertas kosong dan pena lalu mulai menulis. Suara napasnya kini berteman gesekan pena di permukaan kertas. Kadang tajam. Kadang lembut. Kadang, keretak kertas yang terbakar api serta tarikan napas panjang menjadi variasi.

Dia menulis dan menulis. Begitu larut dalam bacaan dan rencana-rencananya, hingga tak menyadari jika surya telah mereka di cakrawala. Sinar perak yang memantul pada jam pasir lah, yang akhirnya membuat dia mengangkat kepala. Bangkit dari kursinya, dia mengembalikan buku tebal itu ke rak buku yang masih berantakan dan menyusuri seluruh ruangan di dalam kabin untuk menyibakkan tirai dan mematikan bhostan sampai dia teringat sesuatu. Achten seharusnya sudah dapat pulang.

Ravine segera bersiap. Dia akan menjemput adiknya dari Rumah Perawatan sebelum menuju kantor. Sesaat, perempuan itu berdiri di antara keputusan untuk memberi tahu adiknya atau tidak—rencana pencuriannya. Namun, memandang langit kelabu yang begitu cerah hari ini, dia memutuskan untuk berkata jujur. Masih terkecap olehnya, pahit kebohongan yang kemarin malam dia ucapkan. Dia tidak ingin merasakan hal itu lagi.

Dalam perjalanannya menuju Rumah Perawatan, perempuan itu merenung. Memberi tahu adiknya tentang rencananya yang gila ini akan menjadi perdebatan yang sangat alot. Bukan hanya karena dia akan menarik adiknya secara paksa dari lingkungan kerja yang dia sukai—Raitos memang tempat yang cocok untuk exchiorthis kimiawan seperti Achten; dia juga akan membuat lelaki itu bersedih dengan keputusannya untuk bunuh diri. Lagi.

Bukan hanya itu. Tindakannya yang melawan dewa adalah noda bagi sejarah keluarga Eire.

Meski merupakan keluarga petinggi lama dengan sejarah terburuk, namun marga Eire tetap diagung-agungkan di seantero semesta. Semua itu karena ayah mereka, yang merupakan Perdana Menteri pada masa pemerintahan Ratu Keenam. Elver Eire adalah Perdana Menteri yang berhasil mengangkat taraf kehidupan semesta setelah Perang Kegelapan I. Tidak berhenti di sana, Elver Eire juga berhasil menjaga kedamaian semesta dengan menghentikan usaha pembantaian beberapa ras, termasuk ras Ovwerin yang saat itu menjadi tonggak keputusan sang Penguasa.

Menurut Ravine, ayahnya tak lebih dari seorang ambisius gila kekuasaan. Dalam sudut pandang ayahnya, semua orang haruslah memiliki nilai yang dapat menaikkan nama keluarga mereka.

Kata-kata Keith kembali bergema dalam kepalanya. Bukan hanya dia yang tersiksa dengan marga Eire. Achten, lelaki muda sekaligus anak kesayangan orang tua mereka, mendapat tekanan lebih berat dibanding dia. Ravine tidak merasakan hal itu karena orang tua mereka sudah menghilangkannya dari daftar pewaris sah Eire semenjak dia melarikan diri dari rumah.

Bagi kedua orang tua mereka, Ravine adalah produk gagal—exchiorthis yang tidak memiliki masa depan menjanjikan. Ditambah lagi, dia adalah perempuan yang tidak mengikuti standar etika masyarakat semesta. Sedangkan, adiknya adalah calon boneka yang sempurna bagi mereka. Sensitif, berusaha selalu menengahi dengan menyenangkan semua orang, juga menunjukkan potensi kekuatan yang luar biasa.

Singkat kata, dia muak dengan itu. Pada akhirnya, dia bergabung dengan sekelompok penjelajah semesta amatir. Meninggalkan rumah lima ratus tahun lamanya, sampai seorang pengawas yang dia bayar memintanya untuk pulang. Dan dia berterima kasih dengan pengawas itu. Saat dia menginjakkan kaki di rumah megah itu, kondisi adiknya amat menyedihkan.

Terdoktrin dengan nilai-nilai moral salah kaprah, terbelenggu dengan rantai kewajiban. Achten Eire yang dilihatnya petang itu tidak lagi seperti adiknya. Dia segera menghambur ke depan adiknya, menghentikan ayahnya yang tengah memberi pelajaran perang secara paksa. Sosok adiknya sudah terbalur luka di sekujur tubuh, namun ayahnya tidak peduli. Terus seperti itu, hingga dia mengayunkan belati yang dia bawa ke mana pun. Menghunuskan benda tajam itu ke kerongkongan ayahnya.

