Kekelaman sang Sedap Malam

Berlatar seribu bulan yang mengitari langit, lantunan elegi tengah mengotori udara dengan kepedihan pekat. Kelamnya malam amat terasa di bawah pendar cahaya kejingga-jinggaan yang begitu fana. Begitu remang-remang. Mengaburkan pandangan. Akan dia, yang bergeming. Padanya, yang terdiam. Di balik tumpukan tanah yang menggunung, berhiaskan nisan hitam kelam. Nama itu menerang. Seolah mencoba menyadarkannya dari alam …

Iklan

Asing

Dia mengaku lelah. Tetapi senyum masih mengambang di wajahnya. Dia mengaku lelah. Tetapi, pikirannya masih berpacu dengan sangat cepat. Menghadirkan asa dan nestapa secara silih berganti, di antara semburan kehijau-hijauan dan asap sarat nikotin. Dendang lagu menggelitik telinganya, membuatnya tanpa sadar ikut bernyanyi sementara dentum musik pilu itu dia ilhami sebagai elegi. Menahan sakit yang …