Fragmen Ketujuh: Rencana

Kediaman Lyvia Mercier memberinya kesan yang menyenangkan.

Ravine mengikuti mentornya melewati lorong yang dipenuhi ornamen kemerahan serta emas. Furnitur besi antik peninggalan masa awal revolusi mesin dari Raitos nampak di mana-mana. Gemerincing lonceng penangkap angin mengiringi langkahnya sewaktu mereka memasuki ruang baca yang berada di lantai satu.

“Duduklah,” sang Sejarahwan menunjuk sebuah sofa berlapis kain beludru emas kepadanya.

Dia duduk. Menanti mentornya yang tengah mengambil sebuah asbak dari besi dengan ukiran serigala di sisinya. Perempuan itu kontan mengeluarkan sebungkus lintingan tembakau dan segera menyulut sebuah. Asap nikotin membumbung tinggi ke udara, meliuk-liuk dengan gemulai sementara dia bertukar tatap dengan sang Sejarahwan dalam diam. Berkas cahaya lima ratus dua puluh bulan terang menerobos melalui kerai jendela.

“Sekarang, Ravine,” Lyvia Mercier menopang dagunya dengan kesepuluh jemari, memandang perempuan itu, yang menelengkan kepala. “Kata-katamu semalam, dari mana kau bisa tahu itu?”

Senyum terbit dengan enggan di wajahnya. Dipandangnya pria paruh baya itu dengan kedua mata terpincing, “Saya kira dengan koneksi Anda, Anda sudah tahu,” sahutnya tenang. “Lagipula, itu adalah deduksi yang mudah mengingat saya dulu menjabat sebagai Erst Chevalien, benar?”

Lyvia Mercier memandangnya gusar. Wajah tergores usia itu dipenuhi dengan bercak merah jambu. “Padahal, aku sudah mmengirimkan paket-paketku dengan begitu hati-hati,” ujar pria paruh baya itu enggan. “Tidak ada yang mengetahui siapa pengirimnya, bahkan Ratu Terdahulu sekalipun.”

“Anda meremehkan penjagaan Istana Semesta,” sahutnya sembari tersenyum miring. “Jangan lupa, saya murid terbaik Anda.”

Lyvia Mercier memberinya dengusan gusar sembari mengangkat kedua tangan. Dia menyesap nikotin dengan tenang, menikmati tiap embusan napas yang bergulung-gulung dari mulutnya. “Karena pertanyaan Anda sudah saya jawab, kali ini giliran Anda, Mercier-ryv. Apa Anda bersedia membantu saya?”

“Mencuri Iganthias?” sahut sang Sejarahwan sangsi. Pria paruh baya itu mencondongkan wajahnya yang serius, “Oufth, kau paham kalau itu tindakan terorisme, bukan. Dan tidak hanya kau yang akan terkena imbasnya, tapi juga orang-orang yang kau kenal baik. Mereka, termasuk aku, akan diburu oleh segenap kekuatan semesta. Terutama adikmu. Dan untuk apa?”

“Untuk membunuh Les Dakkar,” sambarnya dingin. “Dan saya sudah mengetahui risiko tersebut. Achten akan baik-baik saja,” tambahnya ketika sang Sejarahwan kembali membuka mulut. “Saya sudah berbicara padanya,” kapan dan bagaimana. Perempuan itu memejamkan mata sesaat, mengusir suara adiknya yang bergema di alam pikiran. “Dan dia akan segera saya ungsikan ke semesta lain.”

“Portal sudah ditutup,” ujar sang Sejarahwan dengan nada serius. “Bagaimana kau akan mengungsikan adikmu, Oufth?”

Dia membuang abu tembakau ke dalam asbak besi, “Saya Penjaga Semesta Astrola,” tegasnya. “Saya bisa menemukan cara untuk hal tersebut.”

“…Kau Penjaga yang akan merusak semesta ini,” sahut Lyvia Mercier dingin sembari menggelengkan kepala. “Kau tahu sejarah Ratu Ketiga kita. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau kau membunuh seorang dewa dengan paksa. Kekacauan, Oufth!” nada pria paruh baya itu meninggi. “Kepuasan batinmu itu menjadi siksaan bagi exchiorthis yang tinggal di sini.”

“Lalu kenapa?” sambarnya sengit. Dipandangnya pria paruh baya itu tajam. “Saya akan bertanya. Apa yang Anda harapkan setelah menceritakan perihal Farchen sore itu?” sambarnya keras. “Anda pikir saya akan diam saja, menerima fakta dengan tenang lalu duduk manis bagai anak kecil? Anda munafik!” Kobar api di ujung lintingan tembakaunya membara. Kilat berbahaya melintas di kedua manik mata sebiru safir itu. Napasnya menderu dengan kemarahan yang semakin lama menggelak bagai lava panas. Begitu panas, hingga pandangannya kabur oleh pedih. “Anda munafik,” ulangnya keji. “Padahal Anda sendiri ingin membunuh dewa sialan itu.”

Dipandangnya sang Sejarahwan, yang menangkupkan kedua tangan pada wajah. Helaan napas putus asa terdengar dari pria paruh baya itu. Dia hanya diam. Menghancurkan lintingan tembakau yang sudah terbakar separuh ke dalam asbak. Mengusir sengatan air mata di kedua kelopaknya dengan ibu jari. Saat dia kembali berbicara, ketenangan sudah kembali terdengar dalam suaranya. “Mercier-ryv, apa Anda bersedia membantu saya mencuri pusaka semesta?”

Lagi-lagi pria paruh baya itu mendesah.

Sewaktu Lyvia Mercie memandangnya, dapat dia lihat kemilau kelam di kedua mata pria paruh baya itu. Hanya itu, namun melihatnya membuat dia sanggup tersenyum lebar. “Anda tidak perlu khawatir,” ujar Ravine dengan ketenangan yang sama. “Saya tidak akan menuntut macam-macam dari Anda. Cukup kesediaan Anda untuk membantu rencana ssaya, tidak lebih dan tidak kurang. Kalau pun setelah itu Anda hendak bergabung dengan pasukan semesta dan mengejar saya, silakan.”

Dia mengendikkan bahu sewaktu terdengar kuak protes dari Lyvia Mercier. “Saya tahu Anda masih ingin hidup tenang di semesta ini, Sejarahwan,” pungkasnya dengan nada formal. “Dan Anda memang harus tinggal,” dia melanjutkan sembari memperhatikan pria paruh baya itu dengan teliti. Melihat guratan kelelahan serta nestapa yang bercampur-baur di permukaannya. “Karena hanya Anda yang dapat menolong anak dari orang yang sesungguhnya Anda cintai itu. Lagipula, tujuan kita dari awal sudah berbeda. Anda ingin menyelamatkan semesta ini dari kesalahkaprahan sang Penjaga Semesta. Tujuan mulia, tidak seperti saya.”

“Oufth,” Lyvia Mercier angkat bicara, namun akhirnya diam. Pria paruh baya itu menutup matanya dengan punggung tangan. Helaan napasnya terdengar berat dan terputus-putus, seakan tengah berusaha menahan pilu yang tak berkesudahan.

Perempuan itu berdeham, “Sekarang, mari kita bahas rencana saya. Anda memiliki denah Istana?” diperhatikannya sang Sejarahwan berdiri dengan cepat dan terburu-buru mencari benda yang dia minta dari lemari buku. Hanya saja, pedih milik pria paruh baya itu tak luput dari perhatiannya.

Dia tahu apa yang pria itu rasakan, karena dia pernah merasakannya. Tetapi, memahami tidak sama dengan mengetahui tindakan apa yang harus dia lakukan. Perempuan itu bergeming. Mengalihkan tatapan dari pemandangan menyedihkan di hadapannya. Dia terlalu paham nestapa itu—kehilangan orang yang berharga. Bagaimana pun, pedih itu, lah, yang membuatnya sampai berada di titik ini.

Sang Sejarahwan kembali dengan segulung kertas tebal berwarna keabu-abuan. Dia sendiri mengeluarkan secarik kertas yang sudah dia persiapkan semenjak petang kemarin dari sakunya serta selinting tembakau lain. Asap tembakau seketika memenuhi udara sewaktu sang Sejarahwan menggelar peta itu di antara mereka berdua.

Perempuan itu mengerutkan kening, “Tanda apa ini?” tanyanya sembari menunjuk coretan dari tinta merah terang pada tempat-tempat tertentu di denah tersebut. Didengarnya Lyvia Mercier membersihkan kerongkongan gugup. Perempuan itu mendengus hambar, “Ini jalur Anda untuk bertemu dengan Ratu Kesebelas?”

“Yah, kadang aku harus bertemu dengannya,” sahut pria paruh baya itu tanpa memandangnya.

Dia menaikkan sebelah alis, memandang sang Sejarahwan, yang tiba-tiba begitu sibuk dengan denah Istana. “…Begitu,” gumamnya, menyembunyikan rasa geli.

“Aku tidak melakukan hal konyol,” sahut sang Sejarahwan tiba-tiba. Keseriusan dalam suara pria itu membuatnya mendongakkan kepala hingga tatapan mereka bersirobok. Dingin sebiru safir itu bertemu dengan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi. “Yakinlah, aku tidak mungkin melakukan perbuatan yang tidak pantas kepada Ratu Terdahulu. Memandang tidak bisa dikatakan….”

Sang Sejarahwan terdiam sewaktu dia mendengus pelan. “Anda tidak perlu membela diri,” ujarnya geli. “Saya tidak berpikir apa-apa. Jadi,” lanjutnya dengan nada seolah tidak terjadi apa-apa. “Dapat saya lihat Anda sudah berhasil menemukan kelemahan dari sistem penjagaan yang saya bangun. Menara barat,” dia menunjuk titik merah di kirinya. “Taman utara memang saya beri penjagaan sedikit karena permintaan Ratu Terdahulu, walau saya tidak begitu yakin mengapa. Lalu lorong yang mengarah ke aula pengabsahan….”

“Lorong itu juga menuju ke ruang penyimpanan pusaka semesta, ya,” sambung sang Sejarahwan dengan tenang. “Aku tidak tahu motifmu melakukan itu, Oufth. Tapi, hal itu bisa kumengerti karena memang tidak semua orang dapat diterima oleh Iganthias. Lagipula, kurasa pedang itu memiliki proteksinya sendiri?”

Dia mengangguk.

“Lalu apa yang kau rencanakan untuk menembus proteksi Iganthias?” Lyvia Mercier bertanya padanya dengan penasaran. “Kau tahu, pedang itu diciptakan oleh An Jwel Na Botcha. Kekuatannya tak terbayangkan. Menggunakan cara paksa tentunya sudah kau buang jauh-jauh.”

Dia bersedekap. Memandang denah besar abu-abu dengan tatapan nyalang. “Saya rasa,” perempuan itu memulai lirih. “Saya hanya akan bertindak apa adanya.”

Dilihatnya Lyvia Mercier menepuk dahi keras-keras. “Ravine, sifatmu yang satu itu rupanya tidak berubah juga,” komentar pria paruh baya itu kesal. “Ini bukan ujian praktik di mana kau bisa mengandalkan keberuntungan, kau tahu. Ini rencana gila-gilaan yang kau bangun untuk melawan dewa. Kau gila kalau mempercayakan hal itu kepada keberuntungan saja.”

Dia menelengkan kepala, “Bukan itu maksud saya, Mercier-ryv,” balasnya dingin. “Saya sudah menyiapkan beberapa rencana untuk menembus proteksi Iganthias, tetapi saya belum bisa menentukannya dengan pasti. Insting saya akan memilih rencana mana yang paling mungkin untuk dilakukan ketika saya berhadapan langsung dengan situasinya. Tolong jangan samakan saya dengan murid Anda satu lagi yang selalu mengandalkan keberuntungan itu.”

“Maksudmu Farchen?” sang Sejarahwan mengembuskan napas panjang. “Farchen tidak mengandalkan keberuntungan, atau apa pun yang kau katakan tadi itu. Dia—“

“Bukan Farchen, Mercier-ryv. Yang saya maksud itu adik sialan saya,” potongnya datar. “Anda tahu sendiri adik saya itu seperti apa, toh Anda yang mengajarinya menjadi kimiawan sampai saat ini.”

Entah sudah berapa kali dia melihat pria paruh baya itu menghela napas petang ini. Didengarnya Lyvia Mercier menggumamkan sejumlah kata yang mengutuk lini keluarga Eire. Tidak mau ambil pusing, dia hanya mengendikkan kepala sewaktu sang Sejarahwan memelototinya, menyesap nikotin seakan pembicaraan ini tidak baru saja berubah menjadi percakapan penuh keanehan hanya dalam kurun waktu beberapa detik. “Kembali lagi ke rencana saya, saya rasa saya sanggup menangani proteksi Iganthias. Yang saya butuhkan hanya satu, Mercier-ryv. Saya butuh orang untuk membantu saya membuka portal ke Haven Nostrarie.”

“Lalu, kenapa kau butuh bantuanku?” Lyvia Mercier menyahutinya dengan gusar, “Kalau kau butuh penghubung, gunakan saja salah satu anak buahmu.”

“Tidak bisa,” sambarnya cepat. “Para penghubung bekerja di bawah pengabsahan saya. Mereka akan dengan mudah dideteksi oleh Penjaga Takdir dan mereka bisa diburu. Anda Sejarahwan, bekerja langsung di bawah komando sang Permata dan menerima pengabsahan penuh. Apa pun yang Anda lakukan tidak akan terdeteksi oleh Les Dakkar. Lagipula, saya tidak nyaman melibatkan exchiorthis yang tidak bisa saya percaya ke dalam rencana ini.”

Lyvia Mercier mendelik padanya. “Baiklah, Oufth. Aku akan membantumu. Di mana aku harus membuka portal? Oh ya,” pria itu menghentikannya, “Kau belum memberitahuku kapan.”

“Saat ulang tahun Ratu,” sahutnya kalem. Perempuan itu menyesap tembakaunya kembali, mengabaikan makian yang serta-merta keluar dari mulut sang Sejarahwan. “Ya, itu hanya berjarak tiga hari lagi. Saya paham itu, Mercier-ryv. Anda tidak perlu mengingatkannya kepada saya.”

“Kau memang sudah gila, Oufth,” sahut sang Sejarahwan lemas. “Dan kau menyeretku ke dalam kegilaanmu itu. Astaga….”

“Tiga hari lagi, tepat pada perayaan ulang tahun Ratu Keduabelas,” lanjutnya, tak mengindahkan kekalutan sang Sejarahwan. “Saat perayaan itu saya harus berada di barisan paling depan, Mercier-ryv, dan harus memiliki alasan yang tepat sehingga saya bisa pergi tanpa dicurigai. Saya akan memasang tipu muslihat,” tambahnya sembari memandang pria paruh baya itu. “…Yang kemudian akan memicu kekacauan. Sebutlah, ada beberapa tahanan penjara semesta yang lepas atau apa.”

Dipandangnya pria paruh baya itu lekat. “Apa, Oufth? Jangan bilang kau meminta bantuanku,” sembut sang Sejarahwan sebal.

“Tidak, tentu saja,” sahutnya. “Esok petang saya akan menanamkan peledak magis untuk mematikan sistem keamanan di Penjara Semesta. Hanya saja, saya butuh seorang pengawas. Hanya untuk mengawasi, tidak lebih dan tidak kurang. Saya tidak ingin ketahuan sebelum saatnya.”

Pria paruh baya itu kembali mendesah. “Baiklah, akan kubantu kau. Dasar murid bedebah,” sang Sejarahwan mengusap wajahnya berkali-kali dengan lelah, “Saat aku mengajarimu di akademi, tak pernah kubayangkan kau akan menyeretku ke dalam rencana terkutuk ini, Ravine.”

Dia hanya tersenyum tipis. “Terima kasih,” sambungnya lalu berdiri dan membungkukkan badan dalam-dalam. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan. Perwujudan dari rasa terima kasih sekaligus permintaan maaf. “Saya sungguh-sungguh berterima kasih.”

Lyvia Mercier memberinya senyum pedih, “Tak usah berterima kasih, Ravine,” pria paruh baya itu ikut berdiri dari sofa. “Kau, Farchen serta Achten adalah murid kesayanganku. Kalian tidak hanya kuat, tetapi juga exchiorthis yang menyenangkan. Setidaknya, aku bisa hidup sembari mengenang kewarasanmu di tengah dunia yang gila ini.”

Dia kembali membungkuk. Lalu pergi dari hadapan mentornya dengan hati yang semakin terbebani.

Kembali berada di dalam keretanya, perempuan itu memejamkan mata. Kelelahan ini tidak hanya karena perayaan sang Penguasa, tetapi juga beban berat yang menjadi semakin berat saat dihadapkan dengan kepiluan nyata mentornya. Bagaimana pun, bagi perempuan itu, Lyvia Mercier tak ubahnya seperti seorang ayah. Terlebih, pada masa dia melarikan diri dari rumah. Hanya pria paruh baya itu yang rela untuk tetap bersikap hangat kepadanya—selain Achten.

Teringat Achten, dia kembali terpikir kejadian pagi ini. Rasa hangat serta-merta menjalari wajahnya. Mengembuskan napas panjang, dia membuka mata dan memandang langit-langit kereta yang dilapisi beludru biru.

Achten, batinnya berucap dengan khidmat. Dia mendesis frustrasi. Mengapa dia bertingkah seperti ini, di tengah upayanya untuk membalas dendam atas kematian sang kekasih? Kelam malam di semesta Astrola seakan berusaha menyeretnya ke dalam jurang nostalgi. Jauh sebelum dia bertemu dengan Farchen Ignitie. Jauh sebelum dia mengenyam pendidikan di Akademi Nerine. Jauh ke masa kecilnya. Sewaktu dunia masih penuh dengan spektrum warna-warni. Saat dia masih dapat tertawa tanpa beban. Bahkan, kata sinis pun tak dapat dimengerti olehnya. Jauh, ketika dia masih naif.

Ketika hidupnya hanya berisi dia dan adiknya itu.

Dia masih dapat mengecapnya; kebahagiaan polos anak kecil tersebut. Berlari di antara semak-semak. Bermain lintasan energi di atas dedaunan. Achten adalah partner satu-satunya yang dia miliki, kala itu. Senyum adiknya yang begitu menawan, entah sejak kapan, memenjarakan hatinya. Membuat perempuan itu menyesap perasaan yang sama sekali lain. Kala dia masih kecil, jantungnya kerap berdebar oleh sekilas pandangan dari Achten. Adiknya itu begitu rupawan; amat rupawan, sampai-sampai dia melakukan sesatu yang seharusnya tidak dia lakukan.

Dan itulah detik-detik kejatuhannya.

Mungkin itu jugalah yang membuat ibunya amat tidak menyukai keberadaan perempuan itu bersama Achten. Dan dia merasakan hal itu dengan amat gamblang. Perlakuan berbeda dari seorang ibu, disusul ayahnya, membuat dia amat tertekan. Belum lagi kegilaan ayahnya atas rasa hormat. Pada akhirnya, dia memilih untuk masuk ke akademi. Semata untuk menghindari adiknya.

Dia tidak lagi dapat mempercayai dirinya sendiri.

Mengingat itu, membuatnya merasa hina luar biasa. Kakak macam apa dia, sampai-sampai menodai adiknya sendiri. Dia membuang pandangan ke luar jendela, pada pemandangan bibir pantai yang amat dia kenal. Jalanan yang mulai  berbatu menambah guncangan kereta. Dia menegakkan duduknya, memandangi lima ratus dua puluh bulan di langit yang mulai condong ke selatan. Cahaya semua bulan membias terang di atas permukaan air laut yang tenang. Samar, didengarnya kuak oclafa. Hewan malam bersayap itu Nampak melintas di langit dalam kelompok. Membelah berkas cahaya warna-warni yang memandikan tanah suci.

Malam-malam seperti ini mengingatkannya akan Farchen. Pria bersenyum miring yang menawan itu selalu hadir secara tiba-tiba di hadapannya, bahkan sebelum dia menjabat sebagai Ksatria Pertama. Hanya pria itu yang sanggup membuatnya merasakan ketenangan. Kalau saja Farchen masih hidup, dia pasti tidak akan pernah merasakan kekalutan ini.

Keretanya berhenti tak lama kemudian. Tepat di depan kabinnya yang nampak sekali kosong melompong. Dia memanjat turun dari kereta secekatan yang dia bisa. Menarik napas dalam-dalam, perempuan itu melangkahkan kaki menuju kediamannya, yang sudah terang oleh pendar bhostan.

Pintu depan kabinnya terbuka sebelum perempuan itu mencapai pintu. Achten menyembulkan kepala dari balik daun pintu, dengan rambut sehitam jelaganya yang terlihat berantakan. Kedua mata sebiru daun itu terang oleh rasa semangat. “Hai, kak,” sapa lelaki muda itu dengan cengiran lebar.

Denyut menyakitkan merambah hatinya. Dipandangnya si adik dari atas ke bawah, memperhatikan senyum lelaki itu yang, entah bagaimana, sanggup menggetarkan hatinya. Mengerang dalam hati, Ravine menghampiri adiknya yang sudah membuka pintu lebar-lebar. “Aku pulang,” ucapnya lirih. Semerbak bunga berkabung yang manis serta-merta menyeruak ke dalam indera penciumannya. Perempuan itu memejamkan mata, menyesap kemanisan yang memilukan itu.

Sentuhan Achten di wajahnya membuat dia terkesiap.

Dia seketika membuka mata, memandang nanar ke arah adiknya dengan rasa panas merambati wajah. “Apa,” sentaknya dengan suara serak.

Achten memerdengarkan tawa dan berusaha membantunya membuka mantel, yang dia tampik dengan rikuh. Tawa lelaki itu makin kencang saat melihatnya melepas mantel dengan gugup. Dia hanya bisa mendelik ke arah adiknya, yang lebih dulu masuk ke ruang dalam diiringi derit kayu dari lantai. “Rencanaku sudah matang,” ujar perempuan itu saat memasuki dapur.

Adiknya menoleh dengan kedua mata yang makin berbinar, “Kapan?” tanya lelaki muda itu sembari mengambil sebuah cangkir dan seteko air yang masih mengepul. Diperhatikannya Achten, yang kini menuangkan segumpal teh kering ke dalam teko. Membuat air panas itu berubah warna menjadi kebiruan.

Dia menarik sebuah kursi kayu dari dekat meja makan dan duduk lalu menghela napas panjang. Ditunggunya Achten selesai dengan kegiatan itu dan membawa cangkir berisi teh yang panas mengepul. Sewaktu adiknya menyodorkan cangkir itu kepadanya, dia hanya bergeming. “…Aku tak ingin melibatkanmu,” ujarnya lamat-lamat. Achten memberinya tatapan datar, membuat perempuan itu kontan bersedekap. “Tidak, Achten. Kau adikku. Aku tidak akan membuatmu menjadi buronan semesta.”

Lelaki muda bermanik sebiru daun itu menghela napas kasar. “Aku bukan anak kecil yang harus kakak lindungi,” ujar Achten dengan nada dingin.

“Tidak bisa,” sambarnya dongkol. “Kau mau mengakhiri lini keluarga kita atau bagaimana?”

“Memangnya penting?” sahut Achten tenang. “Kakak kira, keluarga kita masih bisa diampuni kalau kakak menjadi pfallah? Kakak masih waras, kan?”

Dia menggerutu pelan. Kalah telak. Dipandangnya ruang makan yang remang-remang oleh cahaya bhostan. Di kejauhan, suara oclafa bercampur baur dengan deru angin pantai. Asap teh itu diresapinya perlahan, sebelum memutuskan untuk membakar selinting tembakau. Diliriknya Achten, yang memandanginya dengan begitu lekat. “Apa?” tanyanya, menyemburkan bulatan asap sarat nikotin ke udara.

“Kakak nggak mau pakai pipa?” lelaki itu balik bertanya sembari menelengkan kepala.

Dia mendengus, menggelengkan kepala pelan dan memperdengarkan tawa, “Sakit jiwa,” komentarnya dalam gumaman. “Aku sedang berusaha merayumu untuk pergi dari semesta ini dan kau malah memintaku untuk memakai pipa.”

“Menyesap tembakau tidak ada bedanya dengan tindakan bunuh diri, jadi, apa bedanya?” Achten memberinya gestur tak peduli. “Omong-omong, buatku kakak memang cocok pakai pipa, jadi,” diperhatikannya lelaki muda itu, yang beranjak dari kursi dan merebut lintingan tembakaunya. Dia baru saja hendak memprotes ketika Achten mematikan pijar bara dan merogoh sepotong kayu hitam dari saku celana. Bara energi keperakan seketika menyelimuti lelaki itu. Menyalur dari punggung menuju ke telapak tangannya. Mulut Achten komat-kamit dalam gumaman. Dia tahu apa yang adiknya hendak lakukan; membuat pipa untuknya.

Dan benarlah. Dering rendah seketika memenuhi ruangan. Mencapai telinganya bersamaan dengan semerbak tajam sekaligus menggoda. Perempuan itu menyipitkan mata, memandangi adiknya yang tengah menjalankan ritual kimiawiah. Perlahan, bentuk potongan kayu tersebut berubah. Tidak lagi solid, namun menjadi cairan hitam kelam yang terbungkus energi perak.

Dia mengangkat sebelah alis. Dering itu telah berhenti, hanya meninggalkan bau tajam samar di udara. Achten baru saja selesai menjalankan ritual kimia dan kini menyodorkan sebatang pipa yang sudah berisi tembakau dari lintingan miliknya. Pipa itu polos, hanya terhias lini perak semata. “Itu saja?” tanyanya sembari menerima pipa yang diangsurkan kepadanya. Diliriknya bagian dalam pipa itu dan menemukan ukiran-ukiran samar pada sisi ceruknya. Tanpa sadar, perempuan itu menyeringai. Ornamen kobaran api serta sebilah pedang. Simbol yang dahulu merupakan kebanggaannya serta Achten.

Adiknya memberi perempuan itu sebuah senyum simpul. Ravine menjentikkan jari. Kobaran emas seketika menyelimuti jari telunjuknya. Terang bara api itu menyinari mereka berdua, berlatar pemandangan malam semesta dari balik jendela-jendela kaca. Perempuan itu menyisipkan ujung pipa ke dalam mulutnya dan mulai memanaskan tembakau. Isapan demi isapan membawa rasa yang menyenangkan ke rongga mulutnya sementara dia membiarkan api mencium permukaan tembakau di dalam pipa.

Achten memandanginya lekat. Dia menaikkan alis ke arah adiknya, memberi pertanyaan dalam bisu. Senyum di wajah lelaki itu kontan mengembang, “Apa?” tanyanya, di antara sedotan tembakau dengan aroma yang memabukkan.

“Rasanya seperti apa?” tanya adiknya sembari mencondongkan badan ke arahnya. Dia memperhatikan Achten mengendus asap di udara dengan ekspresi yang sulit dipahami. Hanya saja, ekspresi lelaki muda itu memberinya getaran yang meluluhlantakkan logikanya.

Entah makhluk apa yang mendatanginya. Begitu sadar, Ravine telah melepaskan pipanya dan bertanya ke Achten di antara liuk asap sarat nikotin serta keremangan malam, “Mau coba?”

Binar di kedua mata sebiru daun itu menggelap.

Achten tersenyum tipis. Menatapnya lekat-lekat sebelum perlahan menghilangkan jarak di antara mereka berdua. Dia hanya sanggup menatap Achten tanpa henti. Lelaki muda itu telah berhasil merusak pertahanan yang selama ini dia bangun. Membuat instingnya meronta-ronta sekuat tenaga hingga, tanpa sadar, dia mencondongkan badan ke arah lelaki itu. Menerima deru napasnya dengan kepasrahan. Menyisakan hangat asing yang memanaskan darahnya dengan perlahan-lahan.

Achten menurunkan pandangan. Seakan menggerayangi wajahnya dengan tangan tak kasat mata. Membuat napasnya tercekat di kerongkongan. “Kapan,” adiknya berbisik dengan suara berat sekaligus serak. “…dan bagaimana, kak?”

Sekujur tubuhnya lemas. Otaknya macet. Perempuan itu tidak bisa mempertahankan kewarasannya lebih lama lagi. Sebelum dia sanggup mencegah, Ravine mendengar dirinya sudah berbicara dengan suara gemetar. “Tiga hari lagi….” manik mata biru itu menghipnotisnya. Pancaran mata itu menghangat oleh sesatu yang tidak dia ketahui. Menggodanya terang-terangan. “Aku akan mencuri pusaka semesta. Lyvia Mercier yang akan mengalihkan perhatian penduduk di acara itu. Kau… kau harus pergi,” serak itu tak tertahan lagi. Achten telah berhasil memporak-porandakan pertahanannya. Membuatnya mau tak mau berhadapan dengan kesedihan yang selama ini dia simpan rapat-rapat. “Kau harus pergi,” ulang perempuan itu dengan napas berat. Kilasan kematian Farchen berkelebat dalam benaknya. Dia memejamkan mata, menarik napas dengan kasar lalu kembali berbicara. “Aku tidak ingin kau mati.”

Cengkraman Achten pada dagunya begitu lembut. Dia membiarkan adiknya membuatnya mendongak lebih jauh. Gesekan kulit di antara mereka berdua menenangkan perempuan itu. Perlahan, dia membuka matanya yang basah. Menatap ke dalam ketenangan bagai semilir angin yang ditawarkan adiknya. “Biarkan aku membantu, kak,” lelaki muda itu berujar perlahan. “Aku tidak akan mati semudah itu.”

Dirasakan kecup perlahan mendarat di pipinya. Ravine memejamkan mata. Memaknai kecupan singkat itu dengan sepenuh yang dia sanggup. Saat perempuan itu kembali membuka mata, Achten telah menarik diri darinya. Tetapi, senyum lelaki muda itu masih tetap bertahan. Begitu pula sentuhan tangannya. Hanya sedetik, sebelum senyum lembut itu berubah menjadi lengkungan jenaka. “Terima kasih atas infonya, kak,” ujar Achten dengan nada santai sembari mengedipkan mata. “Sekarang, aku tahu siapa yang harus kuhubungi. Omong-omong, jangan lupakan tehnya. Kalau sudah dingin, rasanya berubah,” lelaki muda itu mengelus wajahnya. Membiarkannya tercenung bodoh saat pemahaman menghantam perempuan itu. “Selamat malam, kak. Istirahatlah.”

Ravine hanya sanggup memandang Achten, yang melenggang ke dalam kamarnya, dengan mulut separuh terbuka. Saat suara dentang besi penanda kunci kamar dipasang, wajah perempuan itu tak lebih merah daripada darah. “Sialan!” dia meremas pipa di tangannya dengan ekspresi keruh. Perempuan itu bangkit dari kursinya, melangkah lebar-lebar menuju pintu kamar Achten yang hanya berjarak beberapa langkah saja. Digedornya daun pintu kayu itu keras-keras, tak mempedulikan gelegar tawa dari dalam ruangan. “Achten!” dia berseru dongkol. “Buka pintu ini, atau kuhancurkan!”

Tawa adiknya semakin kencang. “Hancurkan saja, kak. Tapi, dana perbaikannya jangan dari kantongku, ya!” Achten menyahut dari balik pintu dengan geli. Dia menggeram. Kesal. Sebal. Dongkol. Bisa-bisanya dia jatuh ke dalam tipuan Achten semudah itu.

Ravine mengembuskan napas kasar, “Buka atau kuhancurkan, Achten,” semburnya tajam. Nada itu seharusnya sanggup membuat siapa saja seketika menurutinya. Seharusnya. Sayang, Achten sudah terlalu kebal karena perempuan itu hanya mendengar gelak tawa yang semakin menggelegar. Mengerutkan kening jengkel, dia mengepalkan tangan kirinya, “Kau yang minta, Achten,” dia berseru. Mundur selangkah, perempuan itu mengangkat kepalan kirinya dan membidik daun pintu.

“Kak, aku sedang ganti baju!” sahut adiknya sembari terbahak.

Dia mengerutkan kening, berpikir sejenak. “Persetan,” gumam perempuan itu akhirnya. Secepat kilat dia menghantamkan tinju ke daun pintu tak bersalah itu. Debam tertahan membelah langit malam.

Di antara kepulan serat kayu, Achten nampak.

Berkas cahaya lima ratus dua puluh bulan saling beradu menembus kerai jendela sewarna tulang. Membias di atas pemukaan kulit yang menampakkan lekuk otot samar. Achten berdiri di dalam ruangan. Bertelanjang dada dan memandang kepadanya dengan senyum miring. Saat dia bergeming tanpa kata, lelaki muda itu membuka mulut, “Suka sama yang kakak liat?”

Ravine mendengus, tetapi wajahnya merah padam. “Aku sudah biasa melihat itu,” sahutnya dengan nada sebiasa mungkin. Mengabaikan gelak tawa serta desir darah yang membara, pikiran perempuan itu berputar cepat. “Omong-omong, kau sudah tahu kalau Nichte sudah pulang?”

Achten menaikkan kedua alisnya dengan gaya lucu, “Oh, kak Nichte sudah pulang?” lelaki muda itu membeo.

Dia kembali mendengus, membiarkan tegangnya mengalir dan lepas dari dalam tubuh, “Ada yang menanam mantra terlarang padanya. Setelah ini, aku akan ke kediaman Avractar. Kau ikut?”

“Tentu,” adiknya menyahut serta merta. “Tapi, aku mau pakai baju dulu, kecuali kakak ingin menontonku seperti ini.”

“Pakai bajumu,” setuju Ravine dengan sebal. “Aku juga akan mengganti seragam sialan ini. Waktumu 10 menit, Achten.” Dengan ucapan itu, dia berjalan pergi dari kamar adiknya menuju kamarnya sendiri dengan langkah cepat. Saat pintu kamarnya berdebam tertutup, perempuan itu menangkupkan tangan di wajah dan mengembuskan napas panjang.

Dia tidak bisa seperti ini. Terus-terusan merasakan getaran yang tidak seharusnya dia rasakan. Terlebih, pada adik kandungnya sendiri. Perempuan itu memijat pelipisnya yang berdenyut mengesalkan. Hanya saja, debar jantungnya masih bertalu-talu di dalam dada. Dihantamkannya telapak tangan ke dahi. Berusaha mengusir sekelebat perasaan yang sanggup membuat dinding pertahanannya kembali runtuh.

Dia tidak boleh seperti ini.

Perempuan itu menggelengkan kepalanya. Mengusir segala macam emosi yang berkecamuk dalam benaknya. Dia harus mengingat tujuannya. Farchen. Farchen. “Farchen,” Ravine bergumam lirih. Berulang-ulang. Hingga dapat dirasakannya kewarasan perempuan itu kembali seperti sedia kala.

Mengembuskan napas kasar, dia memilih bersiap-siap. Sembari berjanji pada diri sendiri untuk lebih berhati-hati kepada pesona adiknya.

 

Maka dari itu dia diam saja.

Dalam perjalanan mereka menuju kediaman keluarga Avractar yang berada di Frealyth Selatan, Ravine lebih banyak diam sembari bersedekap. Matanya terpancang kepada lima ratus dua puluh bulan yang semakin bertambah seiring larutnya malam. Kini, dia yakin jika bulan-bulan itu sudah mencapai jumlah enam ratus lebih. Bukan hal yang mengherankan, mengingat ulang tahun Ratu Semesta hanya berjarak tiga hari dari sekarang. Jumlah bulan itu akan terus bertambah hingga mencapai angka seribu.

Dan tepat di bawah seribu bulan, dia akan memporak-porandakan tatanan semesta ini.

Perempuan itu tersenyum miris. Benar kata sang Sejarahwan petang tadi. Dia mungkin akan menjadi Ie Oufth pertama dan terakhir yang malah menghancurkan semesta, yang seharusnya dia lindungi. Bukan berarti itu adalah sebuah masalah baginya.

Menanggapi diamnya, Achten tampak tenang-tenang saja. Lelaki muda itu juga tengah memandang ke luar jendela, pada lanskap langit hitam kelam yang diterangi cahaya rembulan-rembulan serta bhostan di pemukiman. Beberapa warung serta toko penyedia minuman nampak masih buka, menunjukkan aktivitas malam Frealyth. Dia memandang Achten, yang entah mengapa malah tersenyum samar melihat pemandangan di luar kereta. Kedua alis perempuan itu bertaut.

Mendadak, dia ingin memecah keheningan ini. Mempertanyakan pemandangan apa yang dilihat Achten sampai-sampai lelaki muda itu tersenyum. Tetapi, tekad yang dia teguhkan di kamar tadi terancam goyah jika dia membuka mulut.

Jadi, dia bungkam sepenuhnya. Hingga kediaman keluarga Avractar terlihat dari balik kaca kereta. Ravine turun langsung saat kereta yang mereka naiki sampai di depan tangga. Dianggukkannya kepala, menyapa penjaga kediaman yang sudah hafal dengannya.

Gyo Avractar sendiri yang menyambut kedatangan mereka berdua. Pria dengan kulit sawo matang itu mengusir pelayan-pelayannya dan membawa mereka berdua menyusuri salah satu lorong. “Lewat sini,” ujar kepala keluarga Avractar itu, menampakkan raut penuh terima kasih padanya serta mengangguk senang kepada Achten. Mereka terus berjalan di lorong yang cukup panjang dengan hiasan tirai emas serta lukisan-lukisan, hingga pintu berdaun kayu kehijauan nampak di sudut pandang.

“Nichte ada di sini?” tanya Ravine sembari mengamati sekelilingnya. Kamar itu cukup terpencil, terletak di sayap paling timur dari bangunan utama. Hanya ada sebuah kamar di sana, selain itu kosong. Kepala keluarga Avractar mengangguk pelan dan membuka pintu, mempersilakan mereka berdua masuk.

Dia menjejakkan kaki ke dalam kamar. Bau anyir darah seketika menyeruak ke dalam indera penciumannya, membuat perempuan itu mengernyitkan hidung. Saat dia dan Achten sudah berada di dalam ruangan, kepala keluarga Avractar menutup pintu dengan perlahan.

Kamar itu gelap.

Bhostan yang berada di atas nakas adalah bhostan terkecil yang pernah dilihat Ravine. Perempuan itu menyipitkan mata, membiasakan diri dengan keremangan yang ada. Samar-samar, dia dapat melihat siluet dipan yang tertutup oleh kelambu di sudut ruangan. Mengamati lebih jauh, dia dapat merasakan hatinya melesak. Kamar itu begitu minim peralatan, bahkan alat kebersihan pun tidak ada.

Dia berdecak kesal. Achten mencengkram lengannya, membuat perempuan itu menoleh. Sejenak mereka bertukar tatapan hingga adiknya menggelengkan kepala. Perempuan itu mengerutkan kening, namun setuju. Saat ini, yang paling penting adalah menilik keadaan Nichte.

Mereka berdua mendekati dipan dengan langkah tanpa suara. Samar-samar, dapat didengarnya helaan napas berat di antara desau angin dari ventilasi. Perempuan itu maju, menyingkapkan kerai dengan sebelah tangan. Dan terkejut.

Apa yang dilihatnya tidak pernah dia bayangkan. Terbaring di atas dipan, seonggok tubuh yang tak lagi membentuk tubuh manusia. Putih perban mendominasi bercak merah gelap yang menodai seprei kelabu. Tubuh itu telah kehilangan sebelah lengan sampai siku. Apa yang seharusnya menjadi dada, bergerak naik turun dengan lemah dan dipenuhi tonjolan tulang.

Dia seketika berlutut di samping dipan. Napasnya tertahan oleh geretakan rahang. Ravine memandang tubuh sahabatnya dengan nanar. Ketenangannya nyaris hancur, kalau saja Achten tidak mencengkram pundaknya. Perempuan itu menghela napas panjang. Sedetik. Dua detik. Mengembalikan logikanya yang sempat retak tak karuan dan menepis cengkeraman Achten perlahan. Dipandangnya wajah tampan sahabatnya dengan miris. Hanya kemilau manik semerah delima lemah yang terlihat di antara helaian rambut bagaikan tembaga yang tengah dikotori darah. “Apa yang memberikan mantra terlarang padamu, Nichte?” ucapnya pelan, namun tegas.

Sahabatnya mengangkat sebelah tangan pelan ke udara, memunculkan gumpalan energi emas lemah yang kemudian membentuk tiga buah diagram mantra di udara. Ketiga diagram itu bersatu, bersinergi dan mengubah bentuk menjadi kata-kata dalam huruf Astrolea.

Kau sedang jadi apa, Rav, penyidik?

Dia memberikan sahabatnya pandangan sinis, “Sempat-sempatnya kau bercanda dalam situasimu.” Kilau mata itu memberitahunya bahwa Nichte Avractar juga tengah tertawa. “Apa, atau siapa, jawab sajalah!”

Kata-kata di udara itu mengabur sejenak sebelum kembali menjelas: Kau mau apa, tolol?

“Mencekik, menguliti, mencabik, memutilasi, kau pilih saja,” sahut Ravine. Perempuan itu melempar pandangan jengkel ke balik bahu, pada adiknya yang baru saja mendengus geli. Achten memberinya pandangan polos yang segera dia abaikan. Mengembalikan perhatian pada Nichte, dia kembali bertanya. “Jadi?”

Kau nggak bakal bisa. Kontrakmu.

 

Bagaikan  sambaran tombak di ulu hati.

Ravine dapat merasakan kegelapan. Menelannya.  Terbahak bersama nestapa yang ada dalam dirinya. Perempuan itu mencengkeram pinggiran  dipan pelan, tak ingin menambahkan sakit bagi sahabatnya. “…Bertahan sampai kubunuh dewa sialan itu. Sumpahku padamu, Nichte,” ucapnya penuh bara tekad, yang menyala di kedua manik safir. “Kau sanggup?”

Pandangannya bersirobok dengan kemilau delima yang lemah namun tanpa getar. Dia terdiam. Teringat masa mereka sama-sama berada di medan kekacauan sebagai duoxtrees. Usaha mereka. Sokongan yang diberikan lelaki itu padanya. Dia mengepalkan tangan geram. Tidak mungkin dia tidak membunuh sang Penjaga Takdir kalau begini caranya.

Tanpa kata, dia mundur dari sisi dipan. Dibungkukkannya badan, memberi salam hormat kepada lelaki yang telah menjadi sahabat terbaiknya semenjak di diangkat sebagai duoxtrees. Gulungan pilu yang semenjak tadi sekuat tenaga mencekik kerongkongannya tanpa ampun hancur di depan amarah serta dendam.

Dia melihat Nichte menghapus diagram sihir di udara dan melambaikan tangan kepadanya. Perempuan itu membalikkan badan, menggamit adiknya pergi dari sana.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Fragmen Ketujuh: Rencana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s