Semenjak itu, dia membawa adiknya keluar dari rumah. Hidup berdua di sebuah kabin pada pinggir pantai. Dia masih dapat mengingat malam-malam di mana Achten menjerit dan meraung dalam tidurnya. Saat-saat dia berlari ke kamar lelaki itu untuk merengkuh adiknya, berusaha menyadarkan Achten dari alam mimpi.

Dia mengembuskan napas panjang. Rumah Perawatan mulai nampak dari balik jendelanya. Begitu dalam dia memikirkan adiknya, hingga dia melewatkan perayaan ulang tahun Ratu yang amat semarak. Baru disadarinya suara terompet yang samar-samar membelah udara. Keceriaan serta sorak-sorai penduduk Ruthesworth menghantamnya. Menggelengkan kepala, dia menyilangkan tangan di depan dada dan duduk tenang.

Meski begitu, dia merasa amat gamang. Dia tidak pernah tahu bagaimana harus menghadapi adiknya. Rasa bersalah karena telah meninggalkan adiknya menderita sendirian membuat perempuan itu tidak mempercayai dirinya sendiri. Jika dia menerima gestur hangat itu, dia akan merasa diampuni.

Dia tidak pantas mendapatkan hal itu.

Kereta yang dia naiki memasuki pelataran Rumah Perawatan. Sentuhan keceriaan perayaan mulai tertangkap kesadarannya. Dia tidak pernah menyukai perayaan, dan festival ini adalah bentuk perayaan terburuk. Perempuan itu turun dari kereta dan berjalan melewati gagahnya bendera semesta yang berkibar. Suasana hatinya seketika memburuk. Dia hanya dapat membalas salam-salam kepadanya dengan sebuah anggukan kaku.

Hiasan-hiasan perayaan itu tidak membantu sama sekali. Lambang serigala yang terpampang membuatnya ingin menjulurkan tangan dan mencabik-cabik kain sewarna dedaunan itu. Namun, akal dan logikanya sanggup menghentikan perempuan itu. Maka dia terus berjalan, melewati pintu-pintu bangsal bertikap ganda hingga mencapai bangsal terakhir tempat adiknya dirawat.

Saat mencapai ambang pintu, dia mendapati Achten tengah tercenung di dipan sembari menatap ke luar jendela. Sosok lelaki muda itu bermandikan perak surya, membuatnya merasa telah melewati garis yang tak boleh dia langgar. Dia berhenti di ambang pintu, menyandarkan bahunya ke kusen dingin itu dan memanggil Achten cukup kencang. “Kenapa kau sendirian?” tanyanya sewaktu lelaki itu menoleh dengan raut muka sumingrah.

“Kuusir,“ balasan Achten yang begitu ceria membuatnya menghela napas. Dia mendekati dipan adiknya, menunduk agar bisa menatap lurus ke dalam kedua manik sebiru langit yang penuh antusiasme itu. Suara Achten kembali mencapai pendengarannya, “Kubilang, salam mereka akan kusampaikan ke kakak kalau mereka mau angkat kaki dari hadapanku. Untungnya, mereka tidak lantas memaksaku minum racun.”

Dia mendengus geli, “Jangan macam-macam, kau baru sembuh,” komentarnya sedatar yang dia bisa saat dihadapkan dengan keceriaan Achten yang tidak dapat dihentikan. Perempuan itu duduk di pinggir dipan. Diam menyesapi nuansa pagi yang jauh dari keramaian. Bising perayaan yang menemani perjalanannya membuat dia, entah bagaimana, menikmati hening ini.

Achten tiba-tiba duduk di sampingnya. Membuatnya menoleh ke arah lelaki itu dengan sebuah senggolan kecil. Saat dia memandang ke dalam kedua manik mata sebiru bulan itu, hangat senyum Achten mengajaknya untuk ikut tersenyum. “Apa,” ucapnya di antara senyum yang tertahan.

“Cuma senang saja,” sahut Achten kepadanya sembari menelengkan kepala. “Jarang aku duduk di samping kakak seperti ini, lebih-lebih melihat kakak tersenyum.” Kalimat lelaki muda itu membuatnya tercenung sesaat. Dilihatnya Achten menaikkan alis dengan gayanya yang khas, “Kak, aku mau berterima kasih.”

Dia melempar pandangan bertanya kepada lelaki itu. Achten mendengus atas reaksinya, membuatnya mengerutkan kening tetapi tidak bisa menahan tawa pelan. “Aku bersyukur dulu kakak pulang, tahu? Tinggal di rumah yang tidak kusuka, sendirian. Aku kira kakak tidak akan kembali untuk selamanya. Tapi, kakak datang dan menolongku. Membebaskan aku.”

