Kekelaman sang Sedap Malam

Berlatar seribu bulan yang mengitari langit, lantunan elegi tengah mengotori udara dengan kepedihan pekat. Kelamnya malam amat terasa di bawah pendar cahaya kejingga-jinggaan yang begitu fana. Begitu remang-remang. Mengaburkan pandangan. Akan dia, yang bergeming. Padanya, yang terdiam. Di balik tumpukan tanah yang menggunung, berhiaskan nisan hitam kelam. Nama itu menerang. Seolah mencoba menyadarkannya dari alam …

Setelahnya?

Kamu mengirimkan pesan kepadaku, mempertanyakan pernyataan yang pernah kukeluarkan suatu kala, pada saat asap emosi begitu sarat di udara. Kalimat yang kukeluarkan kala eksistensimu hadir terlalu jauh sementara garis pembatas berwarna merah itu sudah menyala teramat terang. Kamu mempertanyakan maksud dari pernyataanku itu.  Hubungan kita dimulai dari ketidaksengajaan. Ceroboh, kata saudariku, kamu bisa saja merusak …