Fragmen Keenam: Pergumulan

“Dari mana—“

Dia tidak bisa berkata-kata. Otaknya macet seperti jalur suplai pangan dari ibu kota ke daerah-daerah terpencil. Suara-suara yang ada lewat begitu saja olehnya. Pun, jika bernapas bukanlah sebuah kebiasaan, dia tak yakin paru-parunya akan terus menerima asupan oksigen. Karena yang sanggup dia lakukan hanyalah memandang adiknya nanar.

Adiknya, yang menatap balik sembari mengumbar senyum.

Kedua bola mata itu terang oleh perasaan yang tidak pernah dia tahu. Dalam hati, dia mundur perlahan-lahan. Apa yang dilihatnya kini bukanlah sosok seorang adik, melainkan seorang pria, matang karena pengalaman-pengalaman pedih; tumbuh besar dengan kekangan dan terpaksa mereguk pahit yang hadir akibat perlawanan dengan diri sendiri.

Achten Eire yang ada di hadapannya bukan lagi seorang adik yang lemah sekaligus naif, melainkan seorang pria yang siap bertaruh nyawa meski risiko itu menyakiti orang lain.

Seperti apa yang akan dia tempuh.

Ia tercenung. Adiknya nampak amat yakin. Saat Achten berbicara, suara lelaki itu penuh dengan kekokohan. “Aku akan membantu kakak. Apa pun yang terjadi, kalau pun aku harus mati.”

Dapat dirasakannya panas yang merambati diri. Mulai dari ujung kaki dan naik begitu cepat ke ubun-ubun. Mendidihkan jiwanya. Membuatnya terharu sekaligus malu. “Kau—apa, kau bisa diburu seluruh exchiorthis,” sanggahnya terbata-bata.

Kereta yang kembali melaju menciptakan guncangan kecil, memecahkan konsentrasinya. Dia menatap kebingungan pada interior dalam kereta. Seakan baru saja terseret ombak yang luar biasa hebat. Hanya butuh sepersekian menit sampai kereta itu berhenti di pelataran depan Mabes Pertahanan. Hening pun kembali mencekiknya.

Achten tidak menjawab, hanya mempertahankan senyum dan mengulurkan tangan untuk membuka pintu kereta. Satu gestur halus, lelaki itu—tidak, pria yang sedarah dengannya itu memberinya kesempatan untuk turun.

Dia masih terpaku di tempatnya duduk.

“Kakak,” suara Achten lembut menyapa indra pendengarannya. Dia tak bisa bergerak. Tak ingin bergerak. Bahkan menyambut dengan suka cita sewaktu jemari panjang itu menyentuh permukaan wajahnya. Padangannya tak dapat lepas dari wajah yang begitu mirip dengan dirinya itu. Wajah yang kini memberikan rasa aman melebihi siapa pun. “Aku hidup, benar-benar hidup, karena kakak. Kalau kakak mati, aku tidak punya lagi tujuan hidup. Karena itu….”

Jemari itu menjauh. Nyaris saja dia mengerang, memprotes kealpaan rasa hangat yang begitu nyaman. Adiknya turun dari kereta, menatapnya dari ambang pintu sebelum mengulurkan tangan.

Dan menunggu.

Tak yakin apa yang harus dia lakukan, perempuan itu menyambut uluran tangan Achten. Hangat yang tersebar kali ini lebih hebat. Bagaikan setruman listrik. Atau ledakan bunga api. Menuangkan bahan bakar bagi bara apinya. Tanpa sadar, dia menggenggam lebih erat. Memberikan kepercayaan penuh kepada pria itu. Adiknya.

Turun dari kereta, mereka berdiri berhadap-hadapan. Tak sama tinggi, namun pandangan mereka sejajar. Achten memandang ke dalam matanya. Lekat. Seakan ingin menyampaikan sesatu tanpa kata-kata. Begitu dalam, sampai-sampai wajahnya seakan terbakar. “Kapan dan bagaimana,” pria itu berbisik, “Katakan saja padaku.”

Dia tak lagi sanggup melakukan apa-apa. Hanya terpaku di tempat sembari memandang adiknya, yang kembali ke dalam kereta dengan sebuah langkah cepat. Dari dalam kereta, Achten memberinya kedipan mata. Gestur hangat sebelum pintu tertutup dan kereta melaju pergi; bertolak dari Mabes Pertahanan.

Perempuan itu memandangi kereta coppresia yang semakin menghilang dari pandangan. Butuh waktu lama baginya sampai kesadarannya benar-benar kembali secara penuh. Saat hal itu terjadi, dia menangkupkan kedua tangan pada wajah. Meredam teriakan yang nyaris meluncur dari bibirnya.

Dia mengambil napas panjang berkali-kali sembari diserang logika bertubi-tubi. Jelas dia tengah menjadi tontonan—bagaimana tidak? Dia, Penjaga Semesta, jendral perang tertinggi di semesta Astrola, dibuat bungkam bagai orang tolol oleh segelintir gestur dari adiknya sendiri. Adik kandungnya. Pria yang membagi darah yang sama dengan dirinya.

Makian pun tak dapat lagi diredam. Dia mengutuk tertahan. Melepaskan kedua tangan dari wajahnya yang terasa begitu panas. Jemarinya yang bergetar mengambil selinting tembakau dari balik mantel seragam. Api emas dia hadirkan melalui jentikan. Tetapi, kertas itu tidak terbakar. Dengan bodoh dipandanginya gulungan tembakau itu, hingga menyadari jika dia membakar sisi yang salah.

Gusar, dibuangnya benda itu dan melangkah ke dalam gedung.

Di tengah jalan, dia berpapasan dengan Keith. “Ada surat undangan dari Istana,” lelaki muda itu menaruh sepucuk surat ke dalam tangannya. Dipandangnya surat dengan kop lambang istana semesta itu, merasakan beratnya kertas yang sungguh tak seberapa. “Peringatan kematian Ratu Kesebelas, kode pakaian nila.”

“Aku tahu,” sahutnya sembari meneruskan langkah. Dari belakang, dapat didengarnya alas kaki Keith mengikuti. Dia membuka surat dalam sekali entakan. Mengeluarkan secarik kertas yang terlipat rapi di dalamnya. Kata demi kata tertulis dengan tinta biru tua, mengantarkan pintaan—atau perintah, lebih tepatnya, agar dia datang dalam peringatan hari kematian penguasa terdahulu, siang ini di istana.

“Tampaknya kamu sedang senang,” Keith berucap padanya ketika mereka menginjak lantai ke delapan. Dia menoleh ke balik bahu, melempar pandangan bertanya pada lelaki muda berkaca mata itu. Keith memberinya gestur ketidaktahuan. Namun, senyum terbit di wajah persegi itu. “Biasanya, kamu akan mengerutkan kening mendengar kata ‘istana’.”

Kali ini, dia mengerutkan kening. Berhenti di depan pintu ruang kerjanya, dia memandang si tangan kanan dengan ketelitian. “Memangnya aku terlihat bagaimana?”

“Senang,” sahut Keith ringan. “Seperti menemukan tujuan hidup baru.” Lelaki itu menjulurkan tangan melewatinya, mendorong daun pintu berukir serigala agar dia dapat masuk. Menerima itu, dia menyeberangi ruangan sembari bertanya-tanya. Melewati Keith, yang berhenti di ambang pintu dengan senyum gembira sekaligus miris.

“Jadi, siapa orang luar biasa itu, Ravine?”

Dia tidak menjawab, hanya berjalan menuju lemari mahoni yang bersebelahan dengan lemari buku. Membuka daun pintu, dipandangnya deretan seragam resmi untuk berbagai macam acara. Tanpa perlu berpikir, dia mengambil satu set seragam berwarna nila gelap yang tergantung dan membawanya ke meja kerja. “Keluarlah,” ucapnya pelan.

Hening. Langkah kaki menjauh. Debam pintu menutup. Dia menyandingkan seragam nila itu dengan surat yang diterimanya di atas meja. Refleks, tangannya meraih selinting tembakau dan membakar gulungan itu. Asap nikotin serta-merta menari di udara. Mundur selangkah, perempuan itu memandang dua benda yang menyajikan tanggung jawab di hadapannya, lalu mendongak. Langit semesta yang biasanya kelabu kini nampak cerah, seperti hatinya.

Semua ini karena tingkah laku Achten.

Mendesis, perempuan itu menyemburkan asap sarat nikotin ke udara. Inilah kenapa dia selalu ragu saat berhadapan dengan Achten Eire. Ada ketenangan menghanyutkan dalam diri lelaki muda itu. Ketenangan yang, jika dia biarkan, akan sanggup menyeretnya ke dalam jurang kemustahilan. Dan kemustahilan adalah satu dari sekian banyak hal yang tidak dia sukai.

Dia tidak suka ketidakberdayaan.

Perempuan itu menaruh lintingan tembakaunya ke dalam asbak kaca. Ujung jemarinya merambah kancing seragam, satu demi satu. Suara gemerisik kain menyusul tak lama kemudian. Perlahan, dilepaskannya seragam biru berlini perak itu. Membiarkan sepotong kain yang juga simbol kewajiban jatuh begitu saja di lantai.

Kali ini, dia menurunkan ritsleting celana kain hitamnya. Tanpa menunggu waktu, celana itu seketika merosot ke lantai. Membiarkan tubuhnya terekspos oleh hening serta cahaya surya perak. Kulit seputih pualam itu nampak pucat bagai kertas.

Ravine meraih satu set seragam yang tergeletak di atas meja, mengenakan tiap potong dengan kekhidmatan yang nyaris dia lupakan. Mulai dari celana kain hitam beraksen benang perak. Kemeja nila gelap dengan hiasan di bagian pundak dan lengan. Kancing-kancing emas itu bergemerincing seiring gerakannya. Perempuan itu kemudian mengenakan mantel panjang dengan hiasan bulu di pundak. Disusul sabuk yang bermula dari pundak kanan dan melingkari tubuhnya.

Sedetik dia terdiam. Menatap lencana berlambang serigala dan waktu dengan rantai emas yang amat dia kenali. Semesta saat ini relatif lebih tenang dibandingkan saat Ratu Kesebelas memerintah. Dan dia teramat sering melihat lencana itu tersemat di dada Farchen. Sekedipan mata kemudian, diambilnya lencana itu. Menyematkannya di dada sembari terseret nostalgi.

Suara Achten kembali bergema dalam benaknya. Kapan dan bagaimana, adiknya berucap. Menyergapnya dengan sensasi hangat yang membuat gamang. Perempuan itu mendesah. Meraih lintingan tembakaunya yang tinggal separuh. Sesapan nikotin akan selalu dia sambut dengan senang hati. Satu hisapan. Dua hisapan. Hisapan ketiga membakar gulungan tembakau itu hingga tak bersisa.

Dia melangkah keluar dari ruang kerjanya.

Keith rupanya menunggu tak jauh dari pintu ruangannya. Saat manik mata sebiru safir bertemu dengan cokelat muda, wajah persegi lelaki itu ternoda oleh bercak merah muda. Ditatapnya Keith, yang melepas kaca mata hanya untuk memasangnya lagi seperti orang bodoh. Dia mendengus, “Tatapanmu membuatku gusar,” ucapnya sembari menuruni tangga.

Lelaki muda berkaca mata itu mengikutinya dari belakang, “Yah, aku terpaksa jujur dan berkata kalau kamu tampak berbahaya sekaligus mengundang dalam seragam itu.”

Dapat mendengar rasa malu dalam nada si tangan kanan, perempuan itu kembali mendengus; merasa lebih baik kalau tidak membalas pancingan yang akan membuatnya memasuki percakapan menjijikkan. Dia menuruni tangga, melewati lantai demi lantai sembari membalas salam hormat dari pegawai Mabes Pertahanan yang berpapasan dengannya. “Ini hanya simbol,” gumamnya sebal saat lagi-lagi mendapat gestur hormat yang teramat sangat. Dari belakangnya, suara tawa tertahan Keith jelas terdengar.

Mencapai lantai terdasar, dia menoleh ke balik bahu. Pada Keith, yang masih menatapnya dengan cara menggelikan. “…Aku pergi,” ucapnya, pelan namun cukup jelas untuk didengar. Keith memberikannya senyum prihatin namun gembira. Menghela napas, dia melanjutkan langkah. Dia amat membenci perayaan.

Tetapi, sewaktu dia berada di bawah siraman cahaya mentari, Achten kembali berbisik padanya melalui bayangan. Ini adalah upacara peringatan, dia dapat mendengar Achten berbicara dengan nada lembut. Jangan lupakan simbol nestapa tanah suci ini.

Bagai dikomando, tubuhnya bergerak sendiri.

Dia menekan telapak tangan ke permukaan mantel yang halus, menyebar wewangian magis yang begitu manis sekaligus khas. Perempuan itu tersenyum samar. Terbayang adiknya yang akan memberikan kedipan mata setuju. Kini, dia sudah benar-benar siap.

Menjejakkan kaki pada anak tangga, dipandangnya kereta coppresia yang terparkir di ujung barisan prajurit jaga. Mereka semua memberi hormat kepadanya. Tidak mengindahkan hal tersebut, dia menuruni anak tangga depan. Berjalan langsung menuju kereta dengan kepala tegak. Bahkan, tak diacuhkannya ucapan hormat mereka. Dia membanting pintu kereta hingga menutup. Menyilangkan kaki dan bersedekap.

Kereta itu mulai bergerak.

Tembok pembatas yang melindungi Mabes Pertahanan berkelebat melewati jendela kereta. Dia hanya diam. Menikmati hening sementara pikirannya kembali sibuk oleh rencana. Jika Lyvia Mercier bersedia membantunya, maka dia akan mencuri tepat pada saat perayaan kelahiran sang Penguasa–delapan hari dari sekarang.

Para penjaga akan terlalu sibuk untuk menjaga ratu semesta. Erst Chevalien mereka saat ini pun, tidak akan bisa meninggalkan sisi ratu. Dan tidak ada yang akan mencurigainya. Jelas saja. Dia, Penjaga Semesta Astrola. Panglima Tertinggi yang menanggung hidup miliaran jiwa. Tidak akan ada yang bisa membayangkan hal tersebut.

Berkendara melewati pusat kota, dilihatnya pertunjukan di dekat air mancur telah selesai. Kini, seluruh penduduk Ruthesworth tengah dengan khidmat mengikuti upacara peringatan kematian Ratu Kesebelas. Warna nila menunjukkan dominasinya. Lantunan elegi hadir dalam bentuk belasan alat musik petik yang berkumandang menjadi satu. Semerbak manis yang begitu khas dapat dia endus dari dalam kereta. Bercampur dengan bau miliknya sendiri.

Pemandangan itu berkelebat pergi. Kereta yang dia naiki melaju dengan cepat. Jajaran pepohonan yang semakin melebat membuatnya merasa terisolasi. Terseret ke dalam dunia yang sama sekali lain, yang membuatnya terpikir hal yang amat penting.

Permasalahannya justru dimulai setelah itu.

Achten terang-terangan menyatakan akan membantu. Tetapi, perempuan itu tidak setuju. Dia ingin adiknya selamat, jauh dari pertumpahan darah yang pasti akan terjadi. Cukup dia yang menjadi bagian dari sejarah busuk keluarga Eire. Lagipula, keberhasilan rencana ini tergantung dari sejauh apa sang Sejarahwan akan membantu. Kalau pun dia gagal, biar dia saja yang menjadi persembahan bagi makhluk buas di Selat Hatapf.

Dia harus menemukan cara untuk merayu adiknya pergi dari semesta ini.

Istana Semesta bagaikan permata di tengah kegelapan. Langit kelabu yang cerah kini kembali suram. Dominasi nila gelap berubah menjadi kesedihan pekat yang begitu berat. Memandang melalui jendela, dia mendapati jajaran prajurit berbaris dari tembok pembatas hingga anak tangga depan Istana Semesta.

Kereta-kereta coppresia berjajar di pelataran parkir. Keretanya sendiri tengah berbaris di belakang dua kereta lain dengan lini keemasan, menunggu giliran. Sekali lihat, pun, dia dapat menyimpulkan bahwa kereta itu milik kepala keluarga lama semesta Astrola.

Perempuan itu membuka pintu sewaktu keretanya berhenti tepat di depan anak tangga depan Istana. Meloncat turun, dia segera disambut oleh salam hormat barisan prajurit Istana Semesta. Dia menaiki tangga, membiarkan jubahnya berada hanya beberapa senti di atas tanah. Segera dia disambut oleh pemandu istana, yang mempersilakannya menuju ruang takhta. Lorong dengan dinding berlapis emas itu menggemakan ketukan alas kakinya.

Langkahnya semakin memelan seiring dia mendekati ruang takhta sang Penguasa.

Di depan pintu lengkung berdaun ganda tersebut, lusinan petinggi semesta nampak berkumpul. Dengung obrolan seketika terdengar di udara. Sapaan-sapaan, percakapan, ucapan selamat hingga obrolan ringan remeh-temeh. Semua itu terdengar jelas olehnya, membuatnya sekejap ragu untuk bergabung.

Bukannya dia asosial, hanya saja dosanya sebagai Xsaverst Chevalien tidak akan pernah semudah itu untuk dilupakan. Hanya dia satu-satunya Ksatria Pertama yang mencoreng sumpah abadinya, lebih-lebih karena dia sendiri berasal dari keluarga yang memiliki sebuah prestasi.

Dan bernarlah. Saat mereka melihatnya, beberapa segera mengalihkan pandangan. Dia mendengus hambar lalu berjalan menuju sekumpulan petinggi yang mau menyapanya. Dalam sekejap, perempuan itu sudah terlibat dalam obrolan basa-basi tentang kesejahteraan Korrecia yang semakin menurun. Perbincangan itu terhenti oleh kedatangan salah satu kepala keluarga lama yang menepuk pundaknya.

“Avractar-ryv,” dia mengangguk hormat kepada lelaki tinggi semampai dalam balutan kemeja nila. Rambut sewarna tembaga serta kulit sawo matangnya nampak mencolok di antara warna kelam serta hiasan emas Istana.

Ravine mengenal baik lelaki itu. Gyo Avractar adalah satu dari sedikit orang yang membelanya sewaktu pengadilan berlangsung. Sebagai tambahan, hak suara keluarga Avractar paling banyak di antara keluarga lainnya. Karena lelaki itu lah, lehernya tidak terpenggal. Sampai kapanpun, dia berutang budi pada lelaki itu.

Lagi pula, anak lelaki itu adalah sahabatnya.

Gyo Avractar menyunggingkan senyum padanya. Kedua manik sewarna delima itu hangat oleh keakraban.“Senang bertemu denganmu, Ie Oufth kami. Tampaknya kamu semakin sehat, betul tidak, Oul?” lelaki itu menoleh ke arah Kepala Pengetahuan bertubuh gempal dengan wajah ceria, yang baru saja selesai berbicara dengan Ravine.

Yang diajak berbicara mengangguk-angguk sembari tersenyum sumingrah. “Kami, aku dan Gyo, sudah khawatir kalau-kalau kamu terpuruk, Nona Oufth. Bukan cuma kamu dipecat, kamu pun sedang berkabung pada saat itu.”

Dia menyunggingkan senyum seadanya, “Terima kasih atas perhatiannya, Erophia-ryv. Omong-omong,” dia kembali menoleh ke arah Gyo Avractar, “Avractar-ryv, apa anak Anda belum kembali?”

“Seperti yang kamu lihat, belum,” lelaki itu membalas senyumnya. “Susah juga, padahal saya lumayan rindu dengan anak tunggal saya itu. Tetapi, titah dewa tidak bisa dilanggar, bukan?”lelaki itu menoleh ke Kepala Pendidikan yang tengah terlibat obrolan dengan petinggi lainnya. Dia menyadari pandangan kepala keluarga Avractar itu dan secara intuisi mendekatkan diri. Gyo Avractar mencondongkan tubuhnya, “Nichte sebenarnya sudah kembali, tetapi dia luka parah.”

Dipandangnya lelaki itu lekat-lekat, meminta penjelasan. Gyo Avractar mencengkram lengannya kencang. “Nichte diberi mantra terlarang,” desis lelaki itu.

Mereka berdua bertukar pandang. Manik mata merah delima bertemu dengan biru safir dalam ketegangan. Dia terpaku. Mantra terlarang adalah mimpi buruk tiap exchiorthis. Kutukan yang mampu membuat kekuatan mereka porak-poranda. Dia bahkan hanya mengetahui hal itu dari buku-buku sejarah, karena yang sanggup menggunakannya hanyalah para dewa. “Bagaimana bisa?” ucapnya gusar. “Nichte menjalankan tugasnya dengan baik!”

“Pelankan suaramu!” geram Gyo Avractar sembari menoleh ke sekeliling. Saat tak ada yang memperhatikan mereka, lelaki itu kembali menoleh ke arahnya. “Jangan tanya padaku, Ravine. Anakku lebih banyak berkelana di Dunia Atas untuk mencari exchiorthis pengkhianat yang mencuri pusaka Penjaga Waktu. Yang kutahu, dia tiba-tiba pulang dengan luka yang tidak bisa disembuhkan. Aku sudah memanggil sang Penyembuh,” lelaki itu berucap dengan suara serak. “…Dan tidak ada perubahan apa-apa. Malahan, lukanya semakin parah. Bisa kamu bayangkan?”

Ravine mengetatkan rahang. Kepedihan lelaki itu menyulut amarahnya. “Anda tahu siapa yang memberikan mantra terlarang itu?”

“Nichte tidak memberitahuku,” sahut Nichte Avractar. Dentang lonceng berkumandang di udara, menghentikan percakapan mereka. Keduanya menoleh ke arah pintu berdaun ganda yang perlahan terbuka. “Seharusnya kamu sudah mengetahui ini, Oufth. Aku sudah meminta Mercier untuk memberitahumu.”

Kedua mata sebiru safir itu berkilat kelam, “Saya harus pergi,” sahut perempuan itu. “Hubungi saya jika Anda sudah mengetahui dewa apa yang memberikan kutukan itu kepada Nichte.”

Cengkraman di lengannya menghentikan perempuan itu. Dia menoleh, bersirobok pandang dengan manik mata semerah delima yang diselimuti oleh bingung, “Untuk apa, Ravine?”

Dia tidak bisa menjawab. Tidak mungkin. Maka, dengan segenap kegeramannya, dia menepis cengkraman Gyo Avractar. Membungkukkan badan dalam-dalam, perempuan itu memberi hormat kepada ayah dari sahabatnya lalu pergi menuju baris terdepan kerumunan sebelum amarahnya tumpah ruah. Meninggalkan lelaki yang kini nampak amat rapuh itu.

Berada di barisan terdepan, dia berdiri bersebelahan dengan Perdana Menteri, sejumlah kepala divisi serta sang Sejarahwan. Lyvia Mercier memberikannya pandangan bertanya, mungkin karena wajahnya yang teramat sangat kelam. Dia hanya merespon dengan gelengan. Apa yang akan dia katakan membutuhkan waktu khusus.

Berbaris berjajar delapan, kerumunan itu memasuki ruang takhta.

Bau semerbak seketika menyeruak ke dalam indra penciumannya. Begitu manis, hingga membuat mual. Dominasi warna nila kelam beriring perak serta emas, meredam sekaligus memantulkan cahaya surya sehingga ruangan panjang itu bermandikan sinar matahari. Langkah kaki puluhan orang teredam oleh karpet yang telah diganti. Gerumbul bunga berwarna putih kenilaan tersebar di seluruh penjuru lantai. Di antaranya, lonceng-lonceng kecil tergeletak. Bergemerincing sewaktu tersenggol oleh alas sepatu. Bagaikan elegi yang begitu samar sekaligus khidmat.

Pada takhtanya, sang Penguasa duduk. Terbalut dalam gaun nila gelap yang mencapai lantai. Leher jejang wanita itu berhias seuntai kalung permata. Rambut seputih mutiara milih perempuan itu tergerai hingga tumit.

Dentang lonceng kembali terdengar.

Dia berhenti. Mengikuti barisannya, semua kerumunan turut berhenti. Tanpa dikomando, mereka pun berlutut. Menundukkan kepala di depan sang Penguasa sejati.

Lantunan alat musik petik mulai terdengar. Halus. Menyayat-nyayat hati. Mengiringi berdirinya Do Mohrgaetcha dari takhta. Rapalan matra yang amat samar dari sang Penguasa terdengar. Istana Semesta bergetar seiring semakin naiknya lantunan nada. Mantra Ratu Semesta pun semakin kencang, diiringi gemuruh dari langit-langit. Perak surya makin lama makin menerang. Meluas. Tumpah-ruah bagai banjir tak berkesudahan. Dia memejamkan mata, menghalangi berkas cahaya yang begitu terang itu.

Gemuruh tak berkesudahan berhenti serentak dengan getar bumi. Dentang lonceng kembali terdengar. Sekali. Dua kali. Dia berdiri perlahan diikuti oleh seluruh orang. Memperhatikan sang Penguasa, yang berdiri di depan takhtanya, dengan kedua tangan terangkat ke atas kepala.

Energi keemasan pekat menyelimuti Do Mohrgaetcha mereka. Bagai kabut, selubung energi emas itu menyebar ke seluruh ruangan. Mengurung mereka dalam tabir emas. Dia menyipitkan mata. Tidak pernah, satu kalipun, dia menyukai proses yang teramat khidmat itu. Perayaan berkabung ini mengingatkannya akan nestapa perempuan itu sendiri. Membuat luka bakarnya berdenyut seirama detak jantung.

Tanpa mendongak, dia tahu. Surya tengah merekah dengan merdeka di titik tertingginya. Berkas cahaya keperakan jatuh bebas ke dalam ruangan. Atap yang menghalangi kini tak lagi nampak. Do Mohrgaetcha telah, dengan kuasanya, menelanjangi pusat tanah suci dari atap yang membuat mereka tak bisa bersatu dengan alam.

Kini, tak ada suara yang berani hadir. Senar alat-alat musik telah bergeming penuh khidmat. Helaan napas hanya samar-samar terdengar. Ruangan tersebut dipenuhi kesenyapan yang khidmat sekaligus mencekam.

Hingga dering rendah terdengar di kejauhan.

Begitu rendah, sampai-sampai tidak berbeda dengan suara angin. Namun, dia tahu; seluruh exchiorthis di tempat itu dapat merasakan kekuatan yang ada di balik dering tersebut. Itu adalah suara sang Permata Kehidupan yang memberikan pengabsahannya kepada Ratu Semesta untuk melakukan ritual. Dan suara itu mengandung energi yang teramat kuat; begitu kuat, hingga sanggup membuat bulu kuduknya berdiri, seperti saat ini.

Melalui ekor mata, dia memandang ke samping. Pada kuil megah berbalur emas serta perak. Hanya ada sebuah altar terbuka di kuil itu. Tempat pemujaan sang Penguasa kepada pencipta seluruh kehidupan—sang Permata. Dia memejamkan mata, menyerap aliran energi yang begitu menggebu-gebu.

Suara sang Penguasa kembali terdengar. Rapalan mantranya berkumandang hingga ke sudut-sudut terasing. Perlahan, langit menggelap. Sinar surya perak terhalang oleh tabir yang dinaikkan ke langit. Membuat pendar lima ratus dua puluh bulan, yang terbit dari garis cakrawala, nampak jelas di seantero semesta.

Malam menjelang dengan lebih cepat. Kegelapan menjatuhi mereka semua. Surya perak bagaikan tertelan, lenyap tak berbekas. Di bawah sinar lima ratus dua puluh bulan, kelopak-kelopak bunga yang tersebar di lantai tak ubahnya seperti lentera kecil.

“Mari kita mulai,” Do Mohrgaetcha berkata dengan suaranya yang halus. “Upacara peringatan kematian Ibunda kita yang telah tiada. Semua sudah tertakdirkan, mulai dari kebahagiaan hingga kesedihan.” Wanita itu berhenti, menatap langsung kepadanya. “Kematian bukanlah hal yang menakutkan pun memilukan. Semua itu adalah bagian dari takdir, seperti eksistensi setiap exchiorthis dalam ruangan ini.”

Petikan senar alat-alat musik kembali terdengar. Kali ini, nadanya menenangkan.

Sang Penguasa mengangkat mengangkat salah satu tangannya. Dia membuka mulut, ikut menyanyikan elegi sementara terus memandangi Do Mohrgaetcha yang mulai menari.

Venth res di ghrundlisline Oubscur, mye Drui, y soyl de errea Konntie valle oppust res. (Berikan mereka istirahat abadi, Penciptaku, dan biarkan cahaya pemberkatan menyinari jalan mereka)

E an outshine, mye Drui, ins Zier, y uttera hal ce pai oppust E ins Robbusth. (Kau yang kami puji, Penciptaku, dalam Surga, dan jerih payah kami bayarkan padamu dalam Neraka)

Tubuh Ratu Semesta melenggok luwes, menampilkan lekuknya yang sanggup membuat hati siapa pun bergetar. Di bawah cahaya ratusan bulan, tarian Ratu Semesta Astrola terlihat begitu indah, begitu murni, begitu suci; beriring nada-nada serta suara koor lusinan exchiorthis.

Loss mye vloa, oppust E le tos uttera comme. (Berkati doa kami, kepada-Mu kami semua kembali)

Venth res di ghrundlisline Oubscur, mye Drui, y soyl de errea Konntie valle oppust res. (Berikan mereka istirahat abadi, Penciptaku, dan biarkan cahaya pemberkatan menyinari jalan mereka)

Sang Penguasa berlutut. Menangkupkan kedua tangannya lalu menghamba. Senandung musik makin lama makin tertelan oleh deru angin serta dering yang kembali terdengar. Kabut emas di sekeliling mereka menipis dengan kecepatan rendah, lalu hilang, bersamaan dengan padamnya sinar kelima ratus dua puluh bulan satu persatu. Getar kembali merajam Istana Semesta. Menderukan geraman sementara mereka semua, termasuk dia, bergeming. Gemuruh sahut-menyahut di luar sana, mengiringi perak surya yang menampakkan kuasanya.

Saat seluruh getar itu terhenti, semua telah kembali seperti sedia kala. Sang Penguasa memandang mereka semua, terkecuali dia, kemudian tersenyum. Senyuman manis yang sanggup menggetarkan hati siapapun. “Jangan pernah lupakan pengorbanan mereka yang telah tiada,” wanita itu berbicara lembut. “Mari, menuju ruang makan. Jamuan telah dipersiapkan. Anda semua pasti kelelahan.”

***

Jamuan makan itu berlangsung hingga petang sungguh menjelang.

Sepanjang acara, dia lebih banyak diam. Mengamati arah pembicaraan sembari menunggu kapan sang Penguasa akan menyerangnya. Sekujur tubuhnya tegang dengan antisipasi. Tetapi, hingga jamuan itu selesai, Ratu Semesta Astrola sama sekali tidak memandang ke arahnya.

Saat acara selesai, sang Sejarahwan langsung menghampirinya. Dia berdiri dari kursi dan mengikuti pria paruh baya itu keluar dari ruangan.

Langit perak kini ternoda dengan semburat senja kehijau-hijauan. Desau angin menampar wajah perempuan itu. Membawa bau asin laut yang berasal jauh dari utara. Sang Sejarahwan berhenti sesaat di anak tangga teratas. Saat menoleh, keduanya saling bertukar pandangan serius. “Keretamu atau keretaku?”

Dia tidak menjawab, hanya memandu lelaki paruh baya itu menuju keretanya sendiri. Menuju keretanya yang berada di barisan terujung. Coppresia penarik kereta menyambut kedatangannya dengan menggoyangkan ekor perak mereka. Dia menjulurkan tangan, menarik pintu kereta hingga terbuka dan mempersilahkan sang Sejarahwan untuk memanjat naik terlebih dahulu.

Berada di dalam kereta yang mulai bergerak perlahan, perempuan itu segera memencet tombol interkom dan menggeramkan alamat tinggal Lyvia Mercier. Setelahnya, dia hanya bersedekap. Memandang metornya tanpa kata. Yang dipandang mengembuskan napas, “Ada yang ingin kau tanyakan, Ravine?”

Giliran perempuan itu yang mengembuskan napas, “Apa Anda tahu bahwa Nichte sudah pulang?”

Saat pria paruh baya itu hanya diam, Ravine mengepalkan kedua tangannya. Geram meraja lela di dalam diri, membakar darahnya dengan percik api kekejian. “Anda tidak memberi tahu saya,” lanjut perempuan itu dengan nada berbahaya. “Kenapa?”

“Aku belum sempat memberitahumu,” potong sang Sejarahwan dengan tajam. “Kau memintaku untuk menemukan pengirim surat sialan itu, dan aku sudah menemukannya. Lalu, kau tiba-tiba menghubungiku, hendak mencuri pusaka semesta. Kau pikir itu tidak membuatku pusing?”

Perempuan itu mengembuskan napas panjang kemudian diam. Laju kereta yang kencang membiaskan pendar kehijauan. Pantulan cahayanya menyinari kedua wajah yang kini muram.

Sang Sejarahwan berdeham kencang. “Oufth,” ujar lelaki itu dengan serius. “Aku memiliki kabar bagus untukmu. Sudah kutemukan siapa pengirim suratnya.”

Sesuatu dalam dirinya seakan terbangun. Perempuan itu menelengkan kepala, memandang mentornya dengan lekat, “Bagaimana Anda bisa menemukan hal itu?” tanyanya tenang.

“Tintanya,” sahut Lyvia Mercier dengan sedikit lebih bersemangat. “Aku tidak menyadarinya sewaktu pertama kali melihat surat itu, Oufth. Tetapi goresn tinta hitam pekat itu berkilau keemasan saat tak sengaja kutaruh di dekat bhostan.”

“Berkilau,” perempuan itu mengulangi dengan peuh tanya. “Aku tidak pernah mendengar tinta yang bisa berkilau, Mercier-ryv.”

“Itulah kenapa,” sahut sang Sejarahwan sembari merogoh saku mantelnya yang berwarna nila kelam. “Aku lalu bertanya ke rekanku yang berada di semesta lain. Surat balasannya baru datang pagi ini. Bacalah,” Tanpa menunggu jawabannya, pria paruh baya itu mengeluarkan secarik surat yang begitu bersih dengan stempel biru pucat di sudut teratas. Suara gemerisik kertas mengisi keheningan di udara, disusul deham dari sang Sejarahwan.

Ravine menerima surat yang diangsurkan kepadanya itu dan mengeluarkan lipatan surat yang berada di dalam amplop. Sepasang mata sebiru safir itu memincing saat membaca kata demi kata dari surat yang ditujukan kepada sang Sejarahwan.

Grine, Torvasik, 15 Isfinis 2986 Rovus

Kepada yang terhormat Lyvia Mercier,

Melalui surat ini saya kemukakan bukti konkrit untuk menjawab pertanyaan yang Anda ajukan tempo lalu. Anda bertanya apakah material ini kiranya pernah ditemukan di dunia makhluk ciptaan. Bahkan sejak pertama kali saya melihat tinta yang Anda berikan kepada saya, saya sudah mengetahui jawabannya. Dan sungguh bahagia saya mengetahui bahwa Anda telah mempertanyakan suatu hal yang sangat ingin saya ucapkan semenjak dahulu.

Saya sudah menyadari sejak lama jika para Penjaga Takdir tidak selalu diam dan mengawasi. Terkadang, mereka turun tangan untuk memastikan bahwa takdir berjalan ‘seperti yang seharusnya’. Pada sebagian besar kesempatan, usaha mereka berhasil. Tetapi, dewa bukanlah makhluk sempurna. Mereka bukan pencipta sesungguhnya, namun juga diciptakan. Karena itu mereka dapat membuat kesalahan.

Sejarah Dunia Bawah sesungguhnya saling berkaitan. Baik itu dari semesta saya, semesta Anda atau pun enam semesta lainnya. Pencipta kita semua adalah sang Kuasa, atau dia yang disebut sebagai Permata Kehidupan di semesta Anda. Dengan begitu, pada intinya dewa yang kita semua sembah adalah sama.

Dalam catatan sejarah semesta Elverlyth, dituliskan bahwa titah pertama dewa kepada penguasa semesta turun dalam bentuk segulung kertas yang ditulis dengan tinta bagai permata. Deskripsi yang sama dapat Anda temukan dalam sejarah semesta Tosvarik dan semesta Queville.

Catatan sejarah yang menjadi acuan berikutnya adalah catatan yang begitu kuno, hingga saya harus berhati-hati saat membuat salinannya. Berikut adalah kutipan dari sejarah semesta yang terlupakan, Roxshir:

‘Para Penjaga Takdir menurunkan titah mereka kepada kami, anak-anak semesta, melalui kitab yang dituliskan dengan tinta sekelam malam. Hanya saja, bahkan tanpa membaca sepatah kata dari sana, pun, kami sudah memahami perbedaan di antara dewa dan kami. Tiap tetes tinta itu menyajikan galaksi di dalamnya. Sesuatu yang tak mungkin ada dalam dunia kami. Keindahan mereka membutakan semua makhluk, menyadarkan kami bahwa mereka adalah sesuatu eksistensi yang lebih agung.’

Yang terhormat Lyvia Mercier, kata-kata dapat berbohong. Tetapi, fakta akan menemukan jalan keluar pada waktu yang tepat.

Semoga ini dapat menjawab pertanyaan Anda.

Ravine mengangkat pandangannya perlahan. Menatap mentornya dengan tatapan nanar. “Maksud Anda, pengirim surat ini…?”

“Yang jelas, bukan Les Dakkar,” tambah Lyvia Mercier sembari meminta kembali suratnya. Dia mengangsurkan kembali surat itu kepada sang Sejarahwan dan mendengarkan dengan lebih seksama, “Pertanyaan keduamu akan kujawab dengan hipotesis, Oufth. Kau bertanya tujuan dari surat ini, bukan? Sekarang, jika kita berpikir menggunakan logika, kira-kira untuk apa Les Dakkar mengirimkan surat ini kepadamu? Surat ini hanya memicu keinginanmu untuk mencari siapa pembunuh Farchen, dan jelas bukan itu yang dia inginkan.”

“Anda benar,” sahutnya tiba-tiba. “Dewa sialan itu pernah mendatangi saya hanya untuk membuat saya melupakan Farchen,” mengabaikan rasa terkejut yang melintas di kedua mata sang Sejarahwan, perempuan itu melanjutkan. “Saya juga tidak yakin jika ada dewa-dewa lain yang akan mengirimi saya surat tersebut. Surat itu seolah ingin saya merasa marah, seakan mencoba membuat saya mencari sebab kematian Farchen lalu membunuh Les Dakkar.”

Lyvia Mercier menopang dagu dengan kesepuluh jemarinya, “Jadi, ketujuh dewa dapat kita hapuskan dari daftar tersangka?”

Perempuan itu mengerutkan kening. Teringat sore hari di mana sosok misterius itu muncul di dalam kantornya. Selimut energi itu. Bau familiar itu. “…Tidak,” sahutnya setelah beberapa saat. “Saya rasa, bisa saja jika pengirim surat itu adalah dewa. Aliran energi saya dapat dirusak dengan mudah olehnya. Dan hanya dewa atau penghuni semesta lain yang dapat melakukan hal tersebut kepada saya. Tato ini,” pandangannya menjatuhi lingkaran sulur akar hitam yang membelit pergelangan tangan kanan perempuan itu. “Tidak berfungsi dengan baik. Saya tidak dapat mengeluarkan energi saya sepenuhnya.”

“Jadi, pengirim surat itu dewa?” Lyvia Mercier bertanya kembali. Dia mengendikkan bahu, memandang ke luar jendela; pada pemandangan kota yang didominasi warna merah menyala. Pepohonan berbatang merah dengan dedauanan merah. Sulur-sulur pohon melambai terkena tangan angin di antara pemukiman rendah dengan atap semerah bata. Provinsi Sventjeria Timur dipenuhi dengan lanskap yang indah. Hanya bulan, serta penduduk, yang diwarnai oleh spektrum lainnya.

“Saya tidak bisa memastikan—itu kediaman Anda, bukan?” tambahnya saat mereka mendekati sebuah manor yang berdiri di pinggir perkotaan. Manor itu cerah oleh bhostan serta semak-semak kemerahan. Lyvia Mercier memberinya anggukan. Dia menekan tombol interkom satu kali. Kereta melambat, menuju ke arah manor milik sang Sejarahwan. Gerbang besi sewarna tembaga itu bergetar terbuka seiring kereta mendekat. “Saya mampir?”

“Mampirlah. Aku masih harus menginterogasimu,” tegas sang Sejarahwan dengan gusar, membuat senyum samar terbit di wajah perempuan itu.

Fragmen Ketujuh: Rencana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s