Achten menoleh ke arahnya. Menatapnya lekat dengan hangat yang membuat buku kuduknya meremang. Membakar darahnya. Membuatnya merasakan panas yang sama sekali lain dari yang pernah dia rasakan. Begitu kuat, begitu tepat sasaran. Hingga dia tidak bisa menghindari hal itu.

Dilihatnya senyum merekah di wajah tirus itu. Achten mendekatkan bibir kepadanya, berbisik di telinganya. Sepatah kalimat, yang dia tahu akan dia ingat seumur dia hidup. “Terima kasih.”

Lama hening mengada sebelum dia berdeham pelan. “Ayo,” dia beranjak dari dipan. Berjalan mendahului adiknya keluar dari bangsal. Sekujur tubuhnya seakan terbangun dari mimpi yang amat panjang. Membuatnya amat sadar dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Dia bahkan dapat merasakan desau angin yang seharusnya tidak terasa. Mendengar kelepak bendera jauh di atas kepalanya. Merasakan betapa adiknya diam sesaat, sebelum menyusulnya.

Surya perak kini tak lagi menyakiti matanya. Dia berjalan sejajar dengan adiknya. Menuruni anak-anak tangga depan Rumah Perawatan. Menuju kereta yang menunggu mereka berdua. Semarak perayaan kini bagai lantunan indah di telinganya.

Di dalam kereta yang kembali bergerak, dia menangkupkan tangan ke wajahnya. Mengapa dia merasa seperti ini? Sesaat, dia lupa dengan tujuannya sendiri. Tekad yang sudah dia bulatkan, sirna di hadapan adiknya sendiri. Nestapa itu kini remuk redam berhadapan dengan perasaan lain yang mengharu-birukan hatinya.

Di luar, hiruk-pikuk penduduk Ruthesworth kembali terlihat. Suasana perayaan yang tengah berlangsung kini nampak mulai memanas. Bahkan, pedagang-pedagang pun meninggalkan lapak dagang mereka; menonton pertunjukan yang tengah diadakan di dekat air mancur raksasa. Langit kelabu mulai dihiasi golvathif—kunang-kunang berpendar jingga kemerahan, yang umum ditemukan di musim ini.

Pemandangan yang, seringnya, membuatnya tersenyum sinis. Namun, kali ini perempuan itu sibuk memperhatikan adiknya. Bersandar lebih jauh ke kursinya, dia mengawasi Achten yang tengah memandang ke luar jendela dengan senyum samar. “Tampaknya kau sedang senang,” komentarnya. Achten memberikan tawa sebagai tanggapan. “Apa yang membuatmu senang?”

“Banyak hal,” adiknya menyahut dengan riang gembira. Pandangan mereka bersirobok dalam keceriaan yang muncul ragu-ragu di balik hening. “Salah satunya, melihat kekalutan kakak sekarang.”

Ravine mendengus pelan, “Sejak kapan adikku senang melihatku kalut?”

Achten menertawainya dengan heboh. “Sejak dulu,” ucap lelaki muda itu di sela tawa. “Kakak saja yang terlalu sibuk sampai tidak sadar.” Dia memberikan adiknya pandangan dongkol, yang malah semakin memicu tawa Achten. “Kakak kira, kenapa aku diam saja saat kakak bersedih? Tenang, kak, aku juga turut berduka, kok.”

Cengiran Achten menyadarkan akan ejekan lelaki itu. Dia menyilangkan kedua tangan di depan dada dan terbahak. “Sialan kau,” sambarnya geli. Gelak tawa mereka memenuhi kereta. Seirama guncangan roda yang mulai memasuki jalanan Mabes Pertahanan. Perempuan itu memandang adiknya, yang tersenyum miring sembari menelengkan kepala. “…Aku harus membicarakan sesuatu,” ujarnya, setelah terdiam cukup lama.

Dilihatnya pandangan bertanya Achten yang membuatnya kembali merasakan gamang itu. Laju kereta berhenti sesaat di depan gerbang besar Mabes Pertahanan. Dia memperbaiki posisi duduknya, menyiapkan diri akan penolakan yang pasti hadir dari adiknya. Ditatapnya lelaki muda itu lekat, “Maaf, Achten, tapi aku ingin membalaskan kematian Farchen dan itu akan berimbas kepadamu. Jadi—“

“Aku tahu. Kakak mau membunuh Penjaga Takdir kita, kan?”

Ravine hanya bisa menatap adiknya. Kedua mata sebiru daun itu berkilat dